Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 8


__ADS_3

Zahra berdiam diri di kamar seharian, ia tidak keluar kamar karena selalu di suguhi dengan pertanyaan yang selalu membuat pikiran nya kacau.


"Kapan ya kamu akan hadir disini sayang, semoga secepatnya hadir ya" gumam Zahra mengelus perut nya sendiri.


"Pernikahan ku dan Mas Wendi sudah mau 3 Tahun, tetapi aku tidak pernah berdebat akan masalah keturunan meski aku tahu bahwa Suami ku juga menginginkan nya.


Tetapi aku baru beberapa bulan disini sudah membuat semua nya berubah" gumam Zahra dengan memejamkan mata nya.


Zahra lalu melangkahkan kaki nya menuju ke meja rias nya, ia akan ke belakang untuk menelpon sang Ibu.


Zahra keluar dari kamar dan langsung menuju ke halaman belakang dengan membawa ponsel dan juga minuman dingin.


Ia duduk di Rumah yang kecil yang ada di belakang, awal nya Rumah itu sangat kotor tetapi Zahra membersihkan nya sampai menjadi nyaman.


Tut.


Tut.


"Assalamualaikum, Bu" ucap Zahra saat telepon nya di angkat sang Ibu.


"Waalaikumsalam, Nak. Bagaimana kabarmu?" tanya Ibu dengan lembut.


"Aku baik-baik saja, Bu. Bagaimana kabar Ibu dan Ayah?" tanya Zahra balik.


"Nak, Ibu memang jauh dengan mu. Tetapi Ibu tahu bahwa kau menyembunyikan sesuatu dari Ibu. Ceritalah dengan Ibu sayang" ucap Ibu Zahra dengan tegas namun lembut.


Huh.


Zahra membuang nafas kasar, ia menyeka air mata nya dan memulai bercerita semua nya pada sang Ibu.


Bukan maksud untuk menceritakan aib rumah tangga nya, tetapi ia akan selalu merasa lega dan merasa beban nya hilang setelah bercerita dengan sang Ibu.


Zahra bercerita dengan menahan isak tangis nya , ia juga meremas dada nya yang cukup sesak saat menceritakan bagaimana Ibu mertua nya yang memperlakukan dia.


"Hiks, Ibu aku juga lemah dan cengeng" lirih Zahra dengan terisak dan berharap sang Ibu datang memeluk nya.


"*Nak, sabarkanlah hatimu ya. Teruslah berdo'a agar semua masalah yang kau hadapi akan berlalu seperti air yang mengalir" ucap Ibu dengan menenangkan sang Putri.


"Nak, kamu Putri Ayah yang kuat , tegar dan juga ceria sayang. Jika suatu saat kamu tidak sanggup lagi, maka pulanglah kemari" ucap Ayah nya dengan lembut*.


Zahra hanya diam, ia terus saja terisak dengan pilu. Seakan beban yang ia pikul sangat besar dan ia juga tidak tahu harus apa.


Karena ia tidak mau meninggalkan sang Suami, tetapi ia tidak kuat dengan sang mertua.


"Hapuslah air mata mu, masuk ke kamar karena hari sudah akan malam" ucap Ayah.

__ADS_1


"Ba baik Ayah, kalau tidak ada halangan minggu besok aku akan pulang kesana" balas Zahra dengan terbata.


"Iya Nak kami tunggu, Assalamualaikum" ucap Ayah dan Ibu nya serempak.


"Waalaikumsalam, Ayah, Ibu" balas Zahra dengan mematikan ponsel nya.


Sebelum ia masuk ke dalam Rumah, Zahra membasuh wajah nya dan duduk sebentar disana agar hati nya tenang.


Zahra memasang wajah yang tersenyum dan mulai melangkah masuk ke dalam Rumah.


Di ruang tamu ada Ibu dan Ayah mertua nya, ia hanya tersenyum dan langsung masuk ke dalam kamar.


Hingg malam tiba, Zahra keluar dari kamar dan langsung menuju ke dapur.


