
Sesampai nya di mansion, Zahra tidak sama sekali di biarkan untuk memasak ataupun bekerja yang lainnya.
Ray dan yang lainnya benar-benar menjaga kesehatan Zahra dan sang Baby.
"Setelah ke hamilan mu memasuki bulan ke empat, kita ke tanah air. Kalau sekarang kamu butuh istirahat banyak dulu" ucap Raymond lembut.
"Iyaa Mas, aku gak apa kok" balas Zahra tersenyum.
"Aku pergi dulu bersama Irwan ya" pamit Raymond.
Zahra menganggukan kepala, ia mengantar Ray sampai ke depan mansion.
Setelah melihat kepergian Ray, Zahra masuk kembali ke dalam.
Zahra bergabung bersama dengan Bunda dan Citra yang sedang duduk santai di ruang tengah.
***
Ray dan Irwan langsung saja menuju ke tahanan yang sudah di huni oleh Niko dan keluarga nya.
"Bagaimana keadaan mereka?" tanya Raymond.
"Mereka baik-baik saja, tetapi kadang masih sering bikin keributan sih karena mungkin tidak terima" jawab Irwan.
"Oh iya, jangan sampai keluar berita kehamilan Zahra" ucap Ray dengan cepat.
"Aman" balas Irwan.
__ADS_1
Mereka kembali hening, hanya musik saja yang menemani mereka dalam perjalanan tersebut.
Hingga tak lama kemudian mereka sampai di Rumah minimalis dengan aksen khas Negara tersebut.
Mereka berdua langsung saja masuk ke dalam Rumah itu, dari luar nampak Rumah biasa saja yang berpenghuni namun mereka tidak tahu bagaimana dalam nya.
"Selamat datang Tuan muda" sapa mereka setelah Raymond masuk.
Ray hanya mengangguk saja, ia dan Irwan terus saja berjalan ke arah dimana tahanan mereka berada.
Sampai tibalah mereka di ruangan bawah tanah, disana bisa terlihat berbagai alat yang padam dan ada sel tahanan yang di huni.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Raymond dengan terkekeh.
"Kau, keluarkan kami dari sini" teriak Kartika dengan kuat.
Niko terlihat mengepalkan tangannya, dia ingin sekali meninju lawannya.
Dan para orangtua pun hanya bisa diam saja.
"Kau ingin meninju ku? Ayo lakukan aku tidak takut sama sekali" olok Irwan kembali.
"Sekarang kalian sudah seperti sampah yang di buang masyarakat, bahkan kekayaan kalian pun sudah lenyap karena keserakahan kalian" ucap Raymond dengan lugas.
"Itu tidak akan terjadi, karena masih ada malik yang mengurus perusahaan ku" balas Niko tersenyum.
Heh.
__ADS_1
"Kau yakin sekali rupanya Tuan muda, perlihatkan" ucap Ray pada anak buah nya.
Lalu layar di hadapan mereka menyala, terlihat disana Malik sedang melakukan transaksi jual beli perusahaan Niko.
Dia melakukan semua nya demi menutupi gajih karyawan yang tak di bayar oleh Niko sejak 3 bulan yang lalu.
"Apa apaan dia, kenapa dia menjual perusahaan ku" bentak Niko dengan tak percaya.
"Karena dia harus membayar gajih karyawan yang sudah kau pakai uang nya untuk bersenang-senang bersama dengan Kartika, bukan" balas Ray dengan tenang.
"Dan kau tahu siapa yang membeli nya?" tanya Irwan dengan tertawa sinis.
Niko diam, dia tidak tahu sama sekali akan hal itu.
"Ray, dia yang membeli nya dan hari ini juga perusahaan itu akan di hancurkan" ucap Irwan kembali dengan tawa nya yang dalam.
Bugh.
"Kalian pasti sengaja bukan" bentak Niko penuh dengan emosi.
"Oh tentu saja jelas, aku membantu Malik untuk menggajih karyawan mu" balas Raymond dengan santai dan tenang.
Niko menatap kedua nya tajam, dia tidak habis pikir bahwa perusahaan yang dia perjuangkan akan habis tidak tersisa karena ulah nya.
.
.
__ADS_1
.