Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 39


__ADS_3

Setelah 1 jam lebih di pesawat, dan hampir 1 jam lebih juga di perjalanan ke Pulau Derawan.


Ray memilih Pulau tersebut karena sangat memukau di penglihatannya.


Ray sudah menyiapkan segala nya, bahkan ia sampai menyewa Pulau tersebut untuk mereka berdua saja. Mereka disana sampai besok siang dan sore nya akan langsung terbang kembali ke Amerika.


"Woahh indah sekali" ucap Zahra dengan tersenyum.


"Mau main disana?" tanya Ray dengan menunjukan kd arah air Pulau.


Dengan gerakan semangat Zahra langsung saja menganggukan kepala nya.


Lalu mereka berganti pakaian saja untuk menikmati malam di pinggir Pantai


"Malam saja sudah sangat memanjakan mata, apalagi kalau besok siang" ucap Zahra yang terus saja memainkan kaki nya di air.


Mereka terus saja berjalan-jalan di pesisir pantai , Zahra sangat menikmati moment ini. Dimana ia berjalan santai bersama dengan Suami yang merangkul nya hangat.


"Hal kecil ini yang membutmu bahagia , apalagi kalau setiap hari ada kejutan kecil. Seperti nya Zahra memeng hal-hal kebersamaan begini" batin Raymond dengan tersenyum.


"Masuk yuk, udah mulai larut nih" ajak Raymond dengan lembut.


Zahra menatap wajah sang Suami, ia tersenyum lalu menganggukan kepala nya.


Lalu mereka berdua masuk ke dalam Villa yang sudah di sewa oleh Ray, disana sangat sejuk dan hening. Sangat memanjakan bagi para wisata yang datang kesana.


Zahra mandi terlebih dulu, ia sudah gerah karena sejak tadi belum mandi.


Ray, duduk di sofa dengan memainkan ponsel nya.


"Bukan hanya Zahra, aku pun sama menyukai apapun itu bersama pasangan. Bahkan mengobrol sebelum tidur itu sangat nyaman bagi pasangan. Bagaimana kehidupannya dulu hingga kuat dia di cuekin oleh mertua dan Suami nya sendiri" gumam Ray tak habis pikir.


Ray berniat akan menanyakan hal tersebut pada Zahra, ia jadi bisa mengetahui bahwa apa saja yang tidak dan di sukai oleh Zahra.


"Tenang saja, aku tidak akan memakanmu disini Zah. Aku akan memakanmu nanti di Rumah kita sendiri" gumam Raymond kembali dengan terkekeh.


Hingga tak lama kemudian, pintu kamar mandi di buka oleh Zahra yang sudah rapih dengan memakai pakaian tidur.


"Jangan tidur dulu ya, aku ingin menanyakan sesuatu padamu, sayang" ucap Ray sambil mengecup pucuk kepala Zahra.


"Iya Mas" balas Zahra dengan senyuman khas nya.


Ray lalu melangkah masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti yang memang sudah di sediakan oleh Zahra.


"Aduh kok deg-degan gini ya" gumam Zahra dengan meraba dada nya yang berdebar.


Zahra lalu duduk di atas ranjang dengan dada nya yang terus berdebar , ia mengambil ponsel nya dan memberitahu sang Ibu bahwa ia sudah sampai.


Ceklek.

__ADS_1


Pintu kamar mandi terbuka, keluarlah Ray dengan pakaian tidur yang senada dengan Zahra.


Zahra langsung saja menunduk karena gugup, bahkan wajah nya sudah memerah karena malu.


Ray tersenyum melihat hal itu, ia lalu menghampiri Zahra dan duduk di hadapannya.


Lalu Ray mengangkat dagu runcing sang Istri agar mata nya bertatapan.


"Aku tidak akan meminta hak mu sekarang, mungkin besok jika kita sudah di Rumah kita sendiri baru aku akan meminta nya" bisik Ray dengan lirih.


Cup.


Ray mengecup candu nya, ia memainkan sebentar dan melepaskan tautannya kembali.


Lalu Ray duduk di samping Zahra yang masih terpaku disana.


"Zah" panggil Ray dengan lembut.


