Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 28


__ADS_3

Tak berselang lama, pesawat yang mereka tumpangi pun sampai di tempat tujuan.


"Tuan , ini dimana? Kenapa kita lama sekali di udara?" tanya Aeni penasaran.


"Nanti kalian juga akan tahu" jawab anak buah Ray.


Lalu mereka di bawa masuk ke dalam mobil yang mewah dan mereka hanya bisa nurut dan pasrah saja.


Beberapa saat, mereka sampai di halaman Rumah yang sangat mewah dan nampak sekali elegant.


"Silahkan kalian masuk saja, saya hanya bisa mengantarkan sampai disini" ucap anak buah Ray.


Bapak mengangguk, lalu ia mengajak Istri dan Aeni keluar dari dalam mobil.


Ting Nong.


Bapak menekan bel yang ada di samping pintu itu dua kali, dan tak lama kemudian seseorang membuka nya.


Ceklek.


"Bapak, Ibu, Aeni" ucap Ana dengan tersenyum senang.


"Loh Ana" kaget Ibu dan yang lainnya.


Ana hanya tersenyum, lalu ia membawa keluarga calon Suami nya ke dalam Rumah tersebut.


"Ana, ini Rumah siapa?" tanya Ibu saat mereka sampai di ruang keluarga.


"Rumah Ibu" jawab Zahra yang sedang berjalan ke arah mereka.


Deg.


Deg.


Deg.


"Zahra"


"Kakak"


Panggil mereka bertiga dengan kaget, bahagia dan haru. Zahra meneteskan air mata nya, ia lalu memeluk Bapak dan Ibu nya bersamaan.


Mereka bertiga menangis di pelukan itu, Zahra memeluk kedua nya dengan erat dan ia juga mencurahkan semua nya di pelukan tersebut.


"Maafkan Zahra, Pak, Bu" ucap Zahra dengan tangis yang tak kunjung henti.


Lalu mereka melepaskan pelukannya, dan tanpa di sangka Aeni langsung memeluk Zahra dengan tangis yang pecah.


"Hiks Kakak kemana saja? Kenapa Kakak pergi" ucap Aeni dengan sesegukan.

__ADS_1


"Ka kakak tahu, aku sangat merindukan Kakak" ucap nya lagi dengan memeluk Zahra erat.


Zahra diam, ia mengusap lembut punggung Aeni yang terus saja bergetar karena menangis.


"Maafkan Kakak, Aeni" balas Zahra dengan lirih.


"Ini bukan salah Kakak, ini salah Pak Wendi. Dia yang membuat Kakak pergi dan dia juga yang telah menggores luka untuk Kakak" ucap Aeni dengan emosi yang menggebu.


"Hei tenanglah, sayang" bujuk Zahra dengan memeluk Aeni kembali.


Aeni mengepalkan tangannya, ia memang masih saja membenci mantan bos nya.


Setelah puas menangis haru, Zahra membawa mereka duduk di halaman belakang, yang mana disana sudah ada Raymond, Bunda Fida dan Citra.


"Bunda, Ray , Citra, kenalkan mereka adalah kedua orangtua ku dan dia adalah Aeni, adik bungsu ku" ucap Zahra dengan bangga dan tersenyum.


"Dan Bapak, Ibu, Aeni, kenalkan mereka adalah keluarga Langit, ehemm" ucap Zahra kembali dengan gugup dan malu.


"Dia calon Suami Zahra, itu Bunda dan Adik nya" lanjut Doni dengan santai.


Raymond langsung saja menyalami kedua orangtua Zahra yang masih terkejut namun mereka masih bersikap ramah.


Bapak dan Ibu menatap Putri mereka yang sedang memalingkan wajah nya karena merona dan malu.


"Bapak akan bahagia jika Zahra bahagia, apa kalian tahu masa lalu Zahra?" tanya Bapak pada Raymond dan keluarga nya.


