Istriku Masih Perawan

Istriku Masih Perawan
Bab 52 Bertemu Dokter Androgini


__ADS_3

Keesokan paginya, Emma terkejut ketika ia merasakan sebuah benda keras di balik punggungnya. Tanpa sadar, ia memeluk benda tersebut dengan erat. Saat memeriksa, Emma menemukan dua bantal yang terlihat aneh. Bantal-bantal itu cukup menonjol dan terasa lembab. Emma juga mencium aroma musk yang tidak biasa. "Astaga! Suamiku! Kapan kamu pulang?" tanya Emma dengan terkejut. Ternyata, dua bantal itu adalah dada Lukas. Emma merasa kaget karena ia merasa tidur sendirian semalam. Lukas juga tidak memberitahu kapan ia akan pulang, jadi Emma memutuskan untuk tidur lebih dulu.


"Istri... Apakah kau sudah bangun? Aku baru saja pulang. Hoahm...." ucap Lukas yang terlihat masih mengantuk. Emma melirik sejenak, kemudian ia kembali merebahkan dirinya di tempat tidur. "Baiklah, tidurlah lagi. Kau pasti lembur semalam," kata Emma sambil mengelus rambut Lukas dengan lembut agar ia bisa kembali terlelap.


"Oh ya, aku lupa. Sayang, kita memiliki janji dengan dokter androgini besok siang. Pastikan jadwalmu kosong ya..." bisik Emma agar Lukas tidak terkejut.


"Baiklah, sayang. Akan kususun jadwalnya," jawab Lukas sebelum kembali terlelap.


Emma terpesona saat memandangi wajah suaminya yang sedang terlelap, terlihat begitu tenang dan damai. "Seperti seorang bayi," gumamnya dengan kagum. Emma tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya dengan lembut sebelum memulai hari di kampus. Ciuman itu adalah bentuk cinta dan harapan yang ia curahkan pada Lukas, sebagai tanda bahwa ia selalu ada untuknya dalam setiap langkah yang mereka hadapi. Dengan hati yang penuh kasih sayang, Emma meninggalkan Lukas dalam tidurnya. "Aku pergi dulu," pamitnya lembut, kemudian beranjak dari tempat tidur mereka.


......................


...Keesokan Harinya...


...[****Klinik Be Sexy and Healthy****]...


Lukas dan Emma tiba di Klinik Be Sexy and Healthy yang terkenal itu. Dalam ruang tunggu yang sunyi, kecemasan tiba-tiba menyeruak dalam diri Lukas. Kursi yang ia tempati terasa seperti kursi eksekusi yang menentukan nasibnya ke depan. Lukas memegang erat tangan Emma, mencoba mencari ketenangan dalam kehadirannya yang setia. Namun, jalinan jarinya yang teguh menandakan kegelisahan yang tak bisa disembunyikan. Matanya berkeliling ruangan, mencari kepastian di antara orang-orang yang tengah menanti giliran.


Emma, dengan penuh keberanian, mencoba memberikan kata-kata penghiburan, "Jangan biarkan ketakutan menguasaimu, Sayang. Aku ada di sini. Kita akan melaluinya bersama-sama." Suaranya merasuk lembut, mencoba mengusir kegelapan yang menjerat hati Lukas. "Terima kasih, Sayang," sahutnya lirih, mencoba berdamai dengan perasaannya yang tertekan.


Lukas dan Emma tetap menunggu giliran dengan tenang, meski ada beberapa kecemasan yang selalu hinggap dalam batinnya. Hingga akhirnya, pintu ruang dokter terbuka, memotong keheningan yang tak tertahankan.


"Pasien Lukas Kim, silakan...." Panggilan dari seorang perawat menghentak kesunyian, menyebabkan hati Lukas berdebar lebih kencang. Lukas dan Emma berdiri, berjalan menuju ke ambang pintu dengan hati-hati. Mereka melangkah masuk ke ruang dokter dengan sedikit keraguan, namun, tekad mereka untuk berobat menjadikan sebuah kekuatan.


Dokter Freddy menyambut pasiennya dengan tatapan bijak yang terpancar dari kedua matanya. Ia memahami bahwa keduanya tengah berjuang melawan ketakutan mereka sendiri.


"Selamat datang, Pak Lukas. Saya tahu mungkin Bapak memiliki kekhawatiran yang mendalam. Mari bekerjasama agar kita dapat menemukan kekuatan dan pemulihan dalam proses ini," ucap dokter Freddy dengan suara yang penuh kebijaksanaan.


"Terima kasih, Dok," sahut Lukas dan Emma hampir bersamaan. Mereka kemudian duduk dan siap untuk berkonsultasi secara mendalam, sebelum memutuskan untuk memulai pengobatan. Hati Lukas terasa rapuh dan terombang-ambing oleh harapan dan ketakutan. Ia tidak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Inferioritasnya di bidang s*ksual benar-benar menghancurkan sebagian dirinya. Jika saja Emma bukanlah istri setia, sudah tentu, Lukas akan terpuruk karena tersakiti dua kali oleh keadaan yang memalukan ini.


Dokter Freddy memperhatikan kecemasan yang meliputi wajah pasiennya. Ia dengan bijak memberikan pandangan yang menguatkan, "Ingatlah, dalam kegelapan terdapat cahaya yang selalu bersinar. Kita akan menggali akar masalah dan menemukan solusi untuk Bapak. Ibu, siapa nama anda?"


"Emma, Dok," jawab Emma.

__ADS_1


"Bu Emma. Sebagai pasangan yang setia, peran anda dalam proses ini sangat penting. Kita akan mengatasi tantangan ini bersama-sama." lanjut sang dokter dengan bijaksana.


