
Sesampai nya di penginapan, Zahra masuk ke kamar yang lainnya bersama dengan Aeni. Dia tidak ikut masuk ke kamar yang biasa di pakai bersama dengan Raymond.
"Untung kita cepat menyadari nya, Mbak" ucap Aeni setelah mereka sampai di kamar.
"Iya Dek, Mbak takut mereka tahu sebelum waktunya" balas Zahra dengan menghela nafas kasar.
Zahra dan Aeni duduk di sofa dengan helaan nafas yang kasar.
*Tok
Tok*
Aeni membuka pintu nya dan munculah Irwan dengan wajah datar nan dinginnya.
"Ada apa Tuan?" tanya Aeni dengan sopan.
"Tolong panggilkan Nona Zahra" ucap Irwan formal.
Aeni hanya menganggukan kepala saja, ia lalu masuk kembali ke dalam untuk memanggil Zahra.
Hingga tak lama kemudian, Aeni kembali lagi bersama dengan Zahra.
"Ada apa Asisten Irwan?" tanya Zahra.
"Anda di panggil oleh Tuan muda, Nona" jawab Irwan
"Baiklah" balas Zahra, lalu Zahra mengikuti langkah Irwan yang membawa nya ke sebuah ruangan khusus.
Sedangkan Aeni sendiri ia masuk ke dalam kamar nya dan terkekeh kecil saat setelah pintu nya tertutup.
"Ya ampun kenapa aku yang ingin tertawa keras ya melihat sikap formal Mbak Zahra dan yang lainnya" ucap Aeni dengan merebahkan tubuh di atas ranjang.
__ADS_1
"Untung saja kami mengetahui bahwa ada yang mengikuti, jadi kami bisa waspada" gumam Aeni.
Ya, saat perjalanan menuju ke kamar nya di penginapan, mereka di ikuti oleh Kartika yang memang menginap di Hotel yang sama.
Dan beruntung nya hal tersebut di sadari oleh Aeni saat membuka cermin nya dan melihat ada yang mengikuti. Untung nya, Zahra dan Raymond sedang tidak bergandengan ataupun bermesraan.
*
Sedangkan di dalam ruangan , Zahra masuk ke dalam kamar yang ada di sana.
Ia tersenyum kecil saat melihat Ray sudah ada disana.
"Kemarilah sayang" ucap Raymond dengan tersenyum.
Zahra langsung saja menghampiri Ray dan memeluk nya dengan manja.
Lalu Zahra menyenderkan kepala nya di dada bidang sang Suami.
"Tidurlah, sayang" ucap Raymond lembut.
Kemudian Ray mengusap lembut kepala Zahra, ia mengecup nya berkali-kali.
Sampai pada akhir nya terdengarlah nafas Zahra yang mulai teratur tanda sudah terlelap.
"Aku tidak mempermasalahkan kita akan punya Anak atau tidaknya, sayang. Aku hanya ingin kamu sehat, bahagia dan selalu berada di sampingku saja sudah lebih dari cukup" bisik Raymond dengan lembut.
"Cepat pulih, biar kita bisa liburan untuk menghilangkan penat kita, sayang" ucap nya lagi sambil mengecup kening Zahra.
Raymond lalu menggendong Zahra dan merebahkannya di ranjang, ia juga ikut merebahkan disana dan memeluk Zahra dengan erat.
Kemudian tak lama mereka sudah terlelap dengan saling memeluk dan memberikan kehangatan.
__ADS_1
Sedangkan Irwan sendiri pun keluar dari ruangan tersebut bersama dengan anak buah nya.
"Kamu belikan makanan untuk kita ya, karena kita akan lembur sampai nanti menjelang malam" ucap Irwan pada anak buah nya.
"Baik Tuan" balas Anak buah nya.
Irwan kemudian masuk kembali dan mengunci pintu nya. Ia menghela nafas kasar saat melihat Kartika yang masih saja ada di depan ruangan tersebut.
Kemudian Irwan memberikan intruksi pada anak buah nya agar membuat Kartika pergi dari sana karena Citra akan ke ruangan itu.
Setelah itu Irwan menghempaskan tubuh nya di atas sofa yang empuk.
"Heh merepotkan sekali sih" gerutu Irwan dengan kesal.
Hingga tak lama perhatiannya terbuyarkan saat pintu di ketuk oleh seseorang.
Irwan lalu membuka nya dan tersenyum saat melihat Citra yang sudah ada di sana.
"Uh aku merindukan mu, sayang" ucap Irwan dengan manja.
Citra hanya terkekeh, setelah mengetahui dirinya hamil dan saat itu juga tingkah Irwan sedikit manja padanya.
Citra dan Irwan pun ikut beristirahat di kamar yang ada di samping kamar Raymond.
Mereka akan beristirahat sebelum makan malam datang, meskipun tidak mengikuti event mereka tetap saja merasakan lelah.
Apalagi Zahra yang ikut event dan kondisi nya yang belum pulih benar, ia sudah pasti merasakan lelah yang mendera diri nya.
.
.
__ADS_1
.