
Setelah Zahra tenang dan terlelap, Wendi di berikan kesempatan untuk mendekat tetapi jangan membuat nya gaduh ataupun membangunkan Zahra.
Dokter Ana dan Key memantau nya dari jauh, mereka tidak ingin meninggalkan Zahra walaupun ada Wendi disana.
"An, apa itu Suami nya?" tanya Dokter Key.
"Ya dia adalah Suami nya, tapi aku tidak tahu pasti apa masalah nya. Hanya saja terlihat bahwa Abang Zahra seperti emsoi setiap kali melihat keluarga dia" jawab Dokter Ana sambil mengajak Dokter Key duduk di kursi.
"Karena dia dan keluarga nya penyebab Kak Zahra masuk ke sini" celetuk Aeni yang memang ia akan menemui Zahra karena ia akan pulang dini hari bersama Doni.
"Dek, boleh saya tanya bagaimana kronologi nya? Mungkin dengan itu kami akan lebih gampang mencari solusi" ucap Dokter Key.
Aeni dengan senang hati mengangguk, ia juga ingin sang Kakak cepat keluar dari sana.
Dia menghembuskan nafas kasar, lalu Aeni menceritakan semua nya pada kedua Dokter wanita cantik itu dengan jujur tanpa ada yang di tutupi.
Dari mulai Aeni melihat Zahra yang menangis di Rumah pohon, terus pertanyaan seputar kehamilan yang bertubi dan perubahaan Wendi yang terus saja meninggalkan Zahra demi hobby nya.
"Begitulah cerita nya, Dok" ucap Aeni memejamkan mata nya.
"Ya, saya juga pernah mengalami di saat seperti Zahra tetapi mertua saya itu baik dan tidak terlalu menyudutkan saya. Hingga ketika saya ingin menyerah dan Suami saya ketahuan selingkuh bersama sepupu nya" jelas Dokter Key.
"Zahra ini seperti wanita ceria , riang , baik dan juga ramah menurutku. Tetapi di balik itu ia menyembunyikan semua sakit nya hingga ia saat ini tertekan kuat" timpal Dokter Ana.
Aeni menganggukan kepala nya, ia menyeka air mata nya yang keluar dari pelupuk mata.
Ia sangat nanar saat melihat sekeliling Rumah sakit, dimana di setiap ruangannya hanyalah terisi dengan orang yang terganggu mental nya.
"Kak, aku harap kau akan sebentar saja disini. Aku mohon berjuanglah untuk sembuh" batin Aeni dengan lirih.
Dokter Ana mengusap bahu Aeni dengan lembut, ia sangat mengerti bahwa saat ini Aeni sedang kacau.
"Kami akan berusaha dengan sangat kuat agar Zahra secepat nya bisa sembuh. Kami yakin, dia hanya akan tinggal sebentar disini" ucap Dokter Ana.
"Terimakasih, Dok. Saya harap itu kejadian" balas Aeni tersenyum sendu.
*
Wendi, menatap Zahra yang sedang terlelap dengan nyenyak nya.
Ia mengusap lembut kepala Zahra dengan air mata yang menetes.
"Aku hamil" racau Zahra dengan raut wajah yang tak tentu.
"Aku lelah" racau nya lagi dengan pelan.
Deg.
__ADS_1
Jantung Wendi terpacu dengan cepat saat mendengarkan semua racauan sang Istri.
Ia sangat ingin memeluk nya dengan erat dan menangis di pelukan Zahra.
"Maafkan aku Zah" ucap Wendi dengan air mata yang menetes.
"Maaf Tuan, waktu sudah habis dan ini juga sudah jam 09 malam" ucap Dokter Ana dengan sopan.
Hah.
Wendi menghembuskan nafas lelah, ia menganggukan kepala dan beranjak pergi dari sana.
Ia melangkah dengan gontai bahkan ia sesekali menatap ke belakang dimana Zahra yang sedang terlelap.
***
Pagi yang sangat mendung, apalagi dengan suasana hati Wendi saat ini.
Ia dengan berat hati harus meninggalkan Zahra karena ia harus bekerja.
Wendi juga sempat melihat Zahra terlebih dulu sebelum pulang ke Rumah nya.
