
Ayah dan Ibu Wendi membawa Wendi untuk pulang ke Rumah nya.
Mereka akan membahas nya di Rumah dan menunggu Wendi tenang dulu.
Sesampai nya di Rumah, Wendi duduk dengan wajah yang babak belur dan air mata yang terus menetes.
"Aku harus bagaimana, Bu?" tanya Wendi lirih.
"Aku mencintai Zahra, aku tidak ingin kehilangannya" ucap nya lagi dengan sendu.
"Tetapi semua percuma, Pak. Kini Kak Zahra sudah hilang entah kemana, entah hidup atau mati. Dan dia baru saja keluar dari Rumah sakit" balas Aeni yang masuk ke dalam Rumah itu tanpa permisi.
"Apa Bapak tahu , setiap kali Kak Zahra ke kebun ia hanya menangis di atas Rumah Pohon? Dia meratapi semua nya, ia kesepian dan ia juga terasa kehilangan sosok Suami saat ia harus melakukan nya sendirian" ucap Aeni kembali.
Lalu Aeni menghampiri mereka, ia lalu memberikan kertas yang di titipkan Zahra padanya saat pulang dari Rumah sakit.
"Ini surat dari Kak Zahra saat ia akan pulang kemari, aku hanya di suruh memberikannya pada kalian. Aku berdo'a agar Kak Zahra selamat di luaran sana" ucap Aeni kembali.
Lalu Aeni pergi dari sana dengan langkah panjang nya, ia emosi , sedih dan juga kehilangan atas kabar Zahra yang tak di temukan.
Setelah kepergian Aeni, Wendi mengambil surat tersebut dan membuka nya.
Ia membaca kata demi kata yang tertulis disana dengan hati yang sangat sakit dan berdebar.
Setelah selesai membaca nya, Wendi menangis dengan menangkup wajah nya dengan kedua tangannya.
Ia terisak dengan kencang, ia sakit saat tahu akan suatu kebenaran yang membuat nya merasa sangat bodoh.
"Ada apa, Wen?" tanya Ayah nya dengan panik.
Wendi memberikan surat tersebut pada Ayah nya, dan Ibu menyuruh membaca nya dengan keras.
-Isi surat Zahra.
*Untuk Mas Wendi dan Keluarga nya.
-Mas, aku sudah sangat mencintai mu sejak awal kita bersama dulu. Aku tidak menyangka bahwa kita akan di persatukan dalam ikatan suci pernikahan ini.
Aku sangat bahagia saat hari-hari ku bersama dengan mu setelah menikah, kita hidup sangat bahagia tanpa gangguan apapun.
Hingga umur pernikahan kita menginjak 1 tahun dan saat itu aku belum juga hamil, keluarga mu selalu mempertanyakan nya dan membuat aku terasa terpojok.
Aku memutuskan untuk mengecek ke Dokter bersama dengan Ibu, dan ternyata hasil nya sangat sehat dan juga bagus.
Tetapi semua nya tak membuatku tenang, saat lagi dan lagi Orangtua mu menanyakan hal tentang keturunan.
__ADS_1
Aku mengabaikan nya saja dan tak memikirkan, hingga saat kamu di pindah tugaskan dan kita ikut pindah ke Rumah mu.
Disana aku semakin merasa kesepian, tersiksa batin dan hati saat lagi dan lagi aku mendengar kata Cucu.
Aku sakit Mas, aku sakit!
Hingga puncak nya saat kamu memilih asyik dengan hobby mu dan melupakan aku sebagai Istri mu.
Kamu hanya akan ada waktu jika aku memaksa nya meluangkan saja.
Apa kamu tahu Mas? Aku merasa kehilangan sosok Suami saat aku harus berbuat apa-apa dengan sendiri. Apalagi saat aku sakit, aku berjuang sendiri tanpa mu dan keluarga ku.
Keluarga mu? Menanyakan saja tidak apalagi melirik ku yang sedang sakit.
Hingga aku memutuskan untuk membuat rencana dengan berpura-pura gila untuk menarik simpati mu dan keluarga mu agar melihat ku.
