Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 102


__ADS_3

Semua nya berlalu dengan begitu cepat, bahkan kehidupan Wendi dan Amelia pun maju dengan semua usaha mereka. Hanya saja kondisi Wendi belum juga sembuh di karenakan ada keretakan tulang saat dia terjatuh.


Mereka berdua bahkan tidak di ketahui keberadaannya oleh orangtua Wendi, karena terakhir mereka bertemu dengan orangtua Wendi mereka bukannya mendukung malah mencaci.


Wendi sendiri sudah bertemu dengan Zahra, dia bahkan meminta maaf dengan sangat tulus pada wanita yang sudah di sakiti nya dulu.


**


Sudah 1 bulan sejak kejadian dimana Wendi datang ke hadapan Zahra.


Dan hari-hari mendekati persalinan mu di lewati dengan di temani Raymond yang tak pernah jauh dari sisi nya.


Bahkan Ray juga sudah 1 bulan ini bekerja dari Rumah demi menemani Zahra, tak segan dia juga selalu mementingkan Zahra di bandingkan pekerjaannya.


Seperti saat ini, Zahra duduk di sofa dengan santai dan Raymond sendiri mengerjakan beberapa berkas yang cukup penting.


"Mas, kalau sudah lahiran dan anak kita cukup bepergian, kita ke tanah air ya" ucap Zahra.


"Iya sayang, kita akan kesana dan menghabiskan waktu bersama keluarga mu yang lainnya" balas Ray menatap Zahra dengan senyuman.


Zahra hanya mengangguk setuju, kemudian dia sendiri fokus pada televisi yang ada di depannya.


Usia kandungannya sudah 9 bulan, bahkan menurut perkiraan Rena sebentar lagi Zahra akan melahirkan. Hal itulah yang membuat Ray selalu siaga.


"Sayang, Bunda dalam perjalanan menuju kemari" ucap Raymond saat membaca pesan yang masuk ke gawai nya.


"Wah benarkah?" tanya Zahra antusias.


"Iya, dia akan menginap sampai kamu melahirkan" jawab Raymond tersenyum.


Zahra langsung mengembangkan senyumannya, dia beringsut dan memeluk tubuh tegap Raymond karena bahagia.

__ADS_1


"Kita jalan-jalan sore, bagaimana?" tanya Ray.


"Mau, tapi di halaman depan saja ya" jawab Zahra dengan cepat.


Ray mengangguk, kemudian dia membereskan beberapa berkas dan menata nya di bawah meja.


Kemudian kedua nya pergi ke keluar dari mansion, Zahra bergelayut manja di lengan sang Suami, Raymond.


"Sehat-sehat ya, sayang" ucap Ray mengelus perut Zahra.


Mereka berjalan-jalan di sekitar sana, hingga perhatian mereka teralihkan dengan mobil yang di tumpangi sang Bunda masuk.


"Bunda" teriak Zahra dengan antusias.


Bunda langsung tersenyum, dia menghampiri sang menantu dengan cepat.


Kemudian kedua nya berpelukan dengan rasa rindu yang membuncah.


"Sayang kenapa?" tanya Bunda dengan panik.


Ray langsung mendekat, dia menatap Istri nya yang memegang perut nya dengan ringisan di bibir nya.


"Uhhh sakit Bunda" keluh nya dengan bibir memucat.


"Ray, siapkan mobil seperti nya Zahra akan melahirkan" ucap Bunda dengan segera.


Ray langsung tanggap , dia menekan tombol yang selalu dia bawa dan itu menandakan bahwa keadaan darurat.


Dan benar saja, setelah di tekan tombol nya pengawal langsung datang membawa mobil dan Bibi may membawa koper yang sudah di siapkan.


"Kamu yang bawa mobil" ucap nya pada pengawal.

__ADS_1


Ray langsung menggendong Zahra, kemudian Bunda masuk dan duduk di depan.


Tangan Ray memegang tangan Zahra dengan erat, kemudian dia menciumi perut Istri nya dengan lembut.


"Sabar ya Nak, jangan buat Bunda kesakitan" ucap Ray dengan wajah yang cukup tegang.


Zahra bisa melihat ketakutan dan ke khawatiran di wajah Raymond.


"Aku tidak apa, kamu selalu di samping ku ya" ucap Zahra lembut.


"Tentu saja, kita akan membesarkan nya dengan bersama-sama" balas Raymond dengan tegas.


Zahra mengangguk dengan senyuman di wajah nya, dia memagang tangan Raymond dengan erat saat gelombang cinta datang kembali.


Hingga tak lama kemudian, mereka sampai di Rumah sakit. Ray membawa Zahra dengan menggendong nya, dan mereka masuk ke ruang persalinan yang disana sudah ada Rena menunggu.


Ray ikut masuk ke dalam bersama dengan Zahra, dia menyuruh sang Bunda menunggu nya di depan.


Bunda menunggu dengan semua kegelisahan dan kecemasan, bahkan ia tak berhenti kesana kemari dan berdo'a.


Berselang 1 jam , terdengar suara tangisan bayi yang bersahutan dari dalam ruangan bersalin.


Dan di dalam ruangan, Ray mengecupi wajah Zahra saat kedua Putra nya sudah di lahirkan. Ya, Zahra mengandung baby kembar lelaki kedua nya.


Terlihat wajah bahagia di wajah Zahra dan Raymond, kedua nya saling memeluk dengan kedua bayi yang ada di dada Zahra.


"Kalian adalah harta ku" ucap Raymond lembut.


Zahra tersenyum haru, dia meneteskan air mata nya dengan bibir tersenyum lebar.


"Terimakasih atas segala nikmat mu, ya Allah" batin Zahra dengan penuh haru dan bahagia.

__ADS_1


T A M A T


__ADS_2