
Setelah puas makan dan jalan-jalan, Zahra dan keluarganya pun memutuskan untuk pulang karena hampir jam 10 malam.
Zahra memberikan kunci mobil pada Aeni , karena ia malas mengemudikannya.
"Nak, boleh Bapak bertanya?" tanya Bapak lembut.
Zahra menyimpan ponsel nya dan menghadap ke belekang dimana sang Bapak dan Ibu duduk.
"Boleh dong" jawab Zahra dengan senyuman yang membuat lesung pipi nya timbul.
"Apa kamu dan Nak Ray sudah memutuskan untuk ke jenjang pernikahan?" tanya Bapak langsung.
Zahra tersenyum, ia menganggukan kepala nya dengan wajah yang sedikit memerah karena malu.
"Wuih bisa malu juga nih Putri Ibu" ledek Aeni dengan tertawa.
Ibu dan Bapak pun ikut tertawa kecil, mereka merasa lucu dengan wajah malu-malu milik Zahra.
"Iya Pak, kami akan menikah 1 minggu lagi dan kami akan menikah disini dengan sederhana. Bahkan aku dan Ray akan menikah di kantor KUA saja, aku tidak ingin pesta dan yang lainnya" jawab Zahra dengan sorot mata yang sangat mantap.
"Ibu dan Bapak akan selalu mendukung keputusan mu, Nak. Kamu dan Ray pasti mempunyai alasan tentang semua itu, bukan?" tanya Ibu Aminah tersenyum.
Zahra menganggukan kepala nya, ia lalu akan membahasnya nanti saja di Rumah bersama mereka karena sebentar lagi akan sampai.
Dan benar saja, mereka sudah sampai di Rumah sang Abang, Doni.
Tetapi disana sudah ada Ibu Jeni dan Ayah Beni yang menunggu mereka di teras depan.
"Nak" panggil Ibu sebelum keluar.
"Tidak apa, Zahra sudah melupakan semuanya dan memaafkan mereka" ucap Zahra lembut.
Ibu mengangguk dengan tersenyum, lalu mereka semua keluar dari dalam mobil.
Zahra dan Aeni sengaja agak lama di dekat mobil dan setelah nya mereka berdua pun ikut serta Bapak dan Ibu kesana.
"Ayo masuk dulu saja" ajak Bapak pada keduanya.
__ADS_1
Ibu Jeni dan Ayah Beni pun mengangguk, lalu mereka mengikuti langkah Bapak Zahra.
Begitupun dengan Zahra dan Aeni, mereka juga ikut masuk dan duduk di ruang tamu.
Aeni membuatkan mereka minum terlebih dulu sebelum ikut duduk disana.
"Maaf, ada keperluan apa kalian kesini?" tanya Bapak to the point.
"Kami kesini ingin bertemu, Zahra" jawab Ayah Beni.
Zahra hanya diam, ia tidak menampilkan wajah marah ataupun datar. Ia hanya biasa saja dan terkesan cuek.
"Zahra, kami kesini ingin meminta maaf padamu Nak. Maafkan sikap kami dulu padamu ya, kami sangat minta maaf yang sebesar-besar nya" ucap Ayah menundukan kepala nya.
"Aku sudah memaafkan kalian, Ayah" balas Zahra.
"Mungkin aku yang terlalu berharap akan semua itu, dan aku juga yang terlalu berlebihan dalam semua nya" ucap Zahra kembali dengan tersenyum.
Ibu Jeni menatap nanar mantan menantu nya, ia merasa sangat bersalah pada Zahra. Apalagi sikap ia yang selalu cuek dan terlalu mengumbar semua nya pada oranglain.
"Maafkan Ibu, Nak" ucap Ibu Jeni lirih.
Ibu dan Bapak Zahra tersenyum melihat Putri nya yang selalu saja terlihat baik-baik saja di hadapan oranglain. Padahal ia menderita dengan semua ini.
"Zahra hanya meminta sama kalian satu saja, jangan lakukan hal yang sama pada menantu kalian yang lainnya. Karena itu sangat menyakitkan" ucap Zahra kembali.
Ibu dan Ayah Wendi pun hanya bisa menganggukan kepala dengan wajah yang malu.
Mereka hanya bisa menatap wajah Zahra sebentar saja.
"Terimakasih sudah memaafkan kesalahan kami, kami berjanji akan memperlakukan Amelia semestinya saja" ucap Ibu Jeni dengan tersenyum.
"Kalau begitu kami permisi" pamit mereka berdua.
Bapak dan Ibu serta Zahra hanya menganggukan kepala saja, lalu Ibu Aminah mengantarkan mereka keluar.
Drrrttt Drrttt.
__ADS_1
Ponsel Zahra bergetar tanda panggilan masuk, lalu ia melihat siapa yang menelpon dan ternyata Ray.
"Pakai laptop saja, aku dan Bunda ingin berbicara pada orangtua mu" ucap Ray saat panggilan sudah terhubung.
"Baiklah, matikan dulu panggilan nya" balas Zahra lembut.
Tut.
"Kenapa di matikan Nak?" tanya Bapak.
"Ray sama Bunda akan vidio call dari laptop Pak, mereka ingin berbicara pada Bapak dan Ibu" jawab Zahra sambil membuka laptop nya.
Dan tak lama kemudian panggilan pun tersambung, Zahra tersenyum pada Ray dan Bunda.
"Ibu kemarilah, Ray sama Bunda ingin berbicara pada kalian" ucap Zahra dengan melambaikan tangannya.
Ibu mengangguk dengan tersenyum, Zahra lalu membiarkan Ray berbincang dengan kedua orangtua nya dan ia serta Aeni hanya akan menjadi pendengar saja.
Mereka terus saja berbincang dengan pembahasan yang sama, mereka membahas pernikahan Ray dan Zahra.
Ray dan keluarga nya akan kesana dalam waktu 3 hari lagi dan mereka akan langsung ke Hotel yang dekat dengan KUA.
Irwan sudah menugaskan anak buah nya untuk mengurus semua nya dan perketat penjagaan.
Bahkan Ray serta keluarga nya pun akan datang menyamar demi berjalan nya semua rencana mereka.
Hingga di rasa sudah cukup, Ray menyudahi perbincangannya karena ia juga tahu bahwa di Indonesia sudah hampir tengah malam.
"Ibu dan Bapak langsung istirahat ya, Nak" ucap Ibu dengan lembut.
"Iya Buk, aku dan Aeni pun sama akan istirahat" balas Zahra.
Lalu mereka pun masuk ke kamarnya masing-masing, sedangkan Aeni ia ikut bersama Zahra karena akan tidur di kamar sang Kakak.
.
.
__ADS_1
.