Dan pagi ini sedikit berbeda dengan Zahra, ia bangun tidur dengan mengamuk dan bahkan ia juga meracau tentang kehamilan terus.
Dokter Ana dan Key terus berusaha membuat nya tenang tanpa menyuntikan obat penenang pada Zahra.
"Iya, Zahra akan hamil dan juga akan punya anak yang lucu" ucap Dokter Key dengan lembut.
Perlahan tapi pasti Zahra mulai melemah dan tenang. Dokter Key pun tersenyum pada Zahra.
Tetapi itu tidak membuat mereka tenang, pasal nya Zahra memalingkan wajah dan menatap kosong pada tembok.
"Zahra, kita kan berteman bagaimana kalau kita bercerita?" ucap Dokter Ana lembut.
"Aku tidak bisa hamil Dok, jadi Dokter akan malu berteman denganku" balas Zahra lirih dengan sorot mata kosong.
"Kamu ini pesimis sekali sih, pasti kamu akan hamil Zahra tetapi mungkin bukan sekarang waktu nya" ucap Dokter Key.
"Apa benar, Dokter?" tanya Zahra dengan menatap Dokter Key.
Dokter Key dan Ana langsung saja mengangguk, mereka tersenyum karena Zahra merespon ucapan mereka.
Ketiga nya terus saja berbincang meski Zahra terus saja menyinggung soal kehamilan.
Hingga siang hari, Zahra duduk sendiri di ruangan tersebut karena kedua Dokter itu sedang istirahat.
Ia menatap sekeliling nya dengan raut wajah yang bingung dan juga sesekali tersenyum.
__ADS_1
"Aku ada dimana ya?" gumam nya dengan berjalan kecil ke arah depan.
"Banyak orang ya" gumam nya lagi dengan tersenyum kecil.
Tetapi, Zahra kembali duduk di ranjang dengan pandangan kosong lurus ke depan.
"Apa aku wanita mandul?"
"Aku ini hanya belum hamil, tetapi Mas Wendi terus saja menyuruh ku cepat hamil"
"Begitupun dengan Ibu, mereka tidak tahu saja bahwa aku lelah dan disini sakit" ucap Zahra terus menerus dengan memegang dada nya.
Zahra lalu merebahkan tubuh nya di atas ranjang, ia terus saja meracau tidak jelas dengan sesekali tangannya mengacak rambut ataupun mengusap perut nya.
Di luar terlihat Ibu Aminah yang sedang menangis dengan memeluk Suami nya.
Ia tidak sanggup melihat Putri nya yang seperti ini.
"Pak, kenapa Zahra jadi begini?" tanya nya dengan sesegukan.
"Dia itu Putri kita yang sangat tangguh, apa mungkin beban yang ia pikul sangat berat hingga dia tidak tahan lagi?" ucap nya lagi dengan nanar.
"Kita banyak berdo'a saja ya, Bu. Semoga dia cepat sembuh dan seperti sedia kala lagi" balas Bapak Tora dengan lembut.
Mereka akhir nya menemui sang Putri dengan dampingan perawat, Ibu Aminah menyeka air mata nya dan memasang wajah tersenyum.
"Nak, bagaimana keadaan mu?" tanya Bapak Tora lembut.
"Disini sakit, Pak" jawab Zahra menunjuk dada nya tanpa menatap sang Bapak.
"Kenapa bisa sakit? Kan ada Bu Dokter disini?" tanya nya lagi dengan mengusap lembut kepala Zahra yang sedang terlentang tidur.
"Tidak tahu, tapi setiap saat aku selalu merasa sesak dan sakit disini. Seperti ada belati yang menancap" jawab nya lagi dengan menatap sang Bapak.
"Sini Bapak peluk, biar tidak sakit lagi" ucap Bapak Zahra tersenyum.
Zahra mengangguk dan mulai memeluk Bapak nya. Ia merasa sangat nyaman dan hangat saat di pelukan sang Bapak.
"Lepaskan saja jika kamu tidak sanggup lagi, Nak. Bapak tidak akan marah" bisik Bapak Tora pada Zahra.
Dan entah sadar atau tidak, Zahra langsung menangis dan menganggukan kepala setelah mendengar bisikan sang Bapak.
Ibu Aminah langsung ikut memeluk sang Putri dengan air mata yang menetes.
.
.
__ADS_1
.