Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 40


__ADS_3

Pagi menjelang, di awali dengan cahaya sang surya yang menghangatkan tubuh yang kedinginan oleh udara sejuk nan dingin menerpan.


Zahra dan Ray sudah sejak tadi membuat api unggun di tepi pantai dengan ditemani segelas coklat hangat dan juga bakar jagung.


Rencananya, mereka akan kembali ke Amerika sore nanti dengan jet pribadi milik Ray.


Ray dan Zahra sangar menikmati moment santai ini, dimana mereka duduk berdua dengan alas tikar, tidak ada pekerjaan yang akan mengganggu mereka.


"Mau bakar ikan?" tawar Ray pada Zahra.


"Boleh Mas, nanti aku siapkan sambal sama nasi nya dan kita makan disini" jawab Zahra semangat.


"Yasudah ayo ke Villa, Mas akan ambil ikan nya dan kamu buat nasi sama sambal" ucap Raymond.


Zahra menganggukan kepala , ia dan Ray lalu masuk terlebih dulu ke dalam Villa.


Mereka disana tidak hanya berdua, banyak anak buah bayangan Ray yang menjaga mereka dari dekat maupun jauh.


Ray kembali ke pinggir pantai, ia membakar ikan disana sendirian.


"Mas, aku ingin bakar ini" ucap Zahra yang tiba-tiba datang dengan membawa cumi-cumi, udang dan lobster.


"Kemarikan, sayang" balas Ray.


Zahra memberikan nya pada Ray, lalu ia kembali lagi ke dalam Villa.


Mereka bahu membahu membuat sarapan untuk kedua nya.


Hingga berselang satu jam, semua nya sudah beres. Zahra membawa nya keluar dan menata di atas tikar.


Ray membantu Zahra menata nya, ia juga menata semua hasil bakarannya.


"Hemm ini terlihat sangat enak" ucap Ray dengan tersenyum.


Mereka lalu duduk lesehan, Ray meminta Zahra untuk makan satu piring berdua dengannya.


"Gini kan enak, ayo sini aku suapi" ucap Ray lembut.


"Iya iya Mas" balas Zahra tersenyum.


Lalu kedua nya makan dengan tenang dan saling suapi. Zahra hanya diam dengan wajah bersemu merah.

__ADS_1


"Menggemaskan sekali" batin Raymond dengan terkekeh geli.


Setelah selesai makan, mereka kembali berjalan-jalan di tepi pantai.


Ray merangkul bahu sang Istri, ia bahkan sesekali mengecup nya dengan mesra.


"Mas, apa aku boleh mengikuti event itu? Dan boleh aku bekerja?" tanya Zahra menatap Ray.


"Boleh sayang, asal kamu bisa jaga dirimu dan menjaga hubungan ini. Maafkan aku yang tak bisa menjaga mu langsung, aku takut nanti musuh bisnis ku menyakiti mu sayang" jawab Ray dengan menatap balik Zahra dalam.


Zahra tersenyum, ia mengusap lembut pipi Raymond.


"Sebisa mungkin aku tidak akan menjadi kelemahan mu, tapi aku akan menjadi semangatmu. Dan kamu juga jangan menganggap aku kelemahanmu, Mas" ucap Zahra lembut.


"Kau akan menjadi prioritas ku, kau adalah segala nya bagiku dan sebisa mungkin kamu akan selalu ada dalam penjagaan ku" balas Ray dengan mengecup bibir Zahra.


Mereka saling berpangutan di bawah sinar matahari dengan backrond pantai yang biru cerah.


Zahra mengalungkan tangannya ke leher Ray dan tangan Ray sendiri memeluk pinggang Zahra.


Mereka terus saja berpangutan dengan saling menikmati satu sama lainnya.


Hingga Ray melepaskan pangutan itu dan menempelkan dahi nya dengan dahi Zahra.


"Me To, Hubby" balas Zahra sambil tersenyum teduh.


Ray lalu memeluk Zahra dengan erat, ia merasa sangat bahagia karena Zahra sudah mulai membalas cinta nya.


"Ayo masuk, kita harus siap-siap sebelum pergi dari sini" ajak Zahra.


Ray mengangguk, siang ini mereka akan pergi ke Bandara dan setelah nya mereka akan langsung terbang ke Amerika.


***


-Amerika.


Wendi dan Amelia sudah sejak kemarin datang ke Amerika. Dan Wendi akan mulai kerja nya besok lusa.


Amelia dan Wendi sudah bersiap untuk pergi jalan-jalan keliling Kota tersebut.


"Mas, nanti kalau akhir pekan kita ke Rumah Mommy dan Daddy" ucap Amelia dengan semangat.

__ADS_1


"Iya, mungkin minggu depan saja ya, kalau besok pasti akan banyak kerjaan" balas Wendi mengusap kepala Amelia.


Mereka pergi ke Taman kota yang sedang ada acara disana, banyak jajanan khas Kota tersebut.


Amelia dengan semangat memilih beberapa makanan yang sangat menggugah selera dan harga nya juga fantastic ya readers hehe.


"Berbeda sekali dengan Zahra, ia pasti akan membeli jajanan kaki lima dengan harga paling mahal 10 ribu" batin Wendi dengan helaan nafas kasar.


Wendi ikut serta duduk bersama Amelia, ia hanya memakan beberapa saja dari piring milik sang Istri.


Malam menjelang, mereka masih mengelilingi Taman dengan tangan yang bertautan mesra.


Hingga Amelia merasa lelah dan mereka menuju ke Restoran untuk makan malam.


Wendi hanya bisa menuruti saja tanpa mau komen, ia bahkan sudah jarang berkumpul bersama teman-teman nya karena Amelia yang melarang nya dengan tegas.


Bahkan barang-barang dan alat ia main pun sudah di buang oleh Amelia.


Wendi marah, tetapi ia tidak bisa apa-apa saat Amelia mengeluarkan ultimatum nya.


Sehingga ia hanya bisa pasrah saja dan menuruti Amelia.


Tak lama kemudian, mereka sampai di Restoran. Wendi serta Amelia langsung saja menuju ke dalam.


Disana, Amel memilih beberapa menu untuk mereka berdua makan malam.


"Mas, memang nya siapa sih Bos kamu ini?" tanya Amelia penasaran.


"Aku tidak tahu, karena Tuan muda tidak pernah menunjukan jati diri nya. Kecuali di perusahaan pusat yang ada di Negara ini dan Kota ini" jawab Wendi.


"Jadi kamu tidak jadi memegang anak perusahaannya?" tanya Amelia kembali.


"Tidak karena itu akan di pindahkan ke Tanah air dan Kakak Ipar Tuan muda sendiri yang akan mengelola nya. Mas disini akan di tempatkan jadi kepala pemasaran" jawab Wendi kembali.


Saat Amelia akan berbicara kembali ia di hentikan saat pesanannya sudah datang.


Wendi dan Amelia langsung saja menyantap makan malam nya.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2