Zahra mengalihkan pandangannya, lalu ia menatap Suami nya dengan bingung.


"Kenapa Mas?" tanya Zahra.


"Ceritakanlah masalalu mu, dimana saat kau memilih pura-pura gila dan mengakhiri semua nya? Pasti ada sebab nya kan?" tanya balik Ray.


Zahra tersentak, tetapi sedetik kemudian dia menganggukan kepala nya.


Zahra patuh, ia menidurkan kepala nya di pangkuan sang Suami.


"Sangat nyaman" batin Zahra dengan memejamkan mata nya sebentar.


"Jadi begini" ucap Zahra


-FlshBack-


Semuanya baik-baik saja saat sebelum Zahra dan Wendi pergi pindah ke Rumah sang mertua.


Mereka baik dan juga tidak pernah berbicara atau memberi sikap yang membuat sakit hati.


Hingga saat dimana Zahra ikut pindah, ia menempati kamar dimana dulu sang Suami tinggal dan otomatis satu atap bersama mertua nya.


Bahagia? Zahra bahagia sekali karena ia berpikir akan ada teman duduk santai dan memasak bersama, begitulah pikir Zahra.


Tetapi semua salah, baru tinggal 2 hari saja disana ia sudah mendengar berita yang tak enak dari tetangga yang notabene nya baik pada Zahra.


Sang Ibu mertua mengomel disana karena kehabisan gas dan persedian apapun.


Mulai dari sana respect Zahra sudah hilang, dia akhir nya hidup dengan Dunia nya sendiri dan selalu menyendiri di kamar kalau sudah selesai semua nya.


Hari berlanjut dan berlanjut juga semu omongan yang tak sedap ia kerap dengar dari para tetangga yang mana obrolan itu dari mertua nya.

__ADS_1


Bahkan sampai masalah pulsa listrik pun di permasalahkan oleh nya.


"Sabar" gumam Zahra dengan mengelus dada nya.


Sabar , sabar dan sabar saja yang selalu ia ucapkan dan kuatkan dalam diri nya dalam menghadapi semuanya.


Hingga dimana ia sakit pun sang mertua tidak peduli bahkan terkesan mengabaikannya.


Menangis? Ya Zahra menangis dalam diam dan ia meratapi nya sendirian.


Zahra mengabaikan semua nya, ia mencoba cuek dan tidak akan mempermasalahkannya.


Akan tetapi, hari demi hari perilaku nya semakin menjadi, bahkan Ibu Jeni selalu saja memberi wajah yang sinis dan terkesan tak suka pada Zahra.


Dan Wendi? Ia terkesan tak perduli dan acuh. Bahkan ia sibuk dengan Dunia nya sendiri, dengan pekerjaan , hobby dan yang lainnya.


Sabar? Zahra sudah kehabisan kesabaran menghadapi semua nya.


Ia bahkan sangat rela berpura-pura gila demi perhatian mereka.


Apa hasilnya? Nihil sama sekali tidak mendapatkan hasil. Zahra lalu memutuskan menyerah dan memilih pergi saja.


-FlsNow-


Zahra terisak setelah menceritakan semuanya, ia memeluk Ray dengan erat.


"Aku hanya ingin di mengerti, tidak harus dk manjakan dengan kemewahan tetapi aku ingin bersama dan membuat kenangan indah" ucap Zahra terbata.


Ray hanya diam, ia terus saja mengusap punggung Zahra dengan lembut.


Bibir nya terus saja mengecup pucuk kepala Zahra.


"Aku berjanji, hanya akan ada air mata kebahagian saja yang keluar dari mata indah mu" ucap Ray lembut.


Lalu mereka berpelukan dengan erat, bahkan tubuh mereka sangat intim.


Hingga tak lama kemudian, Zahra terlelap dalam pelukan Ray.


Ray merebahkan Zahra di ranjang, ia lalu mengecup seluruh inci wajah nya.


"Kamu pantas bahagia, sayang" gumam Ray dengan mengecup bibir ranum Zahra sekilas.


Lalu Ray pun ikut serta memejamkan mata nya dengan memeluk Zahra erat.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2