Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 96


__ADS_3

Wendi di bantu Amelia untuk masuk ke dalam Rumah, namun sebelum masuk Amelia akan ke toko dulu.


Wendi menunggu di depan Rumah, saat dia akan menggerakan kursi roda nya, naas disana ada anak tangga yang lumayan tinggi hingga kursi roda itu terjatuh dan Kaki Wendi tertimpa oleh kursi roda itu.


"Arrhhhhhh" jerit Wendi dengan menggema.


Amelia langsung saja keluar dari toko, dia melihat Wendi yang sedang kesakitan dengan badan yang tertimpa kursi roda.


"Ya Allah, Masss" teriak Amelia dengan panik.


Lalu Amelia membantu nya berdiri dengan di bantu oleh pekerja nya.


"Sakit , Mel" rintih Wendi saat dirinya sudah duduk di atas kursi roda.


Amelia langsung saja membawa nya masuk ke dalam, dia menuju ke kamar nya dan merebahkan Wendi di sana.


"Mas, kaki kamu bengkak" ucap Amelia dengan khawatir.


"Sshhh, sakit Mel" balas Wendi dengan meringis.


Amel lalu mengambil obat , dia memberikannya pada Wendi. Setelah itu, dia menatap wajah Wendi yang pucat karena kesakitan.


***


Kandungan Zahra sudah menginjak usia 8 bulan, mereka juga sudah pindah ke mansion milik Ray kembali.

__ADS_1


Kedua nya benar-benar menikmati moment dimana Zahra mengidam, manja dan ada saja yang ingin di lakukan oleh Zahra.


Ray tidak pernah mempermasalahkannya, malahan dia selalu saja mengabulkan apapun keinginan Zahra.


Saat ini, Bunda sedang berkunjung kesana karena Ray yang ada jadwal harus keluar kota sampai nanti malam. Sedangkan Citra sendiri di temani oleh Rena, Adik Irwan.


Berita tentang Zahra dan Ray pun sudah di jelaskan oleh Ray sendiri, banyak karyawan dan masayarakat disana yang tak menyangka bahwa Ray dan Zahra sudah menikah.


Seperti saat ini, Zahra dan Bunda sedang berkutat di dapur. Mereka akan membuat camilan kesukaan Raymond.


"Bunda , aku ingin puding buah" ucap Zahra.


"Yasudah kita nanti buat, sekarang kamu duduk dan potong buah apa saja yang di inginkan oleh mu" balas Bunda lembut.


Setelah nya , dia langsung saja memotong-motong yang sudah di kupas oleh pelayan.


Bunda melihat Zahra yang sudah semakin terlihat cepat lelah, karena kandungannya yang sudah besar bahkan melebihi usia normal.


Zahra dan Ray tidak pernah Usg, karena mereka tidak ingin mengetahui jenis kelamin nya.


"Bunda sudah" ucap Zahra semangat.


Bunda tersenyum, kemudian dia mengambil beberapa wadah yang ada di hadapan Zahra. Setelah itu, dia menuangkan puding nya.


Zahra sudah tak sabar, bahkan dia sudah terlihat sangat ngiler sekali dengan melihat nya saja.

__ADS_1


"Sabar sayang" ucap Bunda terkekeh.


"Heemm, aku sudah tidak sabar Bun" balas Zahra dengan tertawa kecil.


Kemudian kedua nya berlalu ke ruang tamu setelah semua nya siap, dan yang membereskannya bagian pelayan saja.


Keduanya duduk tenang disana, Zahra menikmati camilan yang di buat oleh sang Bunda.


"Aku merasa lelah sekali Bunda" keluh Zahra dengan menghela nafas panjang.


"Sini tiduran di pangkuan Bunda, Nak" ucap Bunda dengan lembut.


Setelah Zahra berbaring, Bunda dengan lembut mengusap pinggang dan perut Zahra bergantian.


Dia akan selalu mengeluh seperti itu pada Bunda dan Ray, jika tidak ada mereka Zahra tidak pernah mengeluh sama sekali.


Zahra menikmati nya, dia lebih rileks dan tenang. Hingga tak terasa dia terlelap di pangkuan Bunda.


Bunda hanya tersenyum saja, dia mengusap wajah cantik menantu nya tersebut.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2