
Setelah selesai makan, Doni dan keluarga nya langsung menuju ke Rumah yang sudah di sediakan.
Aeni terus saja mengajak Ibu Aminah untuk berbincang agar tidak sedih.
Sesampai nya di Rumah, mereka langsung saja masuk ke dalam setelah Doni membukakan pintu nya.
"Kita langsung istirahat saja ya" ucap Doni
"Iyaa Nak, kamu juga besok kan langsung kerja" balas Ibu Aminah.
Doni mengangguk, mereka lalu masuk ke kamar nya masing-masing.
Aeni memilih kamar yang di belakang dekat dengan dapur karena memang ia keukeuh ingin disana.
***
Pagi nya, di sebuah Negara Amerika terlihat seorang perempuan yang sedang berdiam diri di dalam ruangan yang sangat sederhana.
Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan yang tajam, di tangannya ada sebuah buku gambar yang berisi desain bangunan yang indah.
"Ini akan menjadi awal dari semua nya. Aku akan buktikan pada mereka bahwa aku juga bisa berdiri di atas kaki ku dan aku juga bisa setangguh Pria" ucap nya dengan tegas.
Lalu ia membawa hasil desain tersebut dari sana, ia langsung saja menuju ke suatu tempat yang mana ia yakini akan merubah nasib nya kedepan.
Dia melangkahkan kaki nya dengan pasti dan tegas, tidak ada keraguan sama sekali dalam setiap langkah nya.
Hingga beberapa saat ia sampai di depan, wanita tersebut langsung saja naik taxi yang sudah menunggu nya.
"Kita ke perusahaan Langit Crop" ucap wanita tersebut tanpa exspresi sama sekali.
"Baik Nona" balas sang sopir.
Wanita tersebut akan melamar disana karena sedang membutuhkan seorang arsitex yang sangat handal.
Ia membawa beberapa hasil gambarannya untuk di tunjukan langsung pada sang CEO.
Tak butuh waktu lama dan sampailah mereka di perusahaan yang sangat besar.
Disana sudah ada beberapa orang yang sama dengannya yang akan melamar pekerjaan.
"Aku harus yakin dan aku pasti bisa" ucap nya dengan memberi semangat.
"Pak, nanti saya akan telepon Bapak lagi saat akan pulang" ucap wanita tersebut.
"Siap Nona" patuh nya dengan menganggukan kepala.
Lalu wanita tersebut masuk dan melakukan verifikasi terlebih dulu, setelah selesai ia langsung di arahkan masuk ke Aula bersama yang lainnya.
Dia melangkah dengan semangat, tidak ada senyuman , sapaan ramah ataupun wajah yang ceria.
Semuanya datar-datar saja tanpa exspresi apapun.
__ADS_1
Huh.
Dia menghela nafas agar tidak gugup, lalu setelah itu ia duduk di kursi sesuai dengan nomor antriannya.
Waktu terus berlanjut, hingga tibalah giliran dirinya yang akan di panggil ke dalam untuk wawancara.
"Apa anda membawa hasil rancangan anda sesuai dengan yang kami inginkan?" tanya pihak HRD.
"Bawa, Nona" jawab nya dengan biasa saja.
Lalu dia memberikannya pada pihak HRD, setelah nya di berikan langsung pada CEO Langit Crop.
"Sangat indah, elegant namun mewah. Memukau sekali" batin sang CEO dengan bahagia.
"Kau lulus dan hasil rancangan ini akan saya lanjutkan untuk pembangunan Hotel di Negara sebelah" putus sang CEO dengan tegas tanpa bisa di ganggu gugat.
"Terimakasih ,Tuan muda" balas wanita itu.
Pihak HRD pun ikut berdecak kagum saat melihat hasil karya di hadapannya.
Bangunan Hotel yang terlihat elegant, sederhana namun aura kemewahannya sangat indah.
"Siapa nama mu?" tanya Asisten CEO.
"Zahra Khoerunisa" jawab nya dengan lantang dan tanpa exspresi.
Ya, wanita tersebut adalah Zahra. Dia pergi ke Amerika dengan bantuan Suami Dokter Key yang merupakan seorang kepala Polisi.
Bahkan Dokter Ana pun tidak di beritahu karena takut akan bocor sebelum waktu nya.
