
ZRAASSH...
Akhirnya, saat yang ditunggu-tunggu tiba. Pada malam yang gelap dan hujan deras, Anthony mulai menemukan sedikit celah. Para penjaga penjara terlihat sibuk dengan kekacauan akibat kebocoran langit-langit yang mengakibatkan genangan air yang cukup besar. Anthony dan Jaka yang sedang mengamati tindak-tanduk para penjaga, dengan sigap memulai aksi pelarian mereka.
"Siap?" tanya Anthony sebagai aba-aba. Jaka mengangguk, dan mulai melepaskan pengait pada celananya.
Dengan penuh keberanian dan kecepatan, mereka mencoba membuka pintu jeruji menggunakan peniti besar yang tersembunyi di balik celana Jaka. Pria itu terbiasa menyesuaikan celananya dengan peniti daripada menjahitnya dengan benar, entah untuk alasan apa. Namun, hal itu memberi mereka kesempatan karena menemukan alat tajam yang diperlukan untuk membuka gembok dengan sedikit keahlian.
Ceklak!
"Berhasil," bisik Anthony pada Jaka. Jaka mengangguk dan mulai mengikuti Anthony yang sedang merayap keluar dari sel. Setelah berhasil melewati rintangan sederhana, Anthony dan Jaka sekarang harus menghindari penjaga yang berpatroli untuk mencapai pintu keluar di ujung lorong yang gelap.
Beruntung, penjaga yang berpatroli sedang sibuk mondar-mandir untuk membersihkan lantai yang mulai tergenang. Perhatian mereka terpecah akibat kebocoran yang terjadi, sehingga, mereka tidak terlalu memperhatikan para tahanan.
Hal ini menjadi keberuntungan bagi Anthony dan Jaka untuk mulai berlari menyusuri terowongan gelap yang menghubungkan penjara bawah tanah dengan gorong-gorong kota yang entah bermuara ke mana. Bau busuk dan kelembaban tinggi menyelimuti udara di sekitar mereka, namun, Anthony dan Jaka tidak terlalu mempedulikannya. Pada akhirnya, mereka sampai di pintu masuk penjara yang terbuat dari besi baja yang sangat kokoh.
Dengan napas terengah-engah, Anthony mencoba membuka pintu besi tersebut dengan pengetahuan dan keahlian yang ia miliki. Anthony memang seorang residivis yang sering keluar-masuk penjara dengan beragam tuntutan. Di saja, ia banyak berkenalan dan berbagi informasi soal pelarian, namun, belum pernah dipraktikkan, karena Anthony tidak memiliki cukup nyali untuk hal itu.
Namun, kali ini berbeda. Disekap dalam penjara yang tidak resmi, membuat harga dirinya terinjak-injak. Anthony akhirnya mulai dapat mempraktikkan kemampuannya yang dipelari selama ini dari sesama tahanan. Siapa yang menduga? Ternyata, pengetahuan tersebut memang membuahkan hasil.
GRADAK.
Pintu besi itu terbuka.
__ADS_1
Anthony dan Jaka mulai meneruskan pelarian mereka, untuk keluar dari zona penjara milik Lukas tersebut. Mereka mulai bergerak, menyusuri terowongan-terowongan lain yang memiliki banyak cabang di pertengahan rute palarian. Tanpa banyak berpikir, Anthony memilih salah satu cabang, dan mulai menggegas langkahnya untuk menuju ke salah satu muara yang mengarah ke luar, meski tujuannya pastinya belum diketahui.
"Cepat!" bisik Anthony dengan suara rendah, berusaha menghindari kebisingan yang bisa membuat mereka tertangkap.
Meskipun mereka menyadari bahwa pelarian ini hanya langkah awal dalam rencana Anthony yang lebih besar, setidaknya mereka sudah mendekati tujuan awal.
Di dalam kegelapan yang mencekam, Anthony dan Jaka merasakan detak jantung mereka berpacu dengan cepat. Setiap hembusan napas terasa berat di tengah penjara yang penuh dengan ancaman. Berbeda dengan Anthony yang terbiasa melarikan diri, Jaka merasa sangat gugup karena ini adalah pengalaman pertamanya. Namun, ia tetap mempertahankan tekadnya dan mengikuti Anthony dengan patuh.
"Cepat! Kita harus keluar dari sini sebelum mereka menangkap kita!" bisik Anthony dengan nada tegas, menarik perhatian Jaka yang tengah dihantui oleh pikiran negatif.
