
Wakgu berlalu, kini Zahra sudah dalam perjalanan pulang karena waktu pulang kantor sudah selesai.
"Sangat melelahkan sekali, apalagi besok aku harus ikut ke Hotel X untuk meeting bersama Ray" gumam Zahra dengan menghela nafas kasar.
Zahra langsung memberikan kunci mobil nya pada penjaga untuk di masukan ke dalam garasi.
Ia sendiri langsung melenggang masuk ke dalam mansion.
"Selamat sore, Nona" sapa para pelayan.
"Sore Bi, saya ke kamar dulu ya" balas Zahra dengan tersenyum ramah.
Para pelayan menganggukan kepala nya, mereka memang sudah kenal dekat dengan Zahra. Mereka tahu Zahra sejak Ray membawa nya ke mansion utama.
Saat Nyonya Filda mengatakan bahwa mereka akan ikut serta bersama Zahra dan Ray, mereka langsung mengiyakan dengan bahagia.
Setelah menyapa Nona nya, mereka kembali ke pekerjaan masing-masing.
Ray, akan pulang setelah magrib. Ia sudah memberitahu Zahra bahwa ia akan lembur sebentar.
Setelah selesai mandi, Zahra turun ke lantai bawah dan menuju ke dapur.
"Nany" panggil Zahra pada kepala pelayan sekaligus koki disana.
Nany yang sedang menyiapkan bahan makanan pun menghentikan kegiatannya. Ia menghampiri Zahra segera.
"Iya Nona muda" ucap Nany.
"Aku yang akan memasak makan malam, kau temani saja aku ya" ucap Zahra dengan tersenyum.
"Baik Nona, itu sudah saya siapkan bahan-bahan nya" balas Nany dengan sopan.
Zahra lalu mengajak Nany langsung saja memasak, Zahra yang meracik bumbu dan memasak. Sedangkan Nany, ia hanya membantu saja dan menyiapkan apa yang di perlukan sang Nona.
Di dapur belakang, pelayan yang lain juga sedang masak makan malam untuk mereka.
Zahra sengaja meminta di buatkan Dapur dan juga tempat istirahat bagi pelayan.
"Bekerja disini sudah seperti kita juga yang punya Rumah ya, mana majikan yang baik dan ramah pula" ucap salah satu pelayan.
"Kau benar, kita harus banyak bersyukur akan hal ini. Jadi sebisa mungkin kita bekerja dengan baik dan giat, dan yang paling penting jangan menjadi pengkhianat saja" timpal temannya.
"Kalau aku sih pikir-pikir mau jadi pengkhianat, siapa yang tak tau kejam nya Tuan muda dan Tuan Irwan? Dan juga kita tidak akan mendapatkan majikan yang baik sekali seperti ini" timpal yang lainnya.
Mereka menganggukan kepala, mereka memilih bekerja dengan benar saja daripada mencari masalah.
Mereka memasak banyak karena untuk para penjaga juga, dan mereka selalu makan bergantian.
*
Hampir jam 7 malam tetapi Ray belum juga pulang, Zahra juga belum makan malam karena ingin makan bersama dengan Ray.
"Nona, anda makan saja terlebih dulu" ucap Nany yang memang sedang menemani sang Nona.
"Tidak Ny, aku akan menunggu Mas Ray dulu" balas Zahra lembut.
Nany hanya bisa mengangguk pasrah, ia hanya bisa menemani sang Nona saja.
__ADS_1
Mereka terus saja mengobrol, hingga tak terasa waktu sudah hampir jam 9 malam.
"Nona" panggil Nany dengan lirih.
"Tidak apa, kamu lebih baik istirahat saja" ucap Zahra.
Nany menganggukan kepala meski keberatan, ia harus istirahat karena besok pagi sekali ia harus pergi ke pusat perbelanjaan.
Zahra duduk di ruang tengah, ia tetap menunggu Ray yang entah kapan akan pulang.
Bahkan ponsel nya pun tak dapat di hubungi, Zahra pun belum makan malam.
"Kamu kemana Mas, jangan buat aku cemas" gumam Zahra dengan menggenggam ponsel nya erat.
Zahra sudah bertanya pada Citra, tetapi ia juga sama masih menunggu Irwan yang belum pulang.
Dan mereka berdua kompak tidak memberitahu pada sang Bunda.
**
Sedangkan di perusahaan, Ray dan Irwan masih saja bekerja tanpa melihat jam.
Hingga Ray sadar dan melihat jam sudah menunjukan angka 10 malam.
"Astaga Irwannnn" teriak Ray dengan lantang.
