
Zahra di bawa dengan ambulance karena masih tak sadarkan diri.
Aeni dan kedua orangtua Zahra ikut akan mobil ambulance tersebut dan Doni membawa mobil nya sendiri.
Begitupun dengan Wendi, ia mengendarai mobil nya sendiri bersama dengan keluarga nya.
Di sepanjang jalan, Wendi terus saja menyeka air mata nya yang terus saja menetes tanpa terasa.
Ia tidak menyangka akan berakhir sedemikian rupa hubungan nya dengan Zahra.
"Bu, bagaimana dengan Zahra?" tanya Wendi dengan nanar.
"Dia pasti sembuh, Nak. Kamu yang sabar dan banyak Do'a" jawab Ibu Jeni lembut.
"Ini semua salahku, Bu. Aku sama sekali tidak memperhatikannya sampai-sampai dia memendam nya sendiri" lirih Wendi dengan tatapan yang sendu.
Ayah Beni menatap Wendi dnegan nanar, ia lalu fokus kembali pada jalanan karena sedang menyetir.
"Bukan salah Kakak saja, ini semua salah kami juga yang selalu acuh pada Kak Zahra. Bahkan kalian dengan terus menerus membahas Anak, mungkin kita melihat Kak Zahra cuek dan acuh tetapi ia memendam nya dan memikirkan nya juga" ucap Fera dengan tajam.
"Fera" tegur Ibu Jeni dengan keras.
"Apa? Memang itu kenyataannya! Ingat, kalian juga punya aku yang belum menikah dan merasakan apa itu rumah tangga" balas Fera dengan kesal.
Fera lalu diam dengan wajah yang masam, ia sedikit kesal pada Ibu dan Kakak nya yang selalu memojokan sang Kakak Ipar.
*
Hampir 2 jam perjalanan mereka sampai juga di Rumah sakit jiwa yang di rekomendasi kan oleh Dokter.
Doni langsung menghampiri mobil ambulance yang membawa Adik dan juga keluarga nya.
Ranjang pasien Zahra di dorong dengan cepat oleh petugas yang sudah di perintahkan oleh Dokter Ana.
Mereka langsung masuk ke dalam kamar yang tidak ada apa-apa hanya ada kasur saja untuk tidur.
Zahra di rebahkan disana oleh Doni, lalu Dokter Ana pun mulai memeriksa nya dengan teliti, bahkan ia menyuruh perawat membacakan diagnosa dari Dokter yang sebelum nya.
"Bagaimana Dok?" tanya Ibu Aminah dengan khawatir.
"Putri Ibu memang mengalami stress, tetapi hanya ringan dan juga masih kita tangani. Dia juga sedikit tertekan hingga mengganggu mental nya, dan Putri Ibu akan di rawat disini bersama dengan psikiater" jelas Dokter Ana.
Deg.
__ADS_1
Ibu Aminah meneteskan air mata nya kembali, ia tidak menyangka bahwa Putri nya akan masuk ke Rsj tersebut.
"Lakukan semua nya untuk kesembuhan Istri saya, Dok" ucap Wendi dengan tegas.
"Berapapun biaya nya tolong sembuhkan dia" ucap nya lagi dengan penuh harap.
Dokter Ana mengangguk, ia sangat yakin akan kesembuhan pasien nya karena Zahra masih bisa di sembuhkan karena tidak terlalu parah.
Doni juga setuju akan keputusan Wendi, ia akan berusaha mendapatkan uang yang banyak agar sang Adik sembuh seperti sedia kala.
"Bu, kalian tinggal di dekat sini saja" ucap Wendi pada mertua nya.
"Saya mungkin akan kesini 2 hari sekali setelah bekerja, dan nanti saya akan carikan kontrakan dekat sini" ucap nya lagi dengan memohon.
"Baiklah, Nak" balas Bapak Tora pasrah.
"Sebaik nya kalian pulang dulu, nanti kalau ada apa-apa saya akan memberitahu kalian" ucap Dokter Ana sopan.
"Baik Dok" balas mereka.
Lalu mereka semua keluar dari ruangan dkmana Zahra yang di rawat, Aeni menatap Zahra dengan pandangan yang sangat sedih dan sesak.