Ia memasak disana sendirian karena kedua mertua nya sedang menjemput Adik ipar nya, Fera.


"Besok aku akan diskusikan sama Mas Wendi untuk tinggal di Rumah belakang. Disana nyaman dan juga cuku luas untuk kami" gumam nya dengan tersenyum bahagia.


Hingga tak terasa Zahra sudah berkutat di dapur hampir 1 jam lama nya.


Ia langsung menata makanan di atas meja makan dan setelah selesai ia duduk di ruang tamu sambil menunggu yang lainnya.


Sampai 1 jam kemudian mereka baru tiba di Rumah, padahal jarak dari sekolah ke Rumah mertuanya tidak terlalu jauh.


Ceklek.


Terlihat Ayah dan Ibu mertua nya saling tatap dan seperti memberi kode.


"Kami sudah makan bakso di jalan tadi , Nak. Maaf ya, kamu makan sendiri saja gak apa kan" ucap Ibu Jeni dengan tertawa sumbang.


"Oh iya Bu tidak apa, kalau begitu Zahra makan malam dulu ya Ayah, Fera" ucap Zahra tersenyum dengan manis.


"Iya Kak, aku juga akan ke kamar karena mengantuk" balas Fera tersenyum kecil.


Zahra hanya mengangguk, lalu ia pergi ke meja makan dan makan sendiri disana.


Ia makan dengan sedikit tatapan nya yang kosong, bahkan Zahra makan hanya sedikit saja.


"Heh" dengus nya dengan tersenyum kecut saat melihat banyak nya makanan yang ia masak.


Zahra lalu menyimpannya di kulkas agar besok tinggal menghangatkan saja.


Setelah di rasa beres, Zahra langsung masuk ke dalam kamar nya dan ia juga tak lupa mengunci semua jendela dan pintu.


Huh.

__ADS_1


Zahra membuang nafas kasar saat ia merebahkan tubuh nya di atas kasur.


Ia memejamkan mata nya dan ia juga tidak menanyakan kabar apapun pada Suami nya.


"Sabar ku masih banyak, tenang saja" batin Zahra dengan kesal.


Hingga tanpa sadar ia pun terlelap begitu saja karena lelah dan juga memang sudah jam 09 malam.


Ponsel Zahra terus saja berdering tanda ada yang menelpon, tetapi Zahra mengabaikannya karena sudah terlelap nyenyak.


*


Tepat setelah adzan subuh, Wendi datang dan langsung masuk ke dalam Rumah karena ia punya kunci cadangan.


Ia masuk ke dalam kamar dan melihat sang Istri yang sedang menunaikan kewajibannya.


Wendi langsung saja merebahkan tubuh nya dan terlelap setelah melepaskan semua atribut nya dan di simpan begitu saja di atas lantai.


Hah.


Zahra membuang nafas kasar, ia memungut semua nya dan membawa nya ke dalam kamar mandi untuk di cuci.


"Mas, solat dulu" ucap Zahra lembut.


"Hemmm" balas Wendi dengan malas dan ia malah menaikan selimut nya sampai ke atas kepala.


Zahra menggeleng dengan tersenyum kecut, ia membereskan semuanya dan langsung mencuci pakaian.


Dia tidak langsung keluar kamar karena harus menata kembali barang-barang Wendi.


Ia terus berkutat di dalam kamar hampir 2 jam, dan saat melihat jam sudah di angka 07 pagi.


Zahra keluar kamar dan terlihat sang Adik yang cemberut dengan menenteng tas sekolah.


"Kak, gak masak?" tanya Fera menunduk.


"Mas Wendi baru pulang jadi Kakak menata barang-barang nya dulu, bukannya ada Ibu?" ucap Zahra sedikit bingung.


Fera hanya diam dengan menunduk, Zahra hanya tersenyum dan mengelus kepala Fera sayang.


"Ayo Kakak antarkan ke sekolah dan nanti kita beli nasi uduk di depan sana" ajak Zahra dengan ceria.


Fera langsung mengangguk setuju, ia lalu keluar Rumah bersama dengan sang Kakak Ipar.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2