
Hari-hari berlalu dengan cepat, kehidupan Zahra pun silih berganti dan berwarna setiap hari nya.
Dia sudah hampir 4 bulan tinggal di kediaman sang Mertua , dan semua nya nampak berubah dengan berjalan nya waktu.
Seperti saat ini, sang Ibu mertua terus saja marah-marah saat tidak ada makanan di meja makan yang kebetulan dirinya sedang sakit.
"Zah, Zahra" teriak Ibu mertua nya dengan lantang.
Zahra yang memang sangat pusing dan meriang pun tak mampu menjawab dan hanya diam dengan memejamkan mata nya.
Terdengar pintu kamarnya yang terbuka dan tak lama kemudian tertutup lagi dengan lumayan keras.
"Ya Tuhan" batin Zahra dengan meringis.
Sedangkan sang mertua, ia keluar dari Rumah dan membeli makanan di warung depan.
Terlihat wajah nya yang sangat kesal dan emosi.
"Tumben Bu beli makanan" ucap Bu Rt yang memang sedang ada disana.
"Iya nih, biasanya juga tidak pernah" timpal Ibu yang lainnya.
"Ck, ini semua gara-gara si Zahra yang masih tidur dan di bangunkan juga tidak bangun-bangun, anak itu semakin hari semakin pemalas saja" gerutu Ibu Jeni dengan nada yang ketus dan kesal.
"Bukannya Zahra itu sakit ya, soalnya tadi kan Nak Wendi membeli bubur untuk dia" celetuk si tukang warung.
Ibu Jeni hanya angkat bahu acuh dan pergi dari sana, ia menenteng makanan untuk nya sendiri.
Sedangkan Ibu-ibu yang ada disana melihat nya dengan gelengan kepala ada juga yang kesal karena sikap nya.
**
Ibu Jeni langsung kembali ke kamar setelah makan siang, ia mengabaikan Zahra yang katanya sakit.
Bahkan ia juga tidak bertanya apapun atau hanya sekedar menyuruh nya ke Dokter.
Zahra sendiri, ia menangis terisak di dalam kamar karena merasa sangat pusing dan juga lapar.
Ia bangun dengan memaksaan keadaannya, ia tidak berani menelpon Wendi karena sedang berada di luar Kota.
"Kamu harus kuat Zah" gumam nya dengan memegang gagang pintu kamar.
Ia melangkah ke dapur berharap ada makanan yang bisa ia makan, tetapi tidak ada sama sekali dan Zahra memutuskan ke warung depan yang memang ada penjual nasi padang.
"Hah, aku harus kuat dan tegar" gumam nya dengan menyeka air mata.
Ia melangkah keluar dari Rumah dengan berhenti-henti karena merasakan pusing di kepala nya dan badannya juga yang panas.
Ceklek.
"Kak" ucap Aeni yang kebetulan memang akan menjenguk Zahra.
__ADS_1
"Aeni, tolong Kakak belikan obat dan makanan" lirih Zahra dengan lemas.
Aeni langsung mengangguk dan membawa Zahra kembali masuk ke dalam kamar nya.
Ia cukup geram yang kala melihat Ibu Jeni malah duduk santai dengan Putri bungsu nya.
Aeni menyuruh Zahra untuk rebahan dulu, ia dengan segera melangkah keluar kamar dan menuju ke depan mencari apotek serta bubur ayam.
Hingga beberapa saat ia kembali lagi dengan membawa bubur dan obat penurun panas serta meredakan pusing.
Aeni juga menyiapkan bubur di mangkuk yang ada di dapur.
"Astaga itu Emak macam apa ya, menantu nya sakit juga dia acuh banget" batin Aeni dengan kesal.
Ceklek.
"Ayo makan bubur nya dulu, Kak" ucap Aeni dengan cepat.
Ia membantu Zahra dengan mendudukan di atas ranjang, lalu ia memberikan bubur nya dan ia sendiri menyiapkan obat dan air minum.
"Besok pagi kita ke Dokter kalau Kakak gak kunjung sembuh ya, Dek" ucap Zahra dengan lemah.
