Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 98


__ADS_3

Sudah jam 09 malam, namun Zahra tak kunjung terlelap. Dia masih saja menunggu Ray belum pulang dan bahkan tidak memberi nya kabar.


Bunda yang memang akan ke dapur pun melihat lampu ruang tengah masih menyala, dia langsung saja menghampiri ke ruangan tersebut.


"Nak" panggil Bunda dengan lembut.


Zahra menatap Bunda dengan sendu, entah kenapa dia selalu saja gampang menangis.


"Bunda, Mas Ray belum pulang" ucap nya dengan sendu.


"Sebentar lagi mungkin, sekarang kamu masuk kamar saja dan istirahat ya" balas Bunda mengusap lembut kepala Zahra.


Namun Zahra menggelengkan kepala nya, dia tetap ingin disana dan menunggu Suami nya, Raymond.


Bunda duduk di samping Zahra, kemudian dia mengusap lembut wajah menantu nya.


"Istirahatlah Nak, kasihan baby dan kamu juga terlihat sangat lelah. Biar Bunda yang menunggu Ray disini" bujuk Bunda dengan lembut.


Zahra tak menjawab, dia malah menundukan kepala nya di hadapan Bunda.


Bunda menarik nafas pelan, dia kemudian meraih ponsel nya dan mencoba menghubungi Anak serta menantu nya.


Namun sudah 3 panggilan, tidak di angkat sama sekali oleh Ray maupun Irwan.


"Ayo istirahat dulu sama Bunda, gak apa disini saja tidur nya" bujuk Bunda dengan menunjuk karpet bulu yang ada di hadapannya.

__ADS_1


Zahra mengangguk, Bunda langsung saja memanggil pelayan untuk mengambilkan selimut dan juga bantal serta kasur agar Zahra nyaman.


Setelah selesai, kedua nya langsung berbaring disana dengan Zahra yang memeluk sang Bunda.


Bunda mengusap lembut pinggang Zahra, hingga tak lama kemudian Zahra langsung terlelap.


"Ray, kamu dimana sih? Libatlah padahal dia sudah lelah namun masih mau menunggu mu dan sekarang terlelap karena lelah" gumam Bunda dengan kesal.


Tepat jam 11 malam, pintu utama di buka dan masuklah Raymond dengan wajah bermasalah nya. Dia melihat sang Istri yang gelisah dalam tidur nya, sedangkan Bunda sendiri masih terjaga dan mengusap lembut kepala Zahra.


"Bunda" panggil Ray lirih.


"Apa" balas Bunda ketus.


Ray mendekat dengan nafas yang terdengar kasar, dia juga menatap sendu pada sang Istri.


"Kenapa kamu lama sekali, Ray? Bukannya sudah janji pada Zahra akan makan malam di Rumah?" tanya Bunda dengan pelan.


"Maaf Bun, jalanan macet dan ponsel ku mati" jawab Ray dengan menyesal.


Bunda mengangguk, memang tadi ada pemberitahuan di berita bahwa jalanan sangat macet total karena terjadi kecelakaan.


"Yasudah, sekarang kamu bangun kan Zahra dan ajak makan malam kembali" ucap Bunda beranjak dari sana.


Namun karena pergerakan dari sang Bunda, Zahra perlahan membuka mata nya dan menatap Ray dengan tersenyum.

__ADS_1


Ces.


Hati Ray sangat sakit ketika melihat senyuman sang Istri yang terkesan sayu.


"Mas, kapan pulang? Ayo makan" ajak Zahra dengan antusias.


Bunda dengan cepat menatap tajam sang Putra, memang sudah kebiasaan Zahra makan malam hampir tengah malam karena rasa lapar nya yang tak tertahan.


Ray langsung mengangguk, dia lalu membantu Zahra untuk bangun dari tidur nya.


"Aku ingin makan puding buah saja dan kamu temenin aku" ucap Zahra kembali.


"Iya sayang, tapi jangan terlalu banyak oke" balas Raymond lembut.


Zahra mengangguk patuh, lalu kedua nya pergi dari sana menuju dapur. Sedangkan Bunda sendiri sudah kembali ke kamar nya.


Ray mengambilkan puding tersebut untuk Zahra dan diri nya. Zahra tersenyum senang menerima nya, dan lalu melahap nya hingga tandas.


Ray menatap Zahra dengan tak enak, dia akan meminta maaf karena sudah membuat nya menunggu terlalu lama.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2