"Cepatlah sembuh, Kak" gumam Aeni dengan melangkah pergi dari sana.
Mereka memutuskan untuk makan malam terlebih di Restoran yang ada di depan Rumah sakit.
Keluarga Zahra masih terluka dengan kenyataan bahwa Zahra sakit karena terlalu tertekan oleh Wendi dan keluarga nya.
Hingga Doni selesai lebih dulu dan ia berpamitan pada Ibu dan Bapak nya untuk mencari kontrakan.
Untung saja perusahaan tempat Doni bekerja tidak jauh dari sana.
"Kenapa kalian tidak tinggal di Rumah Doni saja?" tanya Ibu Jeni.
"Rumah nya jauh dari sini, kami juga ingin nge kost tanpa bantuan dari Putra anda, anda tenang saja" jawab Ibu Aminah dengan tegas.
"Tidak usah Bu, saya yang akan membayar nya" cegah Wendi.
Bapak Tora menggelengkan kepala nya tegas, ia tidak ingin menimbulkan masalah lagi.
"Tidak, kami juga tau diri dan kami tidak ingin orangtua anda menyangka kalau kami memeras anda" tolak Bapak Tora tegas.
Ibu Jeni hanya acuh, ia kembali menyantap makanannya dan Fera serta Ayah nya menunduk malu dengan sikap sang Ibu.
__ADS_1
Hingga tak lama kemudian, Doni datang kembali ke Restoran tersebut.
"Pak, Buk , Aeni ayo kita pulang. Aku sudan menemukan kontrakan yang dekat dengan Rsj bahkan jalan kaki pun tidak akan lama ke Rsj nya" ajak Doni mengabaikan tatapan Wendi yang kaget
"Abang" panggil Wendi.
"Aku menghargai keputusan mu, tetapi aku tidak ingin orangtua ku di sebut memanfaatkan mu. Jika memang orangtua mu tidak rela kau membiayai Adikku maka kami tidak akan keberatan" jelas Doni tegas.
"Kami permisi dulu" pamit Doni pada mereka.
Wendi menatap nya dengan nanar, ia mengepalkan tangan saat keluarga istri nya pergi dari sana.
"Kalian ke Hotel saja, aku akan pergi ke Rsj" ucap Wendi dengan datar.
Wendi melangkahkan kaki nya dengan tergesa menuju ke Rsj dimana sang Istri di rawat.
Ia ingin menemani nya sebelum nanti pulang ke Rumah karena besok ia akan bekerja.
Dokter Ana melarang Wendi mendekati Zahra, ia hanya bisa melihat nya karena saat ini Zahra akan di periksa oleh nya dan sikolog.
Wendi duduk agak jauh dari kamar Zahra, tetapi ia masih bisa melihat dengan jelas bahwa sang Istri yang sedang duduk dengan pandangan kosong serta tangan nya yang membelai perut rata nya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak akan melepaskan mu apapun yang terjadi. Kau adalah cinta dan hidupku, Zah" gumam Wendi dengan yakin.
Ia menangis dalam diam, saat melihat Zahra tertawa dengan tangannya yang membelai perutnya sendiri.
Wendi menyesal atas apa yang dia lakukan dulu pada Zahra, ia menunduk dengan tangan yang menutupi wajah nya.
"Maafkan aku, Zah" ucap Wendi kembali dengan lirih.
Zahra sedang di tangani oleh Dokter Ana dan temannya. Mereka sangat prihatin melihat sorot mata Zahra yang sangat terlihat dengan jelas bahwa ia terluka dan tertekan oleh semua nya.
Hingga beberapa saat Dokter Ana menyudahi nya, ia menyuruh Zahra untuk tidur karena sudah malam.
Dan Zahra hanya menurut saja karena ia juga merasa mengantuk.
"Kasihan sekali dia, padahal dia seperti nya sangat ceria dan riang, tetapi mungkin karena tertekan jadi begini" ucap Dokter Ana dengan sendu.
"Ya kau benar , Ana. Aku rasa dia tertekan karena belum mempunyai baby" timpal Dokter Key.
Dokter Ana mengangguk, ia sangat iba pada Zahra dan tanpa sadar ia mengusap lembut kepala Zahra.
.
__ADS_1
.
.