Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 76


__ADS_3

Malam hari nya di Rumah sakit, Amelia, Ibu dan Ayah sedang menunggu Dokter yang memeriksa keadaan Wendi yang sudah sadarkan diri.


Saat sadar, Wendi histeris saat tahu bahwa dirinya lumpuh. Tetapi dengan sabar dan penuh pengertian Amelia dan Kedua orangtua nya memberi kekuatan untuk nya.


"Bu, apa Mas Wendi akan ikhlas menerima semua ini?" tanya Amelia dengan sendu.


"Dia harus bisa ikhlas sayang, karena ini semua bukan kehendak kita" jawab Ibu dengan lembut.


Bapak mengusap lembut kepala menantu nya, mereka saling menguatkan satu sama lainnya.


"Kita harus terlihat tegar dan juga selalu mensuport Wendi ya, jangan sedih dan juga ikutan terpuruk" ucap Ayah Beni tersenyum.


Amel dan Ibu menganggukan kepala nya, mereka lalu kembali duduk dan menunggu Dokter selesai memeriksa Wendi.


Ceklek.


Mereka bertiga langsung saja bangun dari duduk nya dan menghampiri sang Dokter.


"Bagaimana Dok?" tanya Amelia mewakili mereka semua.


"Semua nya baik-baik saja dan juga Tuan Wendi sudah lebih tenang" jawab Dokter dengan tersenyum.


"Boleh kami melihat nya?" tanya Ayah.


"Silahkan Tuan" jawab Dokter.


Lalu sang Dokter pun permisi dari sana, ia akan kembali ke ruangannya.


Sedangkan mereka langsung masuk ke dalam kamar rawat Wendi.

__ADS_1


Ceklek.


"Mas" panggil Amelia dengan lembut.


Wendi mengalihkan pandangannya dan menatap Amelia dengan wajah sendu nya.


"Aku lumpuh, Mel" ucap Wendi dengan lirih.


Amelia tersenyum, ia menghampiri Wendi dan memegang tangannya lembut.


"Tidak apa, kamu masih bisa membuka mata saja itu lebih dari cukup, Mas" balas Amelia lembut.


"Jangan berkecil hati, semoga saja lumpuh kamu ini masih bisa di sembuhkan" ucap Amelia kembali.


Wendi hanya bisa menundukan kepala saja, ia lalu membalas genggaman tangan sang Istri.


Ayah dan Ibu nya pun mendekat dan terus menguatkan Wendi.


"Iyaa Ibu, aku akan sembuh demi kalian" balas Wendi yakin.


Amelia langsung memeluk Wendi, ia merasa bersyukur karena Wendi masih bisa semangat.


"Sekarang kamu istirahat saja, Nak" ucap Ayah.


Wendi mengangguk, lalu ia kembali merebahkan diri nya dengan menghela nafas panjang.


"Apa ini balasan karena aku telah menyakiti Zahra?" batin Wendi dengan meringis.


Wendi menatap langit-langit kamar inap nya dengan tatapan yang sedikit kosong dan sulit di artikan. Ia merasa Dunia nya hancur dan tak berguna sama sekali.

__ADS_1


Helaan nafas panjang terdengar dari mulut Wendi, ia lalu memejamkan mata untuk terlelap.


Amelia hanya bisa diam melihat Suami nya yang mulai memejamkan mata, ia merasa iba dengan keadaan sang Suami.


Ibu, Ayah dan Amelia memilih membiarkan Wendi untuk istirahat saja, mereka kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.


Ibu menggenggam tangan Amelia saat melihat mata sang menantu yang sudah berkaca-kaca.


"Kamu harus kuat, Nak" bisik Ibu lembut.


Amelia menatap Ibu mertua nya dan menganggukan kepala nya, ia berusaha tegar dan tersenyum demi Wendi.


Begitupun dengan Ayah dan Ibu Wendi, mereka juga ikut tegar demi memberi semangat pada sang Putra.


*


Hampir tengah malam, Wendi mengerjapkan mata nya. Ia menatap ke sekeliling nya dan menghela nafas kasar.


"Apa aku bisa sembuh" gumam nya dengan lirih.


Ia lalu menatap ke arah sofa, dimana disana ada sang Istri yang sedang terlelap dengan wajah lelah nya.


"Maafkan aku yang pasti akan membuatmu repot, sayang. Aku merasa sudah tak berguna, apalagi dengan keadaan ku yang tidak bisa memberimu keturunan" ucap Wendi dengan sendu.


"Maafkan aku Zahra" batin Wendi dengan sakit.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2