
Setelah acara selesai, Zahra dan keluarga nya pun langsung kembali ke Rumah.
Sedangkan Doni, ia langsung berangkat ke Bali untuk bulan madu.
"Kita makan malam di luar ya nanti, sekarang kita istirahat saja dulu" ucap Zahra lembut.
"Siappppp" balas Aeni dengan semangat.
"Siap banget ya Dek, apalagi gratisan" olok Bapak dengan terkekeh.
Aeni sontak langsung saja tertawa kecil. Sedangkan yang lainnya hanya menggelengkan kepala saja.
Mereka tiba di Rumah sudah sore, Zahra langsung menuju ke kamar nya dan begitupun dengan yang lainnya.
Belum sempat Zahra merebahkan tubuh nya, ponsel nya sudah berdering tanda ada yang memanggil.
"Ray, ada apa ya" gumam Zahra saat melihat nama kontak yang memanggil nya.
"Halo, Ray" ucap Zahra lembut.
"Kemana aja sih? Kenapa gak ngabarin" gerutu Ray dengan wajah kesal.
Zahra duduk di ranjang, ia terkekeh kecil melihat wajah kesal Raymond.
"Aku baru saja sampai di Rumah, acara pernikahan Bang Doni baru saja selesai, maaf ya" ucap Zahra tersenyum lembut.
"*Lain kali jangan lupa beri aku kabar dengan segera ya, aku khawatir" balas Ray
"Rinduuuu Kak bukan khawatir" teriak Citra dengan tertawa di belakang Ray*.
Zahra hanya tersenyum kecil, ia lalu melihat wajah Ray yang sedikit salah tingkah.
Keduanya terus saja bertukar kabar, bahkan Ray sangat enggan untuk mematikan panggilannya karena Rindu pada Zahra.
Hingga pada akhir nya Zahra terlelap dengan begitu saja, perjalanan yang jauh dan tanpa istirahat ia langsung ke acara pernikahan.
Zahra terlelap dengan nyenyak, ia bahkan tidak menyadari bahwa panggilan Vidio tersebut masih berlangsung.
"Tidurlah, aku tahu kau pasti lelah" ucap Ray dengan lembut.
Tut.
Ray lalu mematikan panggilannya, ia tidak akan mengganggu sang wanita nya yang sedang terlelap.
**
Sedangkan di Rumah Wendi, mereka berdua sudah bersiap untuk berangkat ke Bandara.
Mereka akan pergi ke Amerika untuk menjalankan bisnis Bos Wendi.
__ADS_1
"Hati-hati, ya" ucap Ibu Jeni lembut.
"Iya Bu, kalian juga jaga kesehatan ya disini. Nanti jika Adik libur kalian berangkat kesana saja" balas Amelia dengan memeluk mereka bergantian.
Ibu Jeni menganggukan kepala, ia lalu membalas pelukan menantu nya.
Setelah berpamitan, Amelia dan Wendi masuk ke dalam taxi yang sudah ada di depan Rumah mereka.
Dan taxi itupun langsung saja menuju ke Bandara.
Setelah kepergian Wendi, Ibu Jeni dan Suami nya kembali masuk ke dalam Rumah.
Mereka berdua duduk dengan helaan nafas kasar.
"Bu, kita temui Zahra ya. Kita minta maaf pada dia" ajak Ayah Beni.
"Tapi Ibu malu, Yah" balas Ibu Jeni dengan lirih.
Ayah Beni menghela nafas lelah, ia menatap sang Istri dengan tatapan yang dalam.
"Bu, apa Ibu tidak mau minta maaf pada Zahra setelah apa yang kita lakukan pada nya dulu? Ayolah Bu, buang ego mu itu" ucap Ayah dengan tegas.
"Ba baiklah Ayah" balas Ibu Jeni dengan terbata.
Ayah menyandarkan kepala nya di sandaran sofa, ia memejamkan mata nya dengan helaan nafas yang memburu.