Dan apa yang terjadi? Lagi dan lagi aku hanya berharap akan semua itu, apalagi saat Ibu dan Ayah tidak sama sekali menjengukku kesana.
Dan kamu? Kamu malah asyik dengan berburu, mancing dan hobby mu yang lain!
Kamu beralasan saja sibuk bekerja tetapi kenyataannya kamu sibuk dengan Dunia mu sendiri, Mas.
Hingga aku bertahan dengan kepura-puraan itu, tetapi semua nya tidak ada hasil nya, semuanya sama saja aku sudah tak di harapkan lagi.
Itu semua bukan kehendak ku, aku juga sebenarnya sudah sangat ingin memberikan kalian Cucu, tetapi Allah belum menghendaki nya.
Aku pergi, aku menyerah Ayah, Ibu.
Izinkan aku pergi, Mas.
Aku sudah lelah, aku sudah lelah dengan semua nya dan aku juga sudah lelah tidak di pedulikan.
Aku bukan wanita kuat, tangguh dan ceria. Tetapi aku melakukan itu semua demi menutupi nya dari kalian bahwa sesungguh nya aku rapuh, cengeng dan juga manja.
Semoga suatu saat nanti kita bertemu lagi dan kalian sudah bahagia serta mendapatkan Cucu seperti yang kalian inginkan.
Sekali lagi, Izinkan aku pergi Mas.
Zahra Khoerunisa*.
Begitulah isi surat dari Zahra untuk mereka, dan mereka di buat terkejut hingga membuat mereka menangis dalam diam.
Ayah meletakan kembali surat tersebut, ia meneteskan air mata nya mengingat semua nya yang telah mereka lakukan selama ini.
"Maafkan Ayah, Zah" ucap nya dengan lirih.
__ADS_1
Ibu Jeni juga ikut menangis dengan memeluk Wendi yang belum berhenti menangis, ia sesegukan di pelukan sang Anak.
"Apa kalian sudah puas menangis? Percuma kalian menangis, itu semua tidak akan mengembalikan Kak Zahra ataupun keadaan yang terjadi" celetuk Fera.
"Seharus nya kalian memikirkan semua nya sebelum melakukan hal itu, apalagi kalian mempunyai aku di keluarga ini. Bagaimana jika semua nya terjadi padaku?" tanya Fera dengan ketus.
Fera lalu pergi dari sana dengan menyeka air mata nya, ia merasa ikut jahat pada sang Kakak Ipar.
*
Hingga beberapa saat Wendi sudah tenang dan ia langsung pergi ke Rumah belakang.
Wendi memutuskan akan mencari Zahra, tetapi ia akan membersihkan tubuh nya terlebih dulu.
"Aku akan membawa mu kembali pulang, Zah" gumam Wendi dengan yakin.
Setelah selesai bersiap, Wendi pergi dengan menggunakan motor agar lebih leluasa mencari nya.
Ia menelusuri setiap jalan, gang dan juga tempat-tempat yang ada di sekitaran sana.
Tak kenal lelah, Wendi mencari Zahra hingga hampir tengah malam.
Setelah dirasa cukup, ia kembali ke Rumah dan akan mencari nya besok selepas pulang bekerja.
"Aku tidak akan menyerah, Zah. Aku akan terus mencari mu" gumam Wendi sebelum ia memejamkan mata nya.
Lain hal nya dengan Doni, ia masih terus mencari Zahra bersama dengan Bapak nya.
Mereka mencari nya dengan semangat karena ada salah seorang warga yang melihat Zahra lari ke arah jalan raya.
Doni dan sang Bapak pun berhenti di warung makan pinggir jalan raya besar.
Mereka memutuskan untuk istirahat lebih dulu dan makan malam disana.
Sesekali netra Doni dan Bapak nya melihat sekitar dan berharap akan bertemu dengan Zahra.
Hingga selesai makan, mereka memutuskan untuk pulang ke Apartemen Doni karena sudah hampir pagi.
Mereka akan meneruskan nya besok lagi setelah Doni pulang kerja.
.
.
.
__ADS_1