
Sedangkan di lain tempat, tepat nya di dalam mobil milik Raymond mereka sedang berusaha tenang.
Irwan dan Ray sudah mengatur semua nya agar posisi Zahra tetap aman dan tidak akan ketahuan.
Ray sudah mengira bahwa anak buah Niko lah yang memantau Rumah sakit tersebut dan ternyata benar saja mereka orang nya.
"Bagaimana bisa mereka tahu bahwa kita ada disana, Ir?" tanya Raymond dengan kesal.
"Seperti nya salah seorang dari mereka melihat kita yang keluar dari Rumah sakit" jawab Irwan dengan yakin.
"Huh dia belum jera juga, aku yakin dia akan semakin memantau disana. Lebih baik aku bawa Zahra pulang saja" ucap Ray.
Irwan mengangguk, ia juga takut nanti akan kecolongan jika terus membiarkan para wanitanya disana.
"Kapan kita akan membalas nya, Tuan?" tanya Irwan.
"Jangan dulu, biarkan Zahra fokus pada event dan kesembuhannya. Tetapi, kita harus mengawasi nya dan tetap menjaga keamanan untuk ketiga wanita" jawab Raymond dengan tegas.
"Apalagi dia belum menyentuh kita sama sekali, dia hanya cuma bisa menggretak saja" ucap Ray kembali.
"Baik Tuan" patuh Irwan.
Hingga mereka tiba di halaman belakang Rumah sakit dan langsung menuju ke parkiran khusus yang biasa mereka lakukan.
Dari sana, mereka berdua langsung saja menuju ke ruangan dimana Zahra di rawat. Ray sudah menyuruh Rena mengatur kepulangan untuk Zahra dan memberikan beberapa obat nya.
Ceklek.
Ray membuka pintu ruangan Zahra, terlihat disana ketiga nya sudah siap untuk pulang.
"Setiap 1 minggu sekali aku akan memeriksa nya, Bang" ucap Rena sebelum mereka pergi.
"Baiklah, tetap waspada" balas Ray.
"Ayo kita pulang" ajak Ray.
__ADS_1
Zahra, Bunda dan Citra mengangguk, Zahra di gendong langsung oleh Ray karena memang belum terlalu sembuh.
"Tenanglah, kami baik-baik saja kok" bisik Zahra dengan lembut.
Huh.
Ray menghembuskan nafas kasar, ia lalu mengecup kening Zahra tanpa membalas ucapan sang Istri.
Zahra tersenyum saat melihat wajah panik sang Suami yang kentara di wajah tampan nya.
Zahra pun mengusap lembut wajah Ray, ia mencoba menenangkan sang Suami dengan lembut.
Ray menatap Zahra dengan senyuman, ia bahkan menggesekan hidung nya ke hidung sang Istri.
"Ibu dan yang lainnya akan sampai malam ini di mansion, sayang" ucap Ray pada Zahra.
"Benarkah? Ah aku sangat merindukannya" balas Zahra dengan tersenyum bahagia.
"Iya sayang, mereka nanti akan langsung ke mansion kita" ucap Ray kembali.
***
Saat ini, Wendi dan Amelia sedang menuju ke Rumah sakit untuk memeriksaan diri karena ingin segera mempunyai keturunan.
"Mas, semoga saja kita baik-baik ya dan secepatnya dapat keturunan" ucap Amelia dengan menggandeng tangan Wendi untuk masuk ke dalam ruangan obgyn.
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya" sapa Dokter tersebut dengan sopan.
"Siang Dok" balas Wendi dan Amelia.
Dokter mempersilahkan mereka duduk dan setelah Amelia menyebutkan kepentingan dia dan Wendi datang kesana.
"Kalau begitu mari kita periksa, mau Nyonya dulu?" tanya Dokter.
Amel mengangguk, ia lalu berbaring disana dan dengan cekatan perawat serta Dokter memeriksa nya.
__ADS_1
Dokter memeriksa keseluruhan nya dan USG yang terakhir.
Jantung Amelia berdebar dengan kencang karena takut kalau dia yang bermasalah dan berakhir akan di tinggalkan oleh Wendi.
"Sudah Nyonya, sekarang tinggal Anda Tuan" ucap Dokter.
Amel mengangguk, lalu ia di bantu oleh perawat untuk memperbaiki diri nya.
Setelah itu, baru Wendi yang di periksa oleh Dokter.
Hampir setengah jam Wendi menjalani pemeriksaan dan itu membuat Amelia sangat deg deg an.
Hingga pada akhir nya, Dokter , Perawat dan Wendi keluar bersama dari balik tirai.
"Begini Tuan, Nyonya" ucap Dokter dengan menatap Wendi dan Amelia.
"Untuk anda Nyonya, semua nya baik-baik saja dan bahkan sehat serta subur. Jadi anda sangat akan cepat untuk memiliki anak" jelas Dokter.
Amelia dan Wendi hanya diam mendengarkan ucapan selanjutnya dari Dokter, mereka harap cemas dengan penjelasan Dokter yang selanjutnya.
"Dan disini masalah nya ada pada diri Tuan, anda mengidap penyakit infertilitas" ucap Dokter kembali dengan semua penjelasannya.
Deg.
Wendi sangat kaget, karena ia ternyata yang bermasalah dan ia juga yang tak subur.
Ia mengidap penyakit sama seperti Paman nya yang akan susah mempunyai Anak.
Amelia melepaskan genggaman tangan sang Suami, ia sama kaget nya dengan Wendi.
.
.
.
__ADS_1