
Pertengkaran antara Ibu dan Istri nya pun di dengar oleh Wendi.
Wendi sadar kalau ketakutan di diri Amelia besar akan hal tersebut, ia juga sudah memutuskan untuk pergi bersama Amelia.
"Apa yang di katakan Amel benar, Bu. Kami akan hidup mandiri berdua dan jika kelak Allah menghendaki maka kami akan bahagia dengan Anak-anak kami" ucap Wendi yang berusaha membawa kursi roda nya ke arah Amel.
"Jadi kamu setuju?" tanya Ibu Jeni dengan kaget.
Wendi menganggukan kepala nya dengan pasti, ia sudah bertekad akan memulai semua nya dari awal bersama dengan sang Istri, Amel.
"Biarkan mereka pergi, itu adalah kehidupan rumah tangga mereka dan kita tidak perlu lagi ikut campur" ucap Ayah pada Istri nya.
"Iya Bu, cukup hanya Zahra saja yang jadi korban ke egoisan Ibu, jangan ada yang lainnya" timpal Wendi menggenggam tangan Amelia.
Lalu Wendi menyuruh Amelia mendorong kursi roda nya dan setelah nya mereka pergi ke kamar nya sendiri.
"Kita bereskan barang-barang kita ya, nanti malam kita pergi" ucap Wendi.
"Mas, kamu gak apa kan kita terpisah dengan Ibu dan Ayah?" tanya Amelia sedikit tak tega.
__ADS_1
Wendi menggelengkan kepala dengan tersenyum, ia lalu menyuruh Amel mendekat.
"Aku tidak apa, aku hanya khawatir kau akan kerepotan nanti nya mengurus ku yang cacat ini" jawab Wendi dengan mengelus lembut pipi Amel.
"Kita sama-sama berjuang ya, Mas" ucap Amelia lembut.
"Iya sayang" balas Wendi sambil mengecup kening Amelia lembut.
Setelah itu, mereka membereskan semua barang-barang nya, Wendi memilih beberapa berkas milik nya dan yang cukup penting.
**
Setelah berpamitan, Wendi dan Amelia masuk ke dalam taxi yang sudah di pesan oleh Wendi sejak tadi. Dia tidak membawa mobil nya karena memang sengaja, bahkan Wendi juga tidak memberitahukan kemana kepergiannya.
"Kenapa mereka memilih ingin menjauh dari kita, Ayah?" tanya Ibu Jeni sendu.
"Biarkan saja, mereka akan mandiri dengan cara mereka sendiri. Kita tidak perlu ikut campur lagi urusan rumah tangga Putra kita" jawab Ayah tegas.
"Benar apa kata Ayah, Bu. Ibu jangan jadi penggosip di rumah tangga Kakak lagi" celetuk sang Putri sambil berlalu dari sana.
__ADS_1
Ibu Jeni menghela nafas kasar, ia lalu pergi dari sana dan menuju ke kamar nya. Dia cukup kesal dengan Suami nya yang terus saja membela tindakan Putra dan menantu nya.
"Apa mungkin aku memang terlalu egois sejak dulu, aku tidak bersyukur mendapatkan menantu sebaik dan cantik Zahra" gumam nya dengan helaan nafas panjang.
"Apa aku juga salah ya meminta wanita yang sempurna untuk Putra ku yang kekurangan, hingga Allah menghukum ku dengan menjauhkan Putra ku dengan aku sendiri" gumam nya kembali.
Lalu Ibu Jeni merebahkan tubuh nya, ia mencoba memejamkan mata nya untuk menghilangkan semua rasa yang menekan dada nya.
Hingga pada akhir nya, ia terlelap dengan pulas dan juga tidak menyadari bahwa sejak tadi Suami nya sudah berada disana.
Ayah menarik nafas panjang, ia mendudukan diri nya di samping sang Istri.
Lalu setelah nya ia juga ikut merebahkan tubuh nya di samping Ibu Jeni.
.
.
.
__ADS_1