"Kenapa tidak sekarang saja, Kak? Aku takut nanti malam Kakak akan meriang" balas Aeni khawatir.
"Tidak apa, sayang. Kakak akan baik-baik saja" ucap Zahra menenangkan.
Aeni hanya bisa mengangguk, ia kemudian memberikan obat nya pada Zahra.
Setelah meminum obat, Zahra kemudian memejamkan mata nya kembali berharap agar cepat sembuh.
"Terimakasih, Dek" balas Zahra yang tanpa membuka mata nya.
Sebenarnya Aeni sangat berat meninggalkan Zahra, tetapi ia juga harus kembali ke perkebunan Teh karena belum beres bekerja.
Aeni pergi dari Rumah tersebut dengan berat hati, ia terus saja menghembuskan nafas kasar di sepanjang jalan menuju kebun Teh.
***
Sore hari nya, keadaan Zahra sudah sedikit membaik dan ia memutuskan untuk mandi dengan air hangat.
Ia benar-benar merasakan hidup sendirian di Rumah mertua nya itu.
"Sebenarnya apa salahku? Kenapa Ibu jadi berubah" batin Zahra bertanya-tanya dengan sendu.
Zahra tidak keluar kamar karena ia merasa masih sedikit lemas, terdengar bahwa sang mertua yang terus mengoceh karena lelah mengerjakan pekerjaan Rumah nya sendiri.
Sedangkan Adik ipar nya baru saja pergi ke sekolah karena akan ada acara sampai 2 hari disana.
"Ya Tuhan, apa aku akan sanggup?" gumam Zahra memejamkan mata nya dengan menyenderkan kepala nya di sofa.
Drtt Drrtt
__ADS_1
Ponsel Zahra bergetar, ia lalu melihat siapa yang menelpon dan ternyata sang Suami yang menelpon nya.
"Halo sayang, bagaimana keadaan mu sekarang?" tanya Wendi dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja, Mas" jawab Zahra lembut.
"Besok Mas akan pulang, jangan membuat Mas cemas ya sayang. Cepat membaik" ucap Wendi kembali dengan lirih.
"Iya sayang, aku ingin istirahat dulu ya" balas Zahra dengan pelan.
"Yasudah, Mas tutup telepon nya" ucap Wendi
Tut.
Setelah sambungan telepon nya terputus, Zahra terisak pelan dengan menelungkupkan wajah nya di atas bantal yang ada di sofa.
"Aku bertahan karena semua demi kamu, Mas" gumam Zahra.
Zahra menangis hingga ia tak sadar sampai tertidur, hingga malam Zahra belum bangun juga.
Dan Aeni pun datang kembali membawa beberapa makanan.
*Tok
Tok*
Ceklek.
"Eh Aeni, mau ketemu Zahra?" tanya Ayah mertua Zahra.
"Iya Om, boleh saya masuk?" ucap Aeni dengan cuek.
Ayah mertua Zahra menganggukan kepala nya, dan ia menyingkir dari hadapan Aeni.
Ia memang tidak tahu bahwa Zahra yang sakit karena Ibu Jeni tidak memberitahu nya.
Aeni terus saja melangkah ke arah kamar Zahra, ia membuka nya langsung dan masuk ke dalam.
Terlihat Zahra yang terlelap dengan bekas air mata yang ada di wajah nya.
"Apa kamu tersiksa, Kak?" gumam Aeni dengan nafas yang memburu.
"Meskipun aku bukan Adik mu, tetapi aku merasakan juga bagaiman sakit yang kamu rasakan, Kak. 4 bulan kedekatan kita membuat aku mengerti kamu itu tidak hanya kuat, tegar dan ceria tetapi kamu juga lemah" gumam nya kembali dengan sendu.
"Semoga ada kebahagian esok hari untuk mu" gumam nya lagi.
Aeni lalu melangkah menghampiri Zahra, ia menyelimuti tubuh Zahra dan mengusap kening nya dengan lembut.
Aeni memang sengaja kesana karena di suruh oleh Wendi untuk menjaga Zahra.
.
__ADS_1
.
.