"Kami tahu semua nya , Pak. Kami menerima Zahra dengan tulus bukan untuk memperpanjang keturunan. Masalah keturunan itu sudah di atur oleh yang maha kuasa. Jika memang kita di takdir kan untuk dapat momongan, maka kita akan segera dapat begitupun sebaliknya" jawab Raymond dengan tenang dan santai.


Zahra hanya mengangguk saja, ia rasanya sangat kelu hanya untuk menjawab 'iya'.


Raymond dan keluarga nya langsung saja tersenyum bahagia.


"Habiskanlah waktu mu bersama mereka dulu, biar kami akan menyiapkan makan siang" ucap Ray lembut pada Zahra


"Terimakasih" balas Zahra menatap Ray dengan lembut.


Ray langsung menganggukan kepala, ia dan yang lainnya langsung masuk ke dalam Rumah dan mereka membiarkan Zahra melepas rindu dengan kedua orangtua nya.


*


Ray duduk bersama Doni di ruang keluarga, sedang Bunda , Aeni , Ana dan Citra berada di dapur untuk memasak.


"Kak, masa masakan Indonesia dong" pinta Citra pada Ana.


"Baiklah, ayo Aeni bantu Kakak" ucap Ana tersenyum.


"Oke" balas Aeni.


Lalu mereka berdua menyiapkan bahan-bahan nya dan Bunda Fida bersama Citra menyiapkan minuman dan makanan ringan.

__ADS_1


Mereka berempat kompak sekali dalam masak memasak, biasanya Citra akan memasak bersama dengan Zahra dan hal itu yang memicu mereka semakin akrab dan lengket.


Hingga 1 jam berlalu, dan hasil nya sedang di tata oleh Citra.


Sedangkan Aeni sedang memanggil Zahra serta orangtua nya.


Tak berselang lama, mereka semua sudah berkumpul di meja makan.


Dan mereka memulai makan siang nya, Zahra melayani Ray dengan telaten.


Dari mengambilkan makanan, minum serta yang lainnya.


***


Berbeda dengan keluarga satu ini, saat ini keluarga Wendi sedang berkumpul untuk membahas masalah pernikahan Wendi dan Amelia.


Terlihat raut wajah bahagia dari Amelia dan raut biasa saja dari Wendi.


Entah kenapa pikirannya hanya tertuju pada Zahra setelah pertemuannya dengan kedua manta mertua nya.


"Wen" tegur Ayah Beni yang melihat Wendi hanya diam saja.


"Kenapa Ayah?" tanya Wendi setelah sadar dari lamunan nya.


"Tuh Amelia suruh kamu milih cincin nya" ucap Ibu Jeni dengan tersenyum.


Wendi mengangguk, lalu ia menatap Amelia yang sedang memegang majalah cincin.


Amelia memberikannya pada Wendi, dan ia memilih yang lainnya.


"Aku bingung, urus saja semua nya oleh Ibu dan Amelia saja ya" ucap Wendi dengan helaan nafas kasar.


"Yasudah , biar semua urusan pernikahan ini biar aku sama Ibu saja yang urus" balas Amel dengan lembut dan ramah.


Wendi mengangguk, ia kembali fokus pada ponsel nya yang memang ada pekerjaan yang harus di kerjakan oleh nya.


"Dek, tolong ambilkan laptop Kakak" ucap nya pada Fera.


Fera menganggukan kepala dan pergi dari sana.


Sejak kejadian dimana Zahra pergi, sejak itu juga Fera jadi wanita pendiam dan juga cuek pada mereka keluarga nya.


Apalagi sejak tahu saat sang Kakak menjalin hubungan nya dengan Amelia dan melupakan begitu saja misi nya untuk membuat Zahra kembali lagi pada sang Kakak.


"Nih, Kak" ucap Fera memberikan laptop.


Setelah itu ia pergi dari sana dengan cuek , Ayah dan Ibu nya menghembuskan nafas kasar saat melihat Putri mereka yang berubah.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2