"Selamat bergabung di Langit Crop, Zahra. Perkenalkan nama saya Irwan selaku Asisten pribadi Tuan muda, dan itu Bos kamu, nama nya Raymond Langit" ucap Irwan yang sama datar.
"Terimakasih, Tuan" balas Zahra tersenyum kecil.
"Cantik sekali" batin Raymond dengan menatap lurus.
Zahra lalu permisi dari sana, ia sangat bahagia karena berhasil jadi bagian dari perusahaan ternama dan terbesar tersebut.
Dia melangkahkan kaki nya dengan cepat, karena hari ini ia akan langsung pulang saja.
Di sepanjang jalan keluar dari perusahaan, Zahra mencuri perhatian semua orang.
Dari banyak nya pelamar kerja memang hanya dia yang lolos dan di terima tanpa berbelit.
Karena hasil desain nya yang sangat memukau dan tidak ada yang menandingi nya.
"Pak, langsung pulang" ucap Zahra pada sopir taxi.
"Baik Nona" patuh sang sopir.
Perlahan mobil taxi tersebut meninggalkan perusahaan Langit, tanpa Zahra sadari sejak tadi gerak gerik nya selalu saja di pantau sang CEO.
__ADS_1
Raymond Langit, pria tampan dengan sejuta pesona, wajah yang datar nan dingin. Dia adalah duda tanpa anak yang di tinggalkan sang Istri karena meninggalkan dan sampai saat ini belum menikah kembali.
Dia pemilik sekaligus CEO di perusahaan Langit Crop, perusahaan terbesar yang ada di Amerika.
Keluarga nya berada di sana bersama dengan sang Adik perempuannya.
Raymod sangat tertarik sejak melihat Zahra yang berada di antara pelamar pekerja tadi.
"Irwan, caritahu siapa Zahra Khoerunisa itu" titah nya dengan tegas dan juga tanpa bantahan.
"Baik Tuan muda" patuh Irwan dengan membungkukan badannya.
Raymond lalu melihat desain hasil Zahra, ia sangat berdecak kagum karena hasil nya yang sangat bagus dan tidak ada yang bisa meniru nya.
"Ini hasil yang sangat elegant namun kesan mewah nya terpancar erat, bahkan bangunan ini sangat jarang yang memakai nya, Tuan muda" ucap Irwan dengan memberikan hasil yang satu nya lagi.
"Kau benar Ir, saya juga sependat dengan mu. Saya kira dia punya bakat di diri nya itu" balas Raymond datar.
Mereka kembali larut dalam pembicaraan tentang pekerjaan, hingga tak terasa waktu sudah semakin sore dan jam pulang pun sudah berlalu sejak tadi.
Raymond memutuskan untuk langsung pulang ke Mansionnya karena sang Bunda yang sudah menanti nya.
Irwan dengan patuh mengantarkan sang Tuan.
"Nanti malam semua data dari Zahra sudah ada di tangan ku, Ir" ucap nya penuh tekanan.
"Baik Tuan muda, mereka sedang mencari nya sekarang. Sepertinya dia hanya pendatang di Negara ini" balas Irwan dengan sopan.
"Ya kau benar, sepertinya dia baru-baru ini ke sini" ucap Raymond membenarkan ucapan sang Asisten.
Hening kembali di dalam mobil tersebut, hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di mansion.
Terlihat Bunda dan Adik Raymond yang sudah menunggu nya, mereka langsung keluar dan berjalan menghampiri kedua wanita itu.
"Makan malam dulu disini, Ir" ajak sang Bunda dengan lembut dan senyuman yang lembut.
"Tidak usah Bun, dia sedang aku tugaskan untuk mencari informasi seseorang" balas Raymond dengan santai.
"Iya Tante, dan itu calon menantu Tante" timpal Irwan yang langsung saja berlari dari sana menuju ke mobil nya.
"Awas kauuu Ir" teriak Raymond dengan kesal.
Irwan dan Raymond memang selalu begitu jika di dalam mansion, mereka memang sahabat sudah sejak lama jadi mereka akan bercanda atau tidak kaku di tempat tertentu saja.
Bunda dan Adik Raymond langsung tersenyum berpandangan mendengar ucapan Irwan tersebut.
.
.
.
__ADS_1