Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 16


__ADS_3

Hingga tak terasa sudah 1 minggu Zahra berada di Rsj tersebut.


Kedua orangtua nya terus saja memberinya suport agar cepat sembuh, begitupun dengan Doni dan Aeni, apalagi Dokter Ana dan Key.


Mereka semua memberi semangat agar Zahra keluar dari angan-angan yang memojokannya.


Begitupun dengan Wendi, ia sudah 3 kali berkunjung ke sana akan tetapi tidak mendapatkan respon apapun oleh Zahra.


Sedangkan kedua mertua nya, belum berkunjung sama sekali setelah hari dimana mereka mengantarkan Zahra.


Hari ini, terlihat Zahra yang semakin membaik bahkan ia sudah bisa merespon semua orang disana.


Zahra sudah seperti mendapatkan jati diri nya kembali, akan tetapi bukan Zahra yang dulu melainkan Zahra yang baru.


"Kak" panggil Aeni dengan senyum manis nya.


Zahra hanya membalas nya dengan senyuman, Zahra asyik dengan Dunia nya sendiri.


Sesekali ia menatap Aeni yang sedang memperhatikannya, tetapi Zahra tidak peduli ia malah asyik menggambar.


"Aku akan bekerja nanti, dan kau tidak perlu lagi bekerja Aeni" ucap Zahra tanpa menatap Aeni yang ada di samping nya.


"Sembuh saja dulu, Kak" ceplos Aeni dengan santai.


Zahra mengangguk, ia fokus kembali pada gambar yang ia buat dan kembali mengabaikan Aeni yang terus saja berusaha melihat apa yang sedang ia kerjakan.


**


Siang hari nya, Zahra jadwal bertemu dengan Dokter Key. Jika hasil hari ini bagus maka Zahra boleh pulang.


Ya 2 hari ini kondisi Zahra membaik dengan drastis, bahkan ia tidak pernah histeris ataupun membahas masalah tentang hamil ataupun anak.


"Ah Dokter Key sudah sampai" ucap Aeni yang memang sejak pagi tadi sudah disana karena orangtua Zahra sedang pulang dulu.


Dokter Key menganggukan kepala nya pada Aeni, lalu ia menghampiri Zahra.


Dengan serius Dokter memeriksa Zahra dan melakukan tes spikolog nya kembali.


Hampir 1 jam lebih mereka melakukan pemeriksaan dan juga tes segala macam.


Dokter Ana dan Dokter Key tersenyum bahagia bahkan mereka memeluk Zahra dengan air mata yang menetes.


Zahra pun ikut memeluk mereka dengan tersenyum kecil dan Aeni sama sekali tidak mengerti apapun.


Ibu Aminah , Doni dan juga Bapak Tora di buat bingung dengan mereka yang memeluk Zahra sambil menangis.


"Aeni, ada apa ini?" tanya Doni penasaran.


"Aku juga tidak tahu, Bang. Dokter Ana dan Key baru saja memeriksa Kak Zahra" jawab Aeni dengan wajah bingung nya.


Ibu Aminah sudah sangat khawatir, ia menghampiri ke tiga nya dengan langkah sedikit tergesa.

__ADS_1


"Dok, ada apa ini?" tanya nya dengan wajah panik.


Dokter Key melepaskan pelukannya, ia menyeka air mata nya dan tersenyum pada Ibu Aminah.


"Bu, Zahra sudah boleh pulang dia sudah sembuh total, Bu" ucap Dokter Key dengan raut wajah bahagia.


Deg.


Jantung Ibu Aminah terpacu, ia sangat bahagia mendengar semua ini.


Tanpa menjawab apapun ucapan Dokter, Ibu Aminah langsung memeluk sang Putri begitupun dengan Aeni.


"Alhamdulilah Nak, sekarang kamu sembuh sayang" ucap Ibu Aminah dengan tangis yang pecah.


"Kakak, ayo kita jalan-jalan ke Taman hiburan" ucap Aeni dengan raut wajah sangat bahagia.


