Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 24 Misi Berhasil


__ADS_3

Di sore hari yang indah, matahari tampak belum membenamkan dirinya. Peserta "KUIS TIDAK CERDAS DAN TIDAK CERMAT" tampak sedang menikmati nasi padang berbungkus coklat dengan lauk rendang ala Uda Nino.


"Uwenak, ya," seloroh salah seorang peserta, sambil memakannya dengan tangan sesuai petunjuk teknis dari Uda Nino agar menghormati budaya leluhur ranah Minang. Tidak tampak satu orang pun yang sedang berpangku tangan tanpa nasi padang di genggaman. Emma tersenyum puas, sambil harap-harap cemas, semoga saja Vita berhasil melaksanakan misi dengan tuntas.


"Lagi rame ngapain nih, Pak?" tanya seorang pria muda yang sedang menggendong tas ransel, sepertinya seorang mahasiswa.


"Ada acara, Dek. Mau ikutan? Ayok.. ayok... " jawab panitia yang berjaga di meja pendaftaran di area depan.


"Boleh deh,"


"Namanya siapa?,"


"Ryan,"


"Okeh. Ini nomor peserta, dicantolin yak di sakunya," ujar panitia sambil menyerahkan kertas bernomor dengan peniti besar di belakangnya.


Ryan-- tuan muda RCTV yang ditugaskan ayahnya untuk memantau lapangan-- rupanya ikut menikmati kuis yang dibawakan oleh Emma, adik kelasnya. Ryan tak sengaja melihat sosok Emma di panggung, ia pun mendekat untuk memastikan penglihatannya, rupanya benar. Ryan sangat senang bisa bertemu kembali dengan Emma.


......................


"Nah, sepi nih," gumam Vita yang sedang mendekat ke arah posko. Ia berjalan dengan pelan agar tak terlihat mencurigakan. Vita berpura-pura mengambil selebaran "TOLAK K-GROUP" lalu pelan-pelan mendekat ke kantor sekretariat yang ada di dalam kontainer rakitan.



"Yes, nggak ada orang," ujar Vita girang. Ia lantas menyusup ke dalam kantor sekretariat dan mencari sesuatu yang dapat membuktikan massa bayaran dari Pak Toni agar dapat diungkap ke media saingan RCTV.


Vita mencari dengan cepat. Matanya tertuju pada laptop yang ada di atas meja. Dengan sigap, ia membuka kode kunci, dan menyalin isi komputer tersebut ke dalam flashdisk-nya. Vita lalu melihat ada buku catatan kecil dan juga kartu kredit yang ada di laci teratas. Ia pun mengambil barang bukti tersebut dan memasukkan ke dalam kantongnya.


"Done!"


Vita lantas keluar dari kantor tersebut dan segera berlari ke arah panggung, namun, nahas, ada seseorang yang berdiri di hadapannya dengan garang.


"SEDANG APA KAMU??!!!" teriaknya dengan amarah yang memuncak.


"Eh. Pa--ak Toni. Saya.. Saya.... " Vita sedang mencari alasan dalam otaknya. "Saya mau ngajak ikutan kuis, mau, Pak?"


"Ya?" tanya Pak Toni melunak.

__ADS_1


"Itu! Ada panggung gembira, ayo, Pak. Ikutan yuk! Dapat hadiah duit, loh... " ajak Vita kali ini dengan berani.


Pak Toni tampak mempertimbangkannya. Namun, tentu tak lama, karena ada iming-iming berupa harta.


"Oke! Gas!"


Pak Toni akhirnya berjalan bersama Vita menuju ke panggung gembira. Vita mengatur napasnya agar tak kembang-kempis akibat sport jantung tiba-tiba. Ia begitu kaget ketika Pak Toni mendadak muncul dari gang kantor sekretariat. Untung saja Pak Toni tak melihatnya ketika masuk ke dalam sana, bisa-bisa, gagal semua misinya.


......................


"Yak!! Yuk kita lanjut ke sesi berikutnya!" Teriak Emma dari atas panggung. Waktu menunjukkan pukul 5 sore, sebentar lagi, azan magrib berkumandang. Emma akan melanjutkan sesi ini secara cepat dan taktis, karena rencananya sudah terlaksana semua.


