Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 100


__ADS_3

Karena memang belum sarapan dari Rumah, jadi mereka langsung saja sarapan disana bersama.


Zahra merasa sangat rileks dan senang, dia menatap kesana kemari karena banyak nya orang.


"Mas, disini rame sekali ya" ucap Zahra dengan antusias.


"Iya sayang, disini selalu rame apalagi hari weekend" balas Raymond.


Zahra mengangguk, dia lalu sarapan terlebih dulu sebelum berjelajah makanan disana.


"Bagaimana hidupmu dulu, Nak? Sampai pergi ke taman gini saja kamu sangat antusias dan juga bahagia. Bagaimana mereka memperlakukan mu hingga kamu tidak merasa bahagia" batin Bunda dengan menggelengkan kepala nya.


Dia selalu saja di buat mengulum senyum karena kelakuan Zahra dan Raymond. Seperti saat ini, mereka saling menyuapi dengan senyum mengembang di bibir nya.


*


Setelah selesai, Zahra dan Ray berjalan-jalan di pinggir taman.


Bahkan Zahra bergelayut manja di lengan sang Suami, dia selalu di buat nyaman saat bersama dengan Raymond.

__ADS_1


"Mas, bagaimana keadaan Niko?" tanya Zahra.


"Dia masih saja sombong dan juga berusaha kabur" jawab Raymond


"Mereka sama sekali tidak bertaubat, bahkan lebih parah karena ingin keluar dari sana" jelas nya lagi.


Zahra mengajak ke pinggir danau, dia ingin duduk disana dengan menikmati semilir angin pagi hari.


"Aku kira mereka sudah berubah dan menyesali perbuatannya, selama hampir 10 bulan ini mereka lalui dengan sia-sia saja" ucap Zahra dengan helaan nafas kasar.


"Iya sayang, apalagi Niko. Dia semakin membenci ku karena seluruh aset dan kekayaannya aku beli, padahal itu semua untuk melunasi hutang nya" balas Raymond.


Ray menatap Zahra, dia mengusap lembut wajah Zahra dan tersenyum.


"Aku akan membiarkannya saja, dan akan memisahkan mereka di beberapa tempat" ucap Raymond.


"Itu bagus Mas, bahkan kamu harus memberi nya efek jera agar tidak berpikir untuk kabur dan menyesali perbuatan terdahulu. Bukan hanya kamu yang di rugikan mereka, namun banyak korban yang melebihi dari apa yang kamu rasakan, Mas" jelas Zahra dengan tegas.


"Iya sayang, Mas dan Irwan juga sudah memikirkannya" balas Raymond.

__ADS_1


Mereka sengaja mengobrol dengan bahas Indonesia, karena mereka tidak ingin ada yang mendengar ataupun menguping. Karena mereka tidak tahu bahwa disana juga bisa jadi ada pengkhianat.


"Memang tidak mudah jika kita sendiri tidak mempunyai rasa puas diri, mereka begitu serakah padahal harta sangat banyak sudah di genggaman mereka. Namun mereka masih belum puas dan masih ingin terus saja" ucap Zahra dengan menatap lurus ke danau.


"Kau tahu Mas, dulu aku menemani Mas Wendi sampai sukses dan mempunyai penghasilan tetap dengan gajih yang lumayan besar. Namun nyata nya dia masih merasa kurang, padahal aku sudah bilang cukup! Hingga pada akhir nya dia hanya fokus pada mengejar dunia dan melupakan aku yang ada di samping nya" jelas Zahra kembali.


Deg.


Hati Ray merasa tersentil, dia juga sempat mengabaikan Zahra demi pekerjaan nya.


"Wanita itu bukan hanya harta yang dia inginkan, namun juga perhatian dan waktu sang Suami. Buat apa harta kalau di abaikan dan tak ada sama sekali waktu me time dengan kita? Semua nya hanya sia-sia" ucap nya lagi.


Ray sontak saja langsung memeluk Zahra dengan erat, dia juga mengusap lembut punggung Zahra.


Zahra sendiri hanya diam saja, dia tidak bereaksi apapun dan hanya menghembuskan nafas kasar.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2