Lukas dan Emma saling memandang dengan senyuman, penuh harap dan tekad untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Mereka bersiap-siap untuk memulai perjalanan pemulihan yang lebih baik.


"Jadi, Anda bisa mulai bercerita. Apa masalah yang Anda alami, Pak?" tanya dokter Freddy dengan suara lembut, menciptakan ruang yang aman bagi Lukas untuk berbagi.


Lukas menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan dirinya yang dipenuhi kecemasan. "Saya mengalami masalah impotensi, Dokter," jawabnya dengan suara pelan, tetapi jujur.


Dokter Freddy dengan cermat mencatat informasi tersebut, lalu melanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut. Ia ingin memahami secara detail tentang kondisi Lukas.


"Apakah Anda masih bisa ereksi sedikit ketika terkena rangsangan, atau sama sekali tidak bisa?" tanya dokter Freddy, mencoba menggali lebih dalam.


Lukas merasa terbebani oleh kejujuran yang dibutuhkan dalam menjawab pertanyaan itu. "Sama sekali tidak bisa, Dok. Awalnya, masih bisa sebentar, tetapi dalam enam bulan terakhir ini, sudah tidak berdiri sama sekali. Bahkan ketika dirangsang oleh istri. Sungguh menyedihkan," ucap Lukas dengan perasaan putus asa yang melanda.


Dokter Freddy mengambil catatan dengan serius, mencatat setiap detail pengalaman Lukas. Kemudian, ia menanyakan tentang riwayat pengobatan yang telah dilakukan oleh Lukas, serta meminta salinan resep obat yang sedang dikonsumsinya. Lukas memberikan salinan resep dengan sigap karena sudah ada di kotak surel-nya. Hal ini dapat mempercepat proses konsultasi mereka.


Namun, saat dokter melihat resep obat penenang yang diberikan oleh terapis Lukas sebelumnya, ia sangat terkejut. "Maaf, Pak. Obat X ini dosisnya tinggi dan memiliki efek melumpuhkan saraf. Bagaimana Anda bisa mengonsumsi obat ini? Apakah Anda mengalami gejala depresi berat?" tanya dokter Freddy dengan penuh keprihatinan.


Dokter Freddy merenung sejenak, kemudian menanyakan tentang obat lain yang mungkin belum tercatat. Emma seketika teringat sesuatu, kemudian ia mengeluarkan sebuah serbuk berbungkus dari dalam tasnya.


"Ini juga, Dok," ucapnya dengan bersungut-sungut.


"Teh hijau serbuk?" tanya dokter Freddy heran.


"Iya, saya tidak yakin ini teh hijau herbal. Sepertinya ada campuran lain. Entah apa itu. Ini hanya firasat saya saja," ucap Emma dengan sedikit kesal.


Ia kembali teringat trik yang dilakukan oleh Sarah selama mengobati suaminya, namun, entah mengapa, Lukas masih belum menyadari hal itu. Padahal, seluruh pelayan di mansion mereka mencurigai menu sarapan Lukas yang itu-itu saja sejak Sarah tinggal di paviliun barat. Mereka merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun, Lukas benar-benar tertipu oleh ilusi pertemanan masa kecil yang tidak sehat dengan Sarah. Ia telah dibutakan oleh pengaruh Sarah yang rumit dan manipulatif.


"Baiklah. Kami harus menguji teh ini di laboratorium terlebih dahulu, Bu. Nanti akan diberi tahu hasilnya. Sementara, konsultasi kita sampai di sini dulu. Saya akan memeriksa dengan teliti sebelum memberikan resep lebih lanjut. Untuk selanjutnya, mari kita menuju ruang terapi psikologis agar kondisi Bapak lebih tenang," sarannya.


Lukas dan Emma merasa lega mendapatkan arahan dari dokter Freddy.


"Terima kasih, Dok. Kami akan menunggu kabar selanjutnya," ucap Lukas sambil memandang istrinya dengan penuh harapan. Emma menganggukkan kepala sambil tersenyum, memberikan dukungan dan semangat pada suaminya.

__ADS_1


Lukas dan Emma kemudian berpamitan dengan dokter Freddy dan mengikuti langkah perawat yang ditugaskan untuk mengantar mereka ke ruang terapi psikologis. Ruangan itu terletak di selatan bangunan, dan kondisi antriannya juga tidak terlalu penuh hari ini.


"Silakan tunggu di sini," ujar sang perawat sambil memberikan catatan konsultasi kepada terapis yang sedang bertugas. Mereka menyambut kedatangan Lukas dan Emma dengan ramah dan sikap profesional.


"Silakan masuk," ajak sang perawat sedetik kemudian, setelah mendapatkan izin dari terapis yang sedang mempersiapkan sesi pengobatan untuk mereka.


Lukas dan Emma lalu memasuki ruang terapi psikologis dengan hati yang penuh harapan, siap menghadapi proses pemulihan yang akan mereka jalani.


"Semangat, Sayang," ucap Emma sambil menunggu Lukas di ruang tunggu yang telah disediakan. Lukas mengangguk dengan tenang kali ini, karena semua kecemasannya telah terbawa oleh angin pagi yang segar. Ia memulai proses psikoseksual dengan hati yang mantap, karena didukung sepenuhnya oleh sang istri yang setia menemani.


Sebelum sesi terapi dimulai, Lukas tampak mengetik pesan kepada A1 dengan cepat dan sigap.



[sent]


Drrrrrtt...


Ponsel Askara bergetar. Ada sebuah pesan singkat dari bosnya. Setelah membacanya sekilas, Askara mengetik pesan balasan.



Ia mengurungkan niat untuk berburu rusa siang ini, dan segera kembali ke markas untuk melaksanakan tugas terbaru.


...****************...


...Bersambung...


...****************...



......

__ADS_1


__ADS_2