Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 57


__ADS_3

-Indonesia


Sedangkan di Indonesia , Aeni baru saja keluar dari Universitas setelah mendapatkan pesan agar mengambil tanda lolos masuk kesana untuk kuliah.


Sepanjang perjalanan pulang, ia terus saja tersenyum karena ia berhasil lolos masuk dan juga mendapatkan beasiswa disana.


"Ibu pasti akan senang" gumam nya dengan tersenyum saja mengembangkan senyuman.


Aeni terus melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, ia mampir ke toko kue yang menjadi langganan mereka sejak tinggal di Jakarta.


Dia membeli beberapa kue untuk Ibu dan Bapak, karena Doni sudah menempati hadiah Rumah dari Raymond dan Zahra.


Setelah selesai, ia langsung saja pulang menuju ke Rumah sang Ibu.


Hingga tak berapa lama ia sampai di halaman Rumah, terlihat disana ada mobil sang Abang, Doni.


"Ibuuuu" panggil Aeni dengan tersenyum bahagia.


Ibu, Bapak, Doni dan Ana langsung saja melihat Aeni yang sedang tersenyum cerah , bahkan mengalahkan kecerahan matahari hari ini.


"Kenapa nih senyum nya lebar banget?" tanya Doni dengan bingung.


Aeni mengulum senyum, ia lalu duduk di antara Ibu dan Bapak, lalu ia meletakan kue yang sudah ia beli tadi.


Ana dan Doni saling tatap dengan bingung, tidak biasanya Aeni keluar sendiri dan membeli makanan.


"Berkat do'a kalian, aku lolos masuk ke UI dan juga aku mendapatkan beasiswa" ucap Aeni dengan senyum merekah dan juga bahagia.


"Selamat Nak" ucapa Bapak dan Ibu memeluk Aeni dengan sayang.


Ana tersenyum, ia sangat bangga pada pencapaian Adik ipar nya.

__ADS_1


"Kenapa Abang dan Kakak diam saja? Gak seneng yah aku bahagia?" ketus Aeni saat melihat respon Doni dan Ana hanya tersenyum saja.


"Ck, baper sekali sih kamu! Kita bahagia lah, bahkan bangga banget sama kamu" ucap Doni tersenyum lembut.


Hehe.


Aeni langsung saja cengengesan, ia menghambur memeluk Doni dan Ana bergantian.


"Kenapa ngambil beasiswa, Dek? Padahal Kakak dan Abang juga masih sanggup membiayai mu?" tanya Ana dengan lembut.


Aeni tersenyum pada Ana, ia lalu pindah duduk nya ke dekat Ana.


"Tidak apa Kak, aku tidak akan bekerja asalkan aku boleh mengambil beasiswa untuk kuliah. Aku akan memberikan hal yang membanggakan untuk kalian yang sangat baik padaku" jawab Aeni dengan tulus.


"Aku beruntung sekali bukan? Di angkat menjadi Anak dan di anggap Adik kandung oleh kalian, aku ini yang bukan siapa-siapa, bahkan aku tak percaya diri untuk masuk ke universitas. Tetapi kalian membuatku percaya diri dan berani dalam mengambil keputusan, jadi biarkan aku membuktikan pada Dunia bahwa aku akan membanggakan kalian" ucapnya kembali dengan semangat dan tulus.


Ana memeluk nya dengan terharu, ia bangga akan sikap yang ada di diri Aeni.


Ibu, Bapak dan Doni pun ikut mengembangkan senyumannya.


"Memang nya kamu ngambil jurusan apa, Dek?" tanya Doni.


"Dokter" jawab Aeni dengan yakin.


"Belajarlah yany benar agar kelak kau bisa jadi Dokter yang sangat hebat" ucap Bapak.


"Do'akan saja ya, Pak, Bu, Kak" balas Aeni dengan tersenyum tulus.


Setelah berbincang, mereka kemudian memakan kue yang di bawa oleh Aeni tadi.


Ana dan Aeni kemudian berlalu ke dapur untuk memasak.

__ADS_1


**


Setelah makan malam, Aeni pergi ke kamar nya untuk belajar.


Dia akan terus belajar untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.


"Entah dimana kalian, kalaupun kalian sudah meninggal aku akan selalu bangga pada kalian. Kalaupun kalian memang sengaja membuangku, aku tidak membenci kalian, mungkin aku yang tak di inginkan.


Saat ini aku hanya ingin sukses dan terus bersyukur telah di berikan keluarga yang hangat walaupun bukan keluarga kandung" gumam Aeni dengan mengingat kedua orangtua nya.


"Aku hanya berharap saat ini aku bisa memberikan kesuksesan untuk keluarga ini dan Kak Zahra. Karena mereka yang sudah memberikan kebahagian dan kehangatan keluarga dalam diriku" gumam nya kembali.


Setelah di rasa cukup belajar nya, Aeni merebahkan tubuh nya dan tak lama kemudian ia terlelap karena memang sudah larut malam.


Sedangkan di luar, Ibu dan yang lainnya belum istirahat. Mereka sedang berbincang bersama dengan Anak dan menantu nya.


"Kapan Ibu dan Bapak akan pergi menengok Zahra?" tanya Doni.


"Entahlah Don, Ibu dan Bapak berat meninggalkan Aeni sendirian disini" jawab Ibu Aminah dengan helaan nafas kasar.


"Jika kalian ingin pergi, maka pergilah Bu, Pak. Biarkan Aeni sementara waktu tinggal bersama Ana dan Mas Doni" ucap Ana lembut.


Doni menganggukan kepala, ia membenarkan ucapan Istri nya.


"Nanti saja lah, Bapak masih agak takut lama-lama naik pesawat" balas Bapak dengan terkekeh geli.


Doni dan Ana tersenyum, ya memang jarak mereka dan Zahra sangat jauh. Mereka bahkan harus berjam-jam di udara untuk bertemu dengan Zahra.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2