Jaka tampak tersentak dengan dorongan penuh semangat dari Anthony. Dia bisa melihat kilau keberanian dalam matanya, menyala terang di tengah kegelapan. Api semangat Anthony menyala di dalam hati rapuh milik Jaka, membangkitkan kesadaran bahwa hanya dengan melakukan pelarian ini, ia dapat merasakan kembali kehidupan bebasnya yang selama ini ia cari.
Namun, titik keraguan masih menghantui pikiran Jaka. "Bagaimana jika mereka berhasil mengejar kita, Anthony? Kita tidak bisa terus melarikan diri selamanya!" desis Jaka dengan suara yang sedikit bergetar.
Jaka terdiam, menyadari bahwa ia telah terjebak dalam pelarian ini tanpa jalan kembali. Jaka menepis pikiran negatifnya dan memilih untuk tetap mengikuti langkah Anthony yang semakin menjauh darinya. Nafas Jaka tersengal-sengal, tubuhnya terasa lelah, tetapi dorongan kuat untuk mencapai kebebasan mendorongnya untuk terus bergerak. Setiap langkahnya memancarkan rasa sakit dan ketakutan yang melingkupi pikirannya, namun ia melepaskan diri dari belenggu tersebut untuk mencapai cahaya dan udara segar yang sudah lama tidak ia rasakan.
"Hosh... Hosh... Hosh..." Napas Jaka semakin berat, keringat mengalir deras, dan kakinya melangkah semakin lebar, membawa dirinya menuju kebebasan yang diidam-idamkan.
Jaka dan Anthony terus berlari dan berlari, melewati lorong-lorong gelap yang menghubungkan penjara tersebut dengan sistem gorong-gorong yang ada di tengah kota. Setiap detik berharga, setiap hembusan napas adalah tanda keberanian mereka. Keadaan sekItar yang semakin suram dan membingungkan tidak menyurutkan tekad mereka. Langkah mereka melambat, tatkala menemui genangan air yang cukup dalam, akibat masuknya air hujan yang semakin lebat dari arah luar.
"Hati-hati," pesan Anthony pada Jaka ketika mulai menyusuri genangan air tersebut. Anthony memimpin langkah untuk melawan arus agar sampai pada hulu gorong-gorong. Dengan begitu, mereka akan dengan mudah mendapati jalan keluar yang mereka inginkan.
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya, mereka melihat cahaya samar yang memancar, tak jauh dari tempat mereka berdiri. Kemungkinan, itu adalah ujung gorong-gorong yang sejak tadi mereka cari. Anthony dan Jaka merasakan harapan yang membara di dalam hati mereka. Dengan tenaga terakhir yang tersisa, mereka segera mempercepat langkah untuk menuju ke arah cahaya tersebut.
__ADS_1
"Ayo! Cepat! Kita hampir sampai!" pekik Anthony kali ini dengan bunyi suara yang tidak ditahan-tahan.
"Ihh... yaahhh!" jawab Jaka dengan langkah yang terputus, nafasnya sudah sangat berat, namun, tubuh gempalnya sudah cukup lumayan untuk menahan intensitas tinggi dari pelarian saat ini.
Anthony dan Jaka melanjutkan perjalanan mereka melalui terowongan yang gelap dan tergenang itu dengan langkah yang cukup cepat. Tanpa disangka, tiba-tiba, terdengar suara riak air yang berkecipak cukup keras dari arah belakang. Suara itu membuyarkan suasana kegembiraan di antara keduanya.
"Anthony! Para penjaga sedang mengejar kira!" pekik Jaka keras, Anthony tentu mendengarkan suara kejaran di belakang mereka. Ia menggegas langkah, begitu pula Jaka.
"Cepat! Kita tidak boleh tertangkap!" seru Anthony sambil berlari, meski terhalang oleh arus air yang cukup besar.
Jaka mengikuti langkahnya, ia juga kini berlari, dan menembus arus untuk sampai ke ujung gorong-gorong yang sudah hampir tampak.
"Berhenti!!!!" teriak para penjaga dengan langkah kaki yang semakin dekat. Namun, Anthony dan Jaka tentu tidak menghiraukan teriakan mereka.
Langkah kaki Anthony dan Jaka semakin cepat, berikut degup jantung mereka yang sudah hampir melompat keluar. Adrenalin yang terpompa penuh tampak merajai tubuh mereka. Dalam keadaan yang terdesak, Anthony dan Jaka berlari semakin cepat, namun tiba-tiba, cahaya di depan mereka hilang. Air yang tergenang sudah tidak memiliki arus. Katup gorong-gorong, tampak tertutup sempurna, diiringi ejekan yang terdengar dari arah depan dengan suara yang tak terdengar asing bsgi mereka.
"Kembalilah. Usaha kalian sudah sia-sia,"
...****************...
...Bersambung...
__ADS_1