Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 93


__ADS_3

"Seharus nya kau bersyukur Niko, karena mempungai perusahaan yang maju. Tapi kau malah menginginkan perusahaa. oranglain" ceplos Irwan dengan sinis.


"Maju apa nya hah? Semua itu tidak semaju milik Tuan mu, hah" bentak Niko.


"Ya gak bakalan maju kalau kau hanya menikmata sela**kangan saja, sedangkan perushaan kau anggurkan begitu saja" ledek Irwan.


"Kauuu" geram Niko dengan penuh emosi.


Irwan dan Raymond lalu meninggalkan mereka, Niko terlihat masih saja emosi dan yang lainnya hanya menghela nafas panjang.


"Sudahlah Mas, kita diamkan saja sambil memikirkan cara keluar dari sini" ucap Kartika lembut.


"Benar apa kata Kartika , Niko. Kamu tenang saja karena kita masih mempunyai beberapa aset lagi di perusahaan Papa" timpal Papa Niko.


Niko mengangguk, ia menghela nafas kasar dan memejamkan mata nya sejenak untuk menguasai emosi.


"Aku mengira Ray tidak akan membawa kita dan tetap di penjara polisi, jadi kita gampang untuk keluar nya" ucap Daddy Arka.


"Daddy benar, kalau kita di penjara itu kita bisa menghubungi pengacara kita" balas Niko.


Hingga pembicaraan mereka terhenti saat semua layar disana menyala.


"Kenapa bisa begini" kaget mereka semua.

__ADS_1


Apalagi Niko, dia sudah seperti terbakar emosi karena melihat semua nya.


Bagaimana tidak, bukan hanya perusahaan Niko saja yang di beli dan di hancurkan oleh Raymond, namun perusahaan Daddy Arka dan kedua orangtua Niko pun ikut serta.


Bahkan mansion mereka pun sudah di segel beserta isi nya.


Belum lagi pemberitaan yang membuat nama mereka semakin jelek dan tersudut oleh khalayak masyarakat.


"Gila, kau gilaaa Ray" geram Niko dan yang lainnya.


Bahkan Kartika tidak bisa berbuat apapun karena skandal ia dan Niko yang sedang intim menjadi sorotan.


**


Bukan hanya keluarga Niko saja yang melihat berita itu, namun Zahra dan Bunda pun ikut serta menyaksikannya.


"Sudah sepatut nya mereka memang runtuh, bukan hanya pada kita saja yang di rugikan namun pada oranglain juga" ucap Bunda menghela nafas lega.


"Ia Bunda, mereka sudah keterlaluan dan semena-mena" timpal Citra yang baru kembali dari dapur.


"Padahal kalau mereka fokus pada perusahaan sendiri itu akan jauh lebih baik dan maju, tetapi mereka malah melihat kemajuan milik oranglain jadi ya begitu" balas Zahra terkekeh.


Bunda mengangguk, dia membenarkan yang di katakan oleh Zahra.

__ADS_1


Bahwa mereka itu terlalu serakah dan terlalu sombong.


"Bunda, kemana Mas Irwan dan Abang?" tanya Citra.


"Bunda juga tidak tahu, mereka tidak bilang akan kemana-mana nya" jawab Bunda apa adanya.


Zahra pun mengangguk saat manik mata Citra menatap nya, Zahra kemudian merebahkan tubuh nya di kursi dan pangkuan Bunda sebagai bantalan untuk kepala nya.


"Manja nya Bumil" olok Citra terkekeh.


"Hehe gak apa ya Bun. Aku merasa lelah saja sih" balas Zahra tertawa kecil.


"Ya karena rahim Mbak belum sehat sepenuh nya jadi pasti akan gampang lelah, makanya jangan bekerja berlebihan" ucap Citra lembut.


"Iya sayang, kamu harus cukup istirahat ya" timpal Bunda mengusap lembut kepala Zahra.


"Iya Bunda, aku akan rebahan, jalan-jalan sebentar dan duduk" celetuk Zahra dengan tertawa kecil.


Citra dan Bunda pun ikut tertawa karena celetukan Zahra, mereka lalu bercerita seputaran kehamilan sang Bunda dulu.


Zahra dan Citra sangat antusias saat mendengarkannya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2