
Setelah selesai makan malam, Wendi memutuskan untuk langsung pulang saja bersama Amelia.
Mereka sudah merasa puas dan kenyang dengan acara jalan-jalan tersebut.
Wendi di berikan Rumah hunian yang pas buat mereka berdua dari perusahaannya.
"Mas, ini Rumah hunian mewah sekali" decak kagum Amelia yang sudah keberapa kali nya.
"Kau tau sendiri bukan , perusahaan tempatku bekerja ini adalah sangat besar bahkan cabang nya ada dimana-mana" balas Wendi sambil mendudukan diri nya di sofa.
Amelia hanya menganggukan kepala tanda membenarkan ucapan sang Suami.
Mereka berbincang sebentar sebelum memutuskan untuk masuk ke kamar.
**
Pagi tiba menyapa warga Amerika yang mungkin masih terlelap, udara di Kota Los Angeles sangat dingin karena di luar sedang turun hujan.
Udara yang biasa nya sangat hangat kini berubah dingin , bahkan untuk sekedar bangun pun rasanya sangat malas.
Pesawat yang membawa Zahra dan Ray pun belum sampai di sana, perkiraan nanti siang akan tiba di Bandara.
Zahra mengeratkan pelukannya pada sang Suami, ia merasakan udara yang lumayan dingin.
Bahkan ia menelusupkan kepala nya di ceruk leher Ray.
Ray hanya diam saja dan malah menikmati moment intim seperti ini.
Ia juga membalas pelukan Zahra agar sang Istri merasa lebih hangat lagi.
Ray melihat keluar jendela dan ternyata sudah pagi, ia memutuskan untuk bangun terlebih dulu.
"Hemmm, mau kemana Mas?" tanya Zahra membuka mata saat merasakan pergerakan Ray.
"Aku mau mandi, sayang" jawab Ray lembut.
Zahra bangun dari tidurannya, ia duduk dan mengerjapkan mata nya.
Zahra melihat ponsel nya dan ternyata sudah siang.
"Yasudah Mas, nanti gantian sama aku" ucap Zahra tersenyum.
"Sebentar lagi akan ada yang mengantarkan makanan , kamu terima saja" pesan Ray sebelum masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
"Iyaa Mas" balas Zahra.
Lalu Ray melenggang masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Zahra membereskan tempat tidur nya dan menyiapkan pakaian sang Suami.
"Seperti nya cuaca sedang dingin, ini terasa sangat dingin dari biasa nya" gumam Zahra sambil menatap keluar jendela.
Setelah selesai, Zahra duduk kembali sambil menunggu Ray dan tak lama kemudian pintu di ketuk dari luar.
Zahra bergegas membuka nya dan tampaklah anak buah Suami nya yang membawa nampan berisi makanan untuk mereka sarapan.
"Terimakasih" ucap Zahra tanpa senyuman.
"Sama-sama Nona muda" balas anak buah Ray sopan.
Setelah memberikan makanan itu, anak buah Rey langsung saja pergi dari sana.
Dan Zahra pun masuk sambil membawa sarapan itu.
Zahra menata nya di meja dan membiarkannya terlebih dulu.
Ceklek.
Raymond keluar dari kamar mandi, dan Zahra langsung saja masuk untuk mandi.
Ia membuka pekerjaannya sambil menunggu Zahra yang belum selesai mandi.
Hingga 30 menit berlalu, Zahra keluar dari kamar mandi dengan sudah lengkap berpakaian.
Ray langsung saja mengajak nya untuk makan, ia meminta untuk satu piring berdua lagi bersama dengan Zahra.
Zahra hanya bisa menuruti nya dan tersenyum.
"Manja sekali" olok Zahra dengan terkekeh geli.
"Biarin, sama Istri sendiri juga" balas Ray dengan santai.
Zahra menggelengkan kepala nya dengan tersenyum kecil, mereka makan dengan tenang dan lahap.
Ray bahkan sampai menyuruh Zahra untuk menambah lagi.
*
Hingga siang, pesawat pribadi Ray mendarat dengan sempurna di Bandara.
__ADS_1
Disana , Irwan dan Citra sudah menunggu mereka di ruangan khusus.
Sampai pada akhirnya, Ray dan Zahra datang mereka langsung pergi begitu saja.
Ray akan membawa Zahra ke mansion sang Bunda terlebih dulu, baru nanti malam ia akan pulang ke mansionnya sendiri.
Zahra menyenderkan kepala nya di bahu sang Suami, ia sangat lelah dengan perjalanan yang cukup melelahkan ini. Bahkan ia ingin sekali tertidur dengan nyenyak tanpa gangguan sama sekali.
"Tidurlah, nanti kalau sudah sampai aku bangunkan" ucap Ray dengan lembut.
Zahra mengangguk , ia melingkarkan tangannya pada pinggang Ray dan mulai memejamkan mata nya.
Citra tersenyum kecil, ia merasa bahagia melihat bagaimana Kakak dan Kakak ipar nya yang sangat manis.
Bahkan ia melihat sorot mata Zahra yang tulus dan sorot mata sang Kakak yang begitu tulus juga.
"Berbahagialah selalu, Kak" batin Citra bahagia.
Di dalam mobil tersebut hanya ada keheningan saja, semua nya terdiam dengan pemikiran yang ada di pikirannya masing-masing.
Hingga tak lama kemudian, mereka sudah sampai di halaman Mansion sang Bunda.
Tanpa membangunkan Zahra, Ray menggendong nya dan langsung menuju ke kamar milik pribadi nya.
Bunda yang memang sudah rindu pada Zahra pun hanya bisa terduduk kembali karena sang menantu yang tertidur karena kelelahan.
Setelah memastikan bahwa sang Istri nyaman, Ray kembali ke bawah untuk menemui sang Bunda dan yang lainnya.
"Bagaimana honeymoon mu?" tanya Bunda dengan tertawa kecil.
"Aku belum apa-apa, nanti saja kalau sudah di mansion berdua" jawab Raymond dengan santai.
"Bunda kira Zahra kelelahan karena kamu gempur" ucap Bunda dengan tertawa renyah.
"Hehh mana bisa begitu, mungkin aku tidak akan langsung pulang kesini kalau aku menggempur Zahra" celetuk Raymond yang tidak tahu malu.
Irwan serta Citra hanya bisa menggelengkan kepala saja, mereka berdua memilih diam daripada ikut serta obrolan keduanya yang sudah melantur kemana-mana.
.
.
.
__ADS_1