"Ada apa Tuan?" tanya Irwan yang kaget bahkan ia sampai melepaskan pensil nya entah kemana.
"Lihat jam" tunjuk Ray pada jam dinding.
Sontak Irwan langsung saja menatap nya, ia juga sama kaget nya dan melebarkan mata nya.
Ray pun dengan segera membereskan berkas nya, mereka buru-buru karena para Istri pasti masih menunggu mereka.
Irwan tak lupa memasukan beberapa berkas penting pada tas kerja nya dan juga tas kerja Raymond.
Setelah mengunci ruangan, Irwan dan Ray langsung turun ke lantai dasar.
"Ya ampun, Zahra pasti khawatir dan ponsel kenapa jadi bisa mati" gerutu Raymond dengan kesal.
Setelah masuk ke dalam mobil, Irwan langsung saja melajukan nya dengan kecepatan penuh dan untung saja jalanan sudah mulai lenggang.
Selang beberapa menit, Ray dan Irwan sampai di mansion Ray.
"Kau langsung saja pulang, dan hati-hati di jalan" ucap Ray sebelum turun.
"Baik Tuan" balas Irwan patuh.
Ray langsung saja melangkah dengan lebar, ia takut kalau Zahra akan kecewa pada nya.
"Tuan" sapa Nany yang kebetulan memang ingin mengecek Zahra.
"Dimana Nona muda?" tanya Ray cepat.
Nany menunjuk ke sofa yang dimana Zahra sedang tertidur sambil duduk dan memegang ponsel nya.
"Nona tidak mau makan malam lebih dulu ataupun pergi, ia menunggu anda sampai ketiduran" ucap Nany dengan pelan.
__ADS_1
"Maafkan aku sayang" batin Ray dengan sakit.
"Hangatkan masakan Zahra, aku dan Zahra akan makan malam" ucap Ray pada Nany.
Nany mengangguk patuh, ia langsung saja pergi dari sana menuju ke dapur.
Sedangkan Ray, ia menghampiri Zahra yang sedang terlelap di atas sofa.
"Sayang" panggil Ray dengan mengusap lembut pipi Zahra.
Zahra menggeliat dan mulai mengerjapkan mata nya, ia tersenyum saat melihat Ray yang ada disana.
"Mas, sudah makan belum?" tanya Zahra saat membuka mata nya sempurna.
"Kita makan malam bersama oke" ajak Ray dengan lembut.
Ray lalu memeluk Zahra dengan segenap rasa bersalah nya, ia membawa Zahra ke ruang makan yang dimana di meja makan sudah tertata rapi.
Zahra mengambil makanan untuknya dan juga Ray, setelah itu ia kembali duduk bersama Ray.
"Maafkan aku" ucap Ray dengan lirih.
Zahra tersenyum ia menggelengkan kepala nya, lalu mengusap lembut pipi Ray.
"Tidak apa, aku tau pasti banyak pekerjaan di kantor kan?" tanya Zahra dengan lembut.
Ray menganggukan kepala, ia lalu menyuapi Zahra dengan telaten.
Sesekali ia juga menyuapkan nasi pada diri nya.
Setelah menghabiskan makan malam nya, Ray membawa Zahra untuk ke kamar.
Mereka akan istirahat apalagi hari sudah larut.
Ray langsung membersihkan diri nya, lagi dan lagi ia melihat bahwa Zahra sudah menyiapkan air hangat yang di atur dengan suhu yang pas untuk nya.
"Maafkan aku sayang" sesal Ray dengan meringis hati nya.
Ray langsung saja menyelesaikan mandi nya, setelah itu ia langsung keluar kamar mandi.
Zahra tersenyum melihat Ray, lalu ia memberikan pakaian ganti untuk nya.
Setelah selesai, Ray langsung saja memeluk Zahra. Ia memeluk nya dengan erat karena merasa bersalah.
"Tidurlah, aku tau kau pasti lelah sayang" ucap Zahra lembut.
Ray mengangguk, ia menelusupkan wajah nya pada ceruk leher Zahra.
Hingga tak lama kemudian, terdengar dengkuran halus di telingan Zahra.
Zahra mengusap lembut lengan Ray, ia tersenyum kecil karena memang Ray snagat lelah dengan banyak nya pekerjaan.
Setelah di rasa Ray terlelap nyenyak, Zahra pun bangun dan beranjak ke sofa.
Ia membuka tas kerja Ray dan juga laptop nya, Zahra langsung saja mengerjakan beberapa pekerjaan Ray yang tertunda.
.
__ADS_1
.
.