
Setelah mengantarkan Fera, Zahra kembali ke Rumah dengan membawa makanan karena ia tak sempat masak.
Terlihat bahwa Suami nya sudah bangun dan sedang duduk di teras depan sendirian.
"Habis dari mana?" tanya nya dengan agak kesal.
"Nganterin Fera, kasihan belum sarapan" jawab Zahra dengan menunduk.
Terdengar suara Wendi yang membuang nafas kasar, ia lalu mengajak Zahra untuk masuk dan menyiapkan makanan.
"Mas, bagaimana kalau kita pindah ke Rumah belakang?" usul Zahra dengan harap cemas.
"Boleh, mumpung aku libur mending hari ini saja kita pindahkan barang-barang kita" balas Wendi dengan tersenyum.
Zahra mengangguk setuju, ia lalu dengan cepat menghabiskan makanan nya.
Setelah itu, Zahra membuatkan Wendi kopi terlebih dulu sebelum pergi ke kamar.
"Oh iya Zah, Ibu kemana ya?" tanya Wendi.
"Kata Fera sih ke pengajian yang ada di dekat Rumah Bu Rt" jawab Zahra dengan memberikan kopi tersebut.
Wendi mengangguk, ia lalu menyuruh Zahra untuk mengemas semua barang yang akan di pindahkan ke Rumah belakang.
"Nanti alat-alat masak kita beli saja kalau sudah selesai beres-beres" ucap Wendi.
"Iya Mas" balas Zahra.
Zahra lalu pergi ke kamar untuk membereskan semua nya, ia melangkah dengan senyuman yang mengembang di bibir nya.
Zahra dengan semangat mengemas semua pakaian, keperluannya dan yang lainnya.
Hingga tak lama kemudian, Wendi datang dan membantu sang Istri membereskan semua nya.
Wendi dan Zahra tidak membawa ranjang dan lemari karena disana pun sudah ada.
Setelah semua nya selesai, Wendi membawa nya satu persatu ke belakang bersama dengan Zahra.
Zahra menata kembali di kamar yang ada di Rumah belakang dan Wendi yang membawa nya dari Rumah depan.
Mereka berdua bekerja sama dengan sesekali Wendi menjahili sang Istri.
Hampir 2 jam mereka menyelesaikan semua nya, menata ruang tamu dan juga dapur.
Bahkan Zahra menata kembali kamar nya agar nyaman.
"Ayo kita beli yang lainnya" ajak Wendi.
"Sebentar Mas" balas Zahra yang sedang sibuk mencatat semua yang harus di beli.
Setelah di rasa semua nya sudah, Zahra dan Wendi pun berangkat menuju ke toko furniture yang dekat saja tapi semua nya ada.
__ADS_1
Mereka menggunakan mobil Wendi karena mereka sekalian akan membeli bahan makanan untuk 1 minggu ke depan.
"Mas, minggu depan kita pulang ke Rumah Ibuku?" ajak Zahra.
"Yah, Mas akan berburu lagi dengan teman-teman. Bagaimana kalau sama Aeni?" usul Wendi dengan enteng.
"Tidak usah, aku akan pulang sendiri saja Mas" tolak Zahra dengan cepat.
Zahra lalu diam dengan memandang keluar jendela sambil tersenyum kecut.
Sedangkan Wendi, ia merasa tak enak pada Zahra karena sudah menolak keinginan nya.
Tak lama kemudian mereka sampai di toko furniture dan Zahra langsung keluar dari dalam mobil.
Ia memberikan kertas pada pelayannya dan minta barang yang bagus dan di antarkan ke alamat tersebut.
Zahra membayarnya setengah dulu dan setengah nya nanti pas datang barang.
Lalu ia kembali ke dalam mobil sebelum Wendi keluar dari sana.
"Langsung saja pulang Mas" ucap Zahra tanpa memandang Wendi.
"Sayang, tidak jadi ke pasar?" tanya Wendi.
"Tidak Mas, aku akan berangkat besok pagi saja ke Rumah Ibu dan hari Kamis pagi pulang kesini lagi" jawab Zahra cepat.
"Loh kenapa besok?" tanya Wendi kembali sambil melajukan mobil nya.
"Sakit Mas" batin Zahra seakan-akan menjerit.
Wendi menghembuskan nafas kasar, ia melajukan mobil nya dengan agak cepat karena tidak nyaman dengan sikap diam sang Istri.