"Kita sudah banyak salah pada Zahra, semasa ia menikah dengan Putra kita dia tidak pernah merasakan apa yang namanya kasih sayang mertua. Hingga dia bertekad sampai berpura-pura agar di lihat oleh kita.
"Aku berharap, kita tidak melakulan hal yang sama pada Amelia, kita harus tetap mendukung mereka apapun yang terjadi" ucap nya lagi dengan serius.
Ibu Jeni menganggukan kepala, ia membenarkan semua ucapan sang Suami.
"Ayah benar, kita sudah terlalu cuek hingga pada akhir nya membuat Anak gadis oranglain terluka" balas Ibu Jeni dengan lirih.
Mereka sama-sama menghela nafas kasar, setelah nya hanya keheningan yang ada di sana.
Sepasang suami istri itu sama-sama terdiam dalam pikirannya masing-masing.
Hingga pada akhir nya Ibu Jeni memilih untuk pergi Istirahat ke kamar nya sebelum makan malam tiba.
*
-Restoran
Zahra dan keluarga nya makan malam di Restoran mewah yang ada di Jakarta.
Terlihat raut wajah bahagia di ketiga nya, meski pun Doni selalu mengajak mereka makan di Restoran tetapi tak semewah yang mereka tempati sekarang.
Mereka sengaja memilih di outdor agar menikmati semilir angin malam dan suasana Kota Jakarta dengan tenang.
__ADS_1
"Bagaimana sekolah mu, Dek?" tanya Zahra kembali.
"Baik-baik saja, Kak. Insya Allah bulan depan aku akan ikut ujian dan akan mendaftar di UI" jawab Aeni penuh semangat.
"Jangan coba-coba kerja lagi" ucap Zahra dengan tatapan tajam nya.
Glek.
"I iyaaa Bos" balas Aeni sedikit gugup.
Ibu dan Bapak terkekeh melihat Aeni yang selalu patuh akan perintah dari Zahra, bahkan tak jarang Zahra selalu saja membuat aturan sang Adik, Aeni.
Tak berselang lama, makanan yang mereka pesan pun sudah sampai.
Aeni , Bapak dan Ibu meneguk ludah nya dengan kasar saat melihat bagaimana makanan di hadapan nya yang sangat menggugah selera.
"Ayo makan, kalau kurang kita pesan lagi" ucap Zahra tersenyum.
"Ehemm, boleh gak pesen ice cream sama makanan penutup lainnya?" tanya Aeni dengan cengengesan karena malu. Aeni sangat tergiur melihat orang yang ia tadi lihat di lantai bawah sedang menikmati ice cream.
"Boleh, apapun untuk kalian" jawab Zahra lembut.
Ibu menggelengkan kepala nya, sudah lama mereka tinggal dan baru hari ini Aeni meminta sesuatu yang murni keinginannya.
Mereka langsung saja melahap makanan di hadapan mereka, ada seafood serta yang lainnya.
Keluarga menikmati makanan tersebut dengan diam.
Setelah hampir selesai, Aeni memesan makanan penutup dan juga ice cream.
Ia memang sudah sangat ingin makan ice cream dengan rasa yang berparian.
"Bu, Pak, kalian mau makan apa lagi?" tanya Zahra sambil tersenyum.
"Sudah cukup sayang, Bapak sudah sangat kenyang sekali karena makanannya enak banget. Pasti mahal kan?" jawab Bapak dengan penasaran.
Zahra hanya tersenyum, ia tidak merasa kemahalan ataupun merasa terkuras uang nya demi mereka.
Makanan dan Ice cream penutup pun datang, Aeni langsung menikmati nya dengan lahap.
Ibu dan Bapak hanya mencicipi nya saja dengan tersenyum melihat Aeni yang lahap.
"Pelan-pelan, Nak" tegur Bapak dengan gelengan kepala.
Aeni cengengesan dan menganggukan kepala nya, ia menikmati kembali makanan tersebut dengan diam dan elegant.
.
.
__ADS_1
.