Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 33


__ADS_3

Acara pernikahan Wendi pun terpaksa di hentikan karena masalah keluarga.


Semua tamu di bubarkan dan hanya keluarga inti saja, mereka mengajak semua nya untuk kembali ke Rumah Ibu Jeni.


"Mas, memang kenapa sampai Ibu tidak memberitahu yang sebenarnya pada Keluarga?" tanya Amelia yang juga sedikit kecewa pada mertua dan Suami nya.


"Apa kalian juga akan melakukan hal yang sama padaku kalau aku tak kunjung juga hamil?" tanya nya kembali dengan wajah masam.


Sedangkan Wendi hanya diam saja dan fokus pada jalanan di depannya.


Ia juga ikut merasa kecewa pada sang Ibu, ia kira kedua orangtua nya telah memberitahu pada seluruh keluarga ternyata ia salah, Ibu nya bahkan tidak memberitahu akan kebenaran tersebut pada mereka.


Sesampai nya di Rumah, mereka semua langsung masuk dan bertepatan dengan itu Paman dan Bibi nya Wendi pun akan keluar dengan membawa koper.


"Paman, Bibi, kalian akan kemana?" tanya Wendi dengan segera menghalangi langkah mereka.


"Kami akan pulang" jawab Paman dengan datar.


Wendi menggelengkan kepala nya, ia sudah berencana akan liburan terlebih dulu sebelum ia dan Amelia pergi ke Amerika.


"Maafkan kami, kami tidak bisa ikut berlibur dengan kalian. Kami akan pulang hari ini ke Medan karena Orangtua ku sakit" ucap Mila dengan lembut.


"Tidak Bibi, kalian sudah janji akan pergi berlibur dulu" tolak Wendi dengan cepat.


Paman tak mengindahkan semua ucapan Wendi, ia langsung saja membawa Mila keluar dan pergi dari sana.


"Mas, besok sebelum kita berangkat kita bisa ke Rumah Paman. Biarkan mereka tenangkan diri nya sendiri dulu" ucap Amelia lembut.


Wendi menatap nanar ke arah mobil Paman nya yang sudah menghilang, bahkan keluarga yang lainnya pun ikut serta pulang dan liburan keluarga pun gagal total.


"Ayo kita ke Rumah belakang" ajak Wendi pada sang Istri.


Amel mengangguk, ia lalu berpamitan pada kedua mertua nya dan pergi ke Rumah belakang.


Ibu dan Ayah hanya bisa menatap sendu ke arah kepergian keluarga dan Putra mereka. Mereka kira tidak akan ada yang merasa kehilangan saat Wendi berpisah dengan Zahra, tetapi mereka salah bahkan keluarga nya pun sangat kehilangan Zahra.


"Bu, Pak, aku sudah pernah katakan pada kalian bahwa Kak Zahra itu sangat istimewa di mata kami" ucap Fera dengan segera pergi dari sana.

__ADS_1


"Ayo kita istirahat dulu, nanti malam kita bahas ini" ajak Ayah pada sang Istri.


Bu Jeni menganggukan kepala nya, ia lalu pergi mengikuti langkah sang Suami menuju ke kamar nya.


**


Sedangkan di kediaman Doni, mereka baru saja sampai setelah singgah di gedung yang akan mereka pakai untuk pernikahan Doni.


"Ibu dan Bapak serahkan saja pada kalian, kami hanya akan ikut kalian saja" ucap Ibu


"Baiklah Bu, Doni dan Ana sudah mengurus semua nya hanya tinggal memesan makanan saja" balas Doni dengan menghempeskan tubuh nya di dekat Ana.


"Syukurlah kalau begitu" ucap Bapak dengan lega.


Mereka lalu membahas yang lainnya, bahkan Doni membahas tentang Zahra yang jauh dari mereka.


"Bu , bagaimana jika Zahra menikah dengan Ray dan mereka tinggal disana?" tanya Doni.


"Ibu tidak akan melarang nya, asalkan dia bahagia dan terus Ray juga menjaga Zahra" jawab Ibu dengan tenang.


"Ya, yang terpenting Zahra bahagia dan pasangannya pun menerima dia apa adanya. Ray kelihatannya sudah sangat mencintai Zahra bahkan ia terlihat sangat tulus" ucap Ana dengan tersenyum.


"Aku juga melihat nya begitu, ia terlihat sangat tulus dan mencintai Zahra. Bahkan ia tidak bisa jauh dari Zahra" balas Doni dengan tersenyum bahagia.


"Yasudah, nikahkan saja mereka Bu" celetuk Aeni dengan santai.


Pletak.


Doni menjitak kepala Aeni karena gemas, bisa-bisa nya ia dengan santai nya berbicara hal tersebut pada mereka.


"Auwww sakit Abang" protes Aeni dengan kesal.


"Mas gak boleh gitu" ucap Ana dengan menepuk lengan Doni.


Wle.


Aeni langsung saja mengolok Doni karena ia di bela oleh Ana, ia langsung saja memeluk sang Ibu saat Doni akan membalas nya.

__ADS_1


"Ehh sudahlah, ada benar nya juga kata Aeni. Kita harus segera menikahkan nya karena mereka sudah sama-sama dewasa" ucap Bapak dengan tegas.


"Besok kalau mereka pulang kita bahas ini saja, Pak" balas Doni.


Bapak menganggukan kepala nya, mereka lalu memutuskan untuk beristirahat saja di kamar nya masing-masing.


Sedangjan Doni, ia mengantarkan Ana ke Rsj karena ia jadwal piket malam ini.


Aeni pergi ke halaman belakang untuk belajar, ia bertekad untuk ikut ujian sekolah menengah Atas dan ia akan belajar dengan giat.


"Mau belajar, Nak?" tanya Ibu yang kebetulan keluar lagi karena ingin mengambil air minum.


"Iya Bu, sebentar lagi akan ujian dan aku harus segera daftar" jawab Aeni dengan semangat.


"Sudah tau mau kuliah dimana?" tanya Ibu dengan lembut.


Aeni menganggukan kepala nya, ia bertekad akan masuk ke UI lewat jalur beasiswa.


"Sudah Bu, tolong do'a kan aku ya supaya dapat beasiswa ke UI" jawab Aeni tersenyum.


"Kalau pun tidak, Ibu dan Bapak akan sekolahkan kamu disana tapi tidak gratis ya" ucap Ibu mengusap kepala Aeni lembut.


"Iya Bu, tapi mudah-mudahan aku bisa dapat beasiswa ya" balas Aeni memeluk Ibu dengan lembut.


Ibu membalas pelukan Aeni, ia menyayangi Aeni dengan tulus. Ibu ingin Aeni mendapatkan pendidikam yang tinggi agar tidak di rendahkan oleh orang lain.


"Yasudah sana belajar" ucap Ibu lembut.


"Iya Bu" balas Aeni.


Lalu Aeni pergi dari sana, ia langsung saja ke halaman dengan membawa beberapa makanan dan juga buku untuk belajar.


Sedangkan Ibu, ia kembali ke kamar nya untuk istirahat bersama dengan Suami nya.


.


.

__ADS_1


__ADS_2