
Hari bahagia pun tiba, dimana saat ini Raymond akan mengucapkan ijab qobul nya.
Ya, hari ini adalah hari dimana ia akan menikahi Zahra di KUA.
Semua nya sudah berkumpul dan bersiap, mereka tinggal menunggu Doni yang memang sedang dalam perjalanan.
Ray sejak tadi mencuri pandang pada Zahra, ia selalu terpesona walaupun Zahra hanya memakai pakaian sederhana dan riasan tipis nya.
"Maaf terlambat" ucap Doni dengan tersenyum.
"Tidak apa, Nak" balas Bapak.
Lalu Doni dan Ana langsung duduk di sebelah sang Ibu, hingga acara pun di mulai dengan khidmat.
Di luar gedung KUA, Irwan dan yang lainnya menyamar sebagai orang yang hilir mudik masuk ke dalam dan keluar.
Mereka menjaga dengan ketat tetapi tidak menimbulkan curiga warga sekitar.
Hingga mereka semua lega saat kata SAH terucap dari dalam ruangan.
Irwan dan yang lainnya membubarkan diri dan salah seorang pegawai disana keluar dan mengunci gedung itu, tanda sudah tutup.
*
Di dalam gedung, Ray sangat bahagia karena sudah sah menjadi Suami dari Zahra.
Ia bahkan terus saja tersenyum dengan lebar nya.
"Semua nya sudah aman, kalian biasa keluar lewat jalan belakang" ucap Irwan dengan sopan.
"Kita langsung saja ke Rumah Ibu, disana Ibu sudah menyiapkan makan siang" timpal Ibu Aminah dengan segera.
"Baiklah, Bu" balas Ray.
Mereka langsung saja menuju ke kediaman Ibu Aminah dan Keluarga.
Mereka berangkat dengan mobil biasa saja agar tidak mengundang curiga.
Doni membawa mobil bersama dengan kedua orangtua nya, sedangkan Bunda dan Citra bersama Aeni di mobil yang biasa Zahra pakai.
Sedangkan sang pengantin, mereka berdua saja karena memang itu keinginan Ray.
__ADS_1
Selama di perjalanan, Ray mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang saja.
Bahkan tangannya tidak pernah lepas dari tangan sang Istri, Zahra.
"Zah, kita akan berangkat ke Amerika 2 hari lagi. Dan besok aku ingin pergi ke Kalimantan bersamamu menikmati bulan madu" ucap Ray lembut.
"Aku ikut saja, Mas" balas Zahra menatap Ray lembut.
Ray hanya membalasnya dengan senyuman, ia pun langsung saja memarkirkan mobil nya di halaman Rumah Doni.
"Ayo masuk" ajak Ibu dengan tersenyum.
Mereka langsung saja masuk , Zahra mengganti pakaiannya terlebih dulu.
Mereka berkumpul di halaman belakang sambil menikmati udara Sore hari yang sejuk.
Aeni , Zahra dan Ibu menata makanan serta minuman yang sudah mereka siapkan sejak tadi pagi.
Setelah itu, mereka langsung saja makan siang dengan hening.
**
Pada malam hari nya, Bunda dan Citra pamit untuk kembali ke Amerika. Sedangkan Zahra dan Ray akan pergi ke Kalimantan.
"Bapak tenang saja, saya akan terus berusaha membuat Putri Bapak bahagia. Hanya akan ada air mata kebahagian saja yang keluar dari mata indah itu" balas Raymond dengan bersungguh-sungguh.
Bapak mengangguk, lalu ia memeluk sang menantu dan Putri nya bergantian.
Begitupun dengan yang lainnya, mereka memeluk Zahra.
"Hati-hati, nanti setelah Aeni keterima di UI kami akan kesana untuk liburan" ucap Ibu lembut.
"Kami tunggu, Bu , Pak" balas Zahra.
Zahra dan Ray pun langsung masuk ke dalam mobil milik Doni.
Mereka akan di antarkan ke Bandara oleh Doni dan Irwan ikut serta Bunda pulang ke Amerika.
Zahra menyeka air mata nya, ia serasa masih Rindu pada keluarga nya tetapi ia juga ingin menggapai cita-cita nya dan juga harus ikut kemana sang Suami.
"Dek, jangan menangis. Kami akan mengunjungi mu nanti, berbahagialah" ucap Doni tersenyum.
__ADS_1
Zahra ikut tersenyum, ia menatap Ray dengan lembut.
"Kau lebih cantik jika tersenyum" celetuk Ray dengan terkekeh.
Ishh.
Cebik Zahra dengan mencubit perut Ray pelan. Sedangkan Ray, ia hanya terkekeh saja.
Tak berselang lama, mereka sampai di Bandara.
Zahra berpamitan pada Doni, begitupun dengan Ray.
Mereka akan menggunakan Jet Pribadi milik Ray, sedangkan Bunda dan yang lainnya naik pesawat umum.
"Ayo sayang" ucap Ray dengan mengulurkan tangannya.
Zahra menerima uluran tangan dari Ray, ia lalu masuk ke dalam pesawat bersama dengan sang Suami.
Mereka duduk berdampingan, Ray memeluk Zahra sangat lembut.
"Mas, geli" ucap Zahra dengan terkekeh karena Ray terus saja menciumi pucuk kepala dan wajah nya.
Cup.
Ray mengecup bibir ranum sang Istri, Zahra pun langsung terpaku saat Ray mencium nya.
Zahra langsung memejamkan mata nya, ia dan Ray menikmati ke intiman itu.
Hingga mereka melepaskan tautan tersebut saat kehabisan nafas.
Ray mengusap lembut pipi Zahra, bahkan mereka masih menempelkan kening nya.
Zahra sendiri masih memejamkan mata nya dengan nafas yang memburu.
"Mau istirahat?" tanya Ray lembut.
Zahra membuka mata, ia mengangguk dengan tersenyum kecil pada Ray.
Ray lalu membawa nya ke kamar pribadi dia, dia akan membiarkan Zahra istirahat walau hanya sebentar saja.
.
__ADS_1
.
.