
Ceklek.
"Mas" panggil Zahra dengan cepat menghambur memeluk Ray yang baru saja masuk.
"Tenanglah, semuanya sudah aman" ucap Raymond lembut.
Zahra hanya mengangguk, ia terus saja memeluk sang Suami dengan erat dan takut.
"Siapa dia, Mas?" tanya Zahra.
Ray melepaskan pelukannya, ia lalu membawa Zahra untuk duduk terlebih dulu.
"Dia adalah anak buah Niko" jawab Ray dengan wajah tak bersahabat.
"Sudah waktunya Niko kita lawan, sudah berani sekali dia menyusupkan anak buah nya pada perusahaan dan mansion ini" ucap Raymond kembali.
Zahra mengangguk setuju, lalu atensi mereka teralihkan dengan pintu yang di buka oleh Irwan.
Kemudian mereka bertiga membahas untuk melumpuhkan Niko bersamaan dengan Ayah Arka.
Ray sudah jengah dengan kelakuan Niko, dia akan segera bertindak meski Niko tidak menyentuh nya sama sekali. Tetapi dia sudah berani mengintai Zahra, wanita kesayangannya.
__ADS_1
Setelah di rasa cukup, Ray, Zahra dan Irwan bergegas pergi ke mansion utama. Mereka akan tinggal disana sementara waktu karena di mansion Ray sudah tak aman.
**
Brak.
"Jadi benar bahwa wanita itu adalah Istri nya Ray" ucap Niko dengan merah padam.
"Ck, aku sudah bilang beberapa kali kan, tetapi kau tak percaya sayang" balas Kartika dengan sewot.
Niko memeluk Kartika, ia tersenyum saat wajah Kartika yang masam karena dia tak pernah percaya.
"Maaf sayang, aku kan hanya berpikir bagaimana bisa Ray mau pada wanita sederhana dan janda pula" ucap Niko dengan memelas.
"Bagaimana kalau kita culik saja Zahra dan nanti nya negosiasi bersama Ray?" usul Kartika.
Niko melepaskan pelukannya dan menarik nafas panjang.
"Tidak akan mudah, Ray pasti sudah membawa Zahra pergi dari sana saat anak buah ku tertangkap" balas Niko.
"Tapi kita masih punya penyusup di perusahaan nya dan kita bisa menggunakan dia untuk menghancurkan Ray" ucap Niko kembali.
__ADS_1
Kartika tersenyum, dia dan Niko sama-sama bahagia karena pionnya masih berada di sarang musuh. Tanpa mereka ketahui bahwa pion tersebut sudah di singkirkan oleh Ray dan Irwan.
Mereka berdua lalu masuk ke dalam kamar untuk menghabiskan waktu bersama, mereka tidak tahu bahwa bom akan datang pada mereka.
Asisten Niko hanya bisa sabar, dia sudah beberapa kali menyadarkan Niko agar tidak perlu iri pada Ray, dan ia juga menyarankan agar mereka fokus saja pada perusahaan mereka.
Namun saran tersebut di tentang keras oleh Niko dan keluarga nya, bahkan sebentar lagi kedua orangtua Niko akan kembali ke Negara ini untuk membantu Niko.
Sang Asisten pun memilih untuk kembali ke Apartemennya karena merasa sangat lelah. Dia melakukan pekerjaan di perusahaan sendiri tanpa bantuan Niko, karena Niko hanya fokus saja pada Ray dan Kartika.
"Kenapa susah sekali menyadarkan Niko, di tambah sekarang orangtua nya akan kembali ke sini" gerutu Asisten Niko.
"Padahal dia juga punya yang lumayan besar dan maju, kenapa malah ingin perusahaan oranglain. Dan lebih parah nya mereka menginginkan perusahaan Langit Corp yang anak cabang nya dimana-mana" ucap nya lagi dengan menggelengkan kepala.
"Bukannya Ray yang tumbang, tetapi mereka sendiri yang akan menyesal" ucap nya lagi dengan terkekeh.
Selama ini, Asisten Niko memang tak pernah ikut dan berperan penting dalam penyerangannya pada siapapun. Dia hanya fokus di perusahaan saja tanpa mau bergabung dengan yang berbahaya.
.
.
__ADS_1
.