Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 99


__ADS_3

Setelah kenyang, Zahra pun beranjak dari sana bersama dengan Raymond.


"Maafkan aku, Sayang" ucap Raymond dengan memeluk Zahra.


"Tidak apa, tapi lain kali harus menghubungi dulu" balas Zahra lembut.


Raymond mengangguk, mereka langsung merebahkan tubuh nya yang sudah mengantuk di ranjang.


Zahra memeluk Ray, dia kemudian terlelap kembali dengan deru nafas yang sudah teratur.


Sedangkan Ray, dia masih terjaga dan mengusap pinggang Zahra. Hingga dini hari, Ray baru bisa memejamkan mata nya dan ikut terlelap bersama dengan Zahra.


***


Ke esokan pagi nya, Zahra kembali terlelap karena masih merasa ngantuk. Sedangkan Ray, dia sudah terjaga sejak tadi dan ia juga memilih libur dulu dari perusahaan.


Ray akan membawa Zahra jalan-jalan ke taman dekat sini, dia ingin membawa nya piknik meski tidak berangkat jauh.


"Bunda" panggil Ray yang sudah turun ke bawah.


"Ada apa, Nak?" tanya Bunda.


Ray terlebih duduk dulu, dia menikmati kopi buatan sang Bunda.


"Ray akan membawa Zahra ke taman, kita akan piknik disana dengan membawa makanan dari Rumah" ucap Raymond.


"Benarkah? Boleh Bunda ikut?" tanya Bunda.


"Tentu saja, kita akan pergi bersama dan Bibi juga akan ikut untuk menemani Bunda" jawab Raymond tersenyum.

__ADS_1


"Baiklah, Bunda dan Bibi akan menyiapkan semua nya dari sekarang" ucap Bunda dengan antusias.


Ray hanya menganggukan kepala nya, dia kemudian beranjak untuk ke kamar nya kembali. Dia akan melihat Zahra yang masih terlelap.


Ceklek.


Raymond tersenyum, karena Zahra sudah siap dan rapih. Dia lalu menghampiri nya dan memeluk nya dengan hangat.


"Selamat pagi sayang, bagaimana kabar anak Ayah" ucap Raymond dengan lembut.


Ray berjongkok, kemudian dia mengecup dan mengusap lembut perut sang Istri.


"Hari ini kita akan jalan-jalan ya, kita piknik oke" ucap nya dengan lembut.


"Benarkah Mas?" tanya Zahra antusias.


"Tidak apa, Mas. Yasudah ayo kita siap-siap" ajak Zahra.


Ray tersenyum, kedua nya lalu keluar dari kamar dan langsung saja ke ruang makan.


Zahra dengan antusias langsung saja menghampiri sang Bunda yang sedang menyiapkan makanannya.


"Hei kenapa berlari begitu, sayang?" tanya Bunda dengan panik.


"Ehehe, aku terlalu antusias Bunda" balas Zahra dengan terkekeh.


Bunda menggelengkan kepala, lalu kemudian dia memeluk sang menantu dengan lembut.


"Ayo kita berangkat, semua nya sudah siap dan tinggal pergi saja" ajak Bunda pada Ray.

__ADS_1


"Baiklah ayo" balas Raymond.


Kemudian mereka melangkah pergi dari sana, Zahra senantiasa memeluk lengan mertua nya dan senyuman yang tak pernah luntur.


Ray menatap kedua nya dengan tersenyum kecil, bisa di lihat bahwa dengan hal sekecil ini saja sudah membuat Zahra bahagia.


Memang beberapa hari ini kegiatan Ray sangat padat dan bahkan sempat mengabaikan Zahra, namun Zahra tak pernah mengeluh sama sekali.


"Siap?" tanya Ray.


"Lets Go" balas Zahra dengan semangat.


Ray tersenyum kecil, kemudian dia mengemudikan mobil nya dengan kecepatan sedang saja.


Di samping Ray, Zahra menatap keluar jendela dengan senyum kecil namun sangat bahagia.


Hingga tiba di taman, mata Zahra langsung berbinar banyak nya anak-anak yang bermain dan aneka makanan yang berjejer disana.


"Ayo Bunda, Mas" ajak nya dengan semangat.


"Sebentar sayang, jangan terburu-buru begitu" balas Raymond tersenyum.


Zahra hanya tersenyum malu, lalu mereka semua keluar dan menggelar tikar di bawah pohon rindang yang ada di pinggir taman.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2