Vita kembali ke area panggung bersama dengan Pak Toni. Ia melemparkan kode pada Emma yang sedang memandu acara selanjutnya. Emma menangkap kode itu dan melirik ke arah Jaya, agar segera mengurus sisanya.


Kuis masih berlangsung dengan meriah. Vita bersama Valdi, anak karang taruna yang jago coding, sedang mengekstrak informasi yang mereka dapat dari kantor sekretariat.


Pak Toni tampak joget-joget di atas panggung sambil disawer oleh Emma. Kali ini, kuisnya berupa gerak dan lagu, lima juta rupiah akan dibagikan secara bertahap pada tiap peserta. Ryan juga tampak tampil di acara, dan langsung dikenali oleh Emma. Mereka tampak serasi bersama, ketika sedang dansa.


Vita dan Valdi berhasil mendapatkan informasi lewat data-data yang mereka ambil dari kantor sekretariat.


"Kartunya terdaftar atas nama Willy Sudrajat, pas gue cari, ternyata karyawan di PT. Hains Construction, saingannya K-Group," ucap Valdi dengan cekatan, sambil terus mencari sambungan kasus ini dari analisis kecerdasan buatan.


"Nih!" Valdi menunjukkan potret kebersamaan Presdir Hains Construction dengan presdir RCTV di sebuah hotel. Ia mendapatkannya dari jejak log dark web yang sudah dimusnahkan. Jika tanpa sistem dari komputernya, tentu data itu tak bisa diakses. Valdi memang hacker kebanggaan kampung Sinar Bersemi.


"Thanks, Val! Nanti pasti gue bakal membalas budi. Sekarang, tinggal kontakin aja ah media di insta. Bikin heboh tuh.. Haha..Tamat lo, Pak Toni!" desis Vita dengan senyum yang mengerikan.


Valdi hanya geleng-geleng kepala melihat kelicikan Vita, namun, hal itu juga yang membuatnya jatuh cinta padanya, meski sepihak.


......................


"Yak.. Dan acara terakhir hari ini... Mari, semua, perhatian layar proyektor yang ada di belakang saya," teriak Emma dengan suara yang sudah serak. Sepertinya, ia harus segera menyudahi acara panggungnya.


JENG JENG JENG


Musik pembuka mengalun dengan mendebarkan. Para massa serasa sedang menonton layar tancep dadakan.


__ADS_1


Terdengar suara narator yang mengiringi slideshow foto-foto yang ditampilkan di layar.





Ucap si narator sambil menampilkan catatan transaksi pembayaran massa per hari via absensi.



Tut.


Layar proyektor kembali putih seperti sedia kala.


Terjadi kehebohan di luar nalar yang merebak di area panggung gembira.


"Dasar anak-anak sialan!!!"


Pak Toni menghambur ke arah panitia yang menyetel tayangan video tersebut dengan murka, beberapa pemuda tampak dipukuli olehnya, namun, pemuda lain tentu saja melawan balik. Terjadi kericuhan yang tak terhindarkan.


"Emma! Emma! Sini!!!" teriak Vita dari selatan panggung yang memanggil-manggil temannya. Emma yang terkejut dan mematung, langsung sadar dan beranjak ke tempat Vita. Mereka lalu berlari menjauhi kericuhan yang sedang terjadi. Pak RT tampak sibuk menelepon petugas keamanan agar melerai warganya, namun sayang, belum sempat tersambung, ia sudah pingsan terkena hantaman bogem preman.


"Kejar cewek tadi!!!" teriak Pak Toni dengan garang.


"Siap, Bos!!" jawab anak buahnya dan segera mencari keberadaan Emma dan Vita yang menjadi biang keladi kegagalan rencana Pak Toni.


"Hosh!! Hoshh!!" Ayo Emma! Cepet!!" teriak Vita dengan langkah panjang. Emma mengejarnya dengan susah payah.


"Ih.. Ya... Sah.. Bar... Hosh! Hosh!"


......................


...Sempat kekejar nggak ya? ...


...Tunggu besok ya... ...

__ADS_1


...Bonus visual Lukas yang gak muncul-muncul. ...



__ADS_2