
Zahra dan Raymond duduk santai di balkon kamar, mereka menikmati udara siang hari yang lumayan cerah hari ini.
"Sayang, bukannya besok Rena akan datang kemari?" tanya Ray lembut.
"Iya Mas, Rena akan memeriksa jahitan serta kondisi ku" jawab Zahra menatap Ray.
Ray mengusap lembut pipi Zahra, ia tersenyum kecil karena melihat Zahra yang malu.
"Maaf ya Mas" ucap Zahra dengan lirih bahkan wajah nya pun ia tundukan.
"Tidak perlu meminta maaf sayang, aku akan sabar menunggu nya. Aku tidak akan egois hanya demi nafsu semata" balas Ray saat mengerti kemana arah pembicaraan sang Istri.
Zahra menghela nafas panjang, ia lalu memeluk Ray dengan erat.
Mereka menikmati siang menuju sore itu dengan hening dan saling memeluk.
***
-Indonesia.
Pesawat yang membawa Wendi, Amelia dan kedua orangtua Wendi pun sudah tiba di Bandara.
Wendi menghela nafas kasar, ia melepaskan semua karir dan pekerjaan karena memang tidak memungkinkan.
"Ayah, Ibu" panggil Adik Wendi dengan melambaikan tangannya.
__ADS_1
Ayah Beni tersenyum, ia lalu mengajak keluarga nya ke arah sang Putri.
Amelia mendorong kursi roda milik Wendi, ia melangkah dengan pasti.
"Maafkan aku Mom, Dadd. Aku memilih bersama dengan Mas Wendi meski semuanya akan terasa berat, apalagi dengan keadaannya yang lumpuh. Tetapi aku sangat bahagia , karena dia adalah cinta pertama ku" batin Amelia dengan tetap melangkah.
Wendi mengusap lembut lengan Amelia, ia merasa bersyukur karena wanita itu masih mau bertahan dengannya.
"Terimakasih untuk mempertahankan rumah tangga ini, aku berjanji tidak akan bertindak bodoh dengan meninggalkan mu Amelia. Aku sudah menyesali perbuatanku dulu pada Zahra dan aku tak ingin mengulangi nya lagi padamu, apapun alasannya" batin Wendi dengan tulus.
Amelia di bantu oleh Ayah mertua nya untuk mendudukan Wendi di atas kursi mobil. Setelah itu, mereka langsung masuk dan pergi dari Bandara tersebut.
Adik Wendi melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang, ia melirik Wendi yang sejak tadi diam saja.
Hening.
Di dalam mobil tersebut kembali hening, mereka larut dalam pikirannya masing-masing. Dan Amelia pun memilih memejamkan mata nya sebentar.
Wendi menyenderkan kepala Amelia pada pundak nya, ia mengusap lembut kepala sang Istri.
"Maaf membuatmu kelelahan" bisik Wendi pada Amelia.
Kemudian Wendi pun membiarkannya agar tetap terlelap.
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di halaman Rumah Ayah Beni.
__ADS_1
Terlihat warga sekitar yang menatap mereka dengan tak suka.
Meski mereka tak tahu cerita Wendi dan Zahra, akan tetapi mereka tetap tahu bahwa Wendi meninggalkan Zahra.
Amelia mengerjapkan mata nya dan ia sadar bahwa mereka sudah sampai.
Lalu Amelia membantu Ayah Beni memindahkan Wendi pada kursi roda.
"Kalian langsung masuk dan istirahat saja, Nak. Ini biar Ayah dan Adikmu saja yang membawa masuk nya" ucap Ayah Beni pada Amelia dan Wendi.
"Iya Ayah, maaf merepotkan ya Ayah" balas Amelia tak enak.
Ayah hanya mengangguk dan tersenyum, lalu Amelia pergi masuk ke dalam Rumah karena takut Wendi kelelahan.
"Pindah lagi ya, Pak Beni?" tanya tetangga Rumah nya.
"Iya Bu" jawab Ayah Beni sambil tersenyum ramah
"Pak Beni lihat berita enggak? Disana terlihat wajah cantik Zahra dengan kebanggaanya mendapat kemenangan" celetuk salah satu dari mereka.
Ayah Beni hanya mengangguk tanpa menjawab, ia juga langsung saja masuk dan meninggalkan mereka yang sedang bergosip.
.
.
__ADS_1