"Apa hobby mu lebih penting Mas, sampai-sampai kau menyuruhku bersama oranglain untuk pulang ke Rumah orangtua ku" bagin Zahra kembali dengan dada yang sesak.
Zahra menyeka air mata nya yang akan menetes, ia lalu memalingkan wajah nya ke samping dan menatap lurus keluar jendela.
Zahra seolah-olah tidak punya Suami saat ia butuh ia harus pergi dengan oranglain dan hal tersebut sudah berjalan 4 bulan ini.
Sesampai nya di Rumah, Zahra langsung keluar dan berjalan ke samping Rumah mertua nya dengan cepat agar sampai di Rumah belakang.
Ia sangat sesak saat lagi dan lagi sang Suami menyuruh nya bersama dengan yang lain padahal ia ingin Suami nya yang bersama nya.
Ceklek.
Zahra masuk ke dalam kamar dan menuju ke kamar mandi. Ia menangis disana dengan sejadi-jadi nya, bahkan Zahra terisak dengan dada yang bergemuruh sakit.
"Zahra" panggil Wendi dengan lantang.
"Sayang, Zah" panggil nya lagi saat tak ada jawaban.
Wendi masuk ke kamar dan mendengar suara gemircik air yang ada di toilet.
__ADS_1
Saat akan mengetuk nya, pintu terbuka dan menampakkan wajah sembab Zahra.
"Maaf Mas, aku sakit perut jadi langsung kemari" ucap Zahra dengan tersenyum tetapi sisa segukan nya masih ada.
Wendi memeluk Zahra dengan erat, ia sangat sakit saat melihat wajah sang Istri yang sembab, apalagi Zahra yang tak membalas pelukannya.
"Mas, perlengkapannya sudah datang" ucap Zahra melerai pelukannya saat mendengar ada suara mobil lumayan besar di halaman sang Mertua.
Zahra langsung meninggalkan Wendi dan berlari ke depan , dan ternyata memang benar bahwa itu mobil barang.
Zahra langsung menyuruh nya menurunkan dan di masukan ke dalam Rumah belakang.
Wendi menatap Zahra yang sesekali memberi perintah tetapi tangannya yang menyeka air mata.
"Maafkan aku Zah, aku bingung harus bagaimana" gumam nya karena ia sudah terlanjur janji pada teman-teman nya.
Hingga semua nya sudah selesai dan di tata langsung pelayan toko nya.
Zahra melunasi semua nya dan memberikan tips untuk mereka.
Zahra masuk ke dalam, ia menatap Wendi yang sedang menatap dirinya dengan sorot mata yang bingung.
"Aku tidak apa, pergilah untuk berburu bersama mereka. Aku sudah terbiasa sendiri sekarang" ucap Zahra sambil melangkah pergi ke dapur.
Deg.
Jantung Wendi berpacu kencang saat mendengar ucapan sang Istri. Apa begitu sering nya ia meninggalkan Zahra sampai sang Istri mengucapkan kata terbiasa.
Wendi langsung saja menghampiri Zahra yanh sedang berada di dapur, ia melihat Zahra yang sedang terisak dan mencuci sayuran.
"Zah, apa maksud mu berbicara seperti itu?" tanya Wendi dengan lirih.
"Tidak ada Mas, maaf aku hanya terbawa emosi saja" jawab Zahra membalikan badannya.
Dan lagi lagi Wendi melihat Zahra tersenyum manis tetapi wajah yang sembab dan sisa air mata yang menganak di pelupuk nya.
"Wendi, Zahra" panggil Ibu Jeni dengan teriak.
"Temui dulu Ibu, bilang bahwa kita ingin mandiri makannya pindah kemari. Aku akan menyelesaikan masakannya dulu" ucap Zahra dengan membalikan tubuh nya.
Wendi pasrah, ia menghampiri sang Ibu terlebih dulu sebelum membahas masalah salah paham bersama sang Istri.
Sesampai nya di Rumah Ibu Jeni, Wendi langsung menjelaskan semua nya dan Ibu nya hanya bisa mengangguk pasrah saja atas kemauan sang Putra.
Setelah selesai berbicara dengan Ibu nya, Wendi kembali menemui Zahra yang masih berkutat di dapur.
.
.
.
__ADS_1