Doni dan Bapak pun ikut serta tersenyum, mereka membiarkan para wanita dulu mencurahkan semua rasa bahagia nya.


Sangat terlihat jelas raut wajah bahagia dari keluarga tersebut, Dokter Ana dan Key pun ikut merasakan kebahagian yang ada di keluarga itu.


"Ibu, aku ingin ke Rumah Mas Wendi dulu. Aku belum berpisah dengan nya" ucap Zahra setelah mereka melepaskan pelukannya.


"Dek, apa kamu yakin?" tanya Doni sedikit tak suka.


"Iya Abang, aku belum resmi berpisah dengannya. Izinkan aku mengurus semua nya dulu, aku sudah menyerah akan rumah tangga ini" jawab nya dengan sangat yakin dan tegas.


Doni mengangguk, ia bukan sekedar memberi izin sembarangan.


Doni membereskan semua administrasi Zahra, sedangkan Ibu dan Aeni membereskan semua barang Zahra.


"Apa kita bisa bertemu kembali, Zah?" tanya Dokter Ana sendu.


"Boleh, aku merasa mempunyai Kakak perempuan bersama dengan kalian" jawab Zahra dengan raut biasa saja.


"Besok kita akan ke Rumah mu, aku akan membawa Suami dan putri ku" timpal Dokter Key.


Zahra mengangguk antusias, ia sudah sering berkomunikasi dengan Putri Dokter Key lewat vidio call.


"Lepaskan saja jika memang kamu sudah tidak sanggup, itu akan lebih baik di bandingkan kamu berusaha bersama tetapi semua nya akan sia-sia" ucap Dokter Key.


"Suami mu pasti akan menemani mu sampai sembuh , tidak peduli ia lelah bekerja dengan apapun alasannya. Tetapi , lihat lah dengan Suami mu? Dia seperti tidak memperhatikan mu" balas Dokter Ana.


Zahra mengangguk, ia tahu bahwa Wendi bukan sekedar sibuk bekerja saja tetapi ia juga pasti sibuk dengan hobby nya.


Dan Zahra akan kesana saat pulang nanti untuk membuktikan semua nya, jika memang Wendi tidak berubah maka ia akan pergi.


*


Dalam perjalanan menuju ke Rumah Ibu Jeni, Zahra diam saja dengan menatap keluar jendela mobil.


Ia akan mengurus semua nya , tekad nya sudah bulat untuk pergi dari sisi Wendi.

__ADS_1


"Aku harap kau akan bahagia setelah kepergian ku, Mas" batin Zahra dengan yakin.


Hingga perjalanan mereka tidak terasa dan sampailah di kediaman Wendi.


Terlihat disana mobil Wendi ada di halaman tersebut.


Mereka keluar dari mobil dan langsung menuju ke Rumah belakang.


Zahra melarang Doni mengeluarkan semua barang-barang nya dari bagasi.


Terdengar tawa renyah dari arah Rumah belakang, dan ternyata disana sedang berkumpul Keluarga Wendi dan ada juga teman-teman Wendi.


Terlihat disana Wendi masih memakai pakaian berburu nya dan sudah terbukti bahwa Wendi tidak terlalu sibuk di pekerjaannya.


"Zahra" ucap Wendi dengan kaget.


Ia langsung bangun dari duduk nya dan menghampiri Zahra sang Istri.


Antara kaget, senang dan juga gelagapan yang di rasakan oleh Wendi saat ini.


"Kenapa kamu pulang tidak memberitahu, Mas?" tanya Wendi dengan wajah kaget nya.


"Periksa ponsel mu, disana pasti kamu akan tau jawabannya" jawab Zahra datar.


Ibu Jeni yang baru saja membawa sesuatu dari dalam pun ikut terkejut saat melihat keluarga besan dan menantu nya yang ada disana.


"Zahra, kamu sudah pulang Nak? Kamu sudah sembuh?" tanya Ibu Jeni menghampiri mereka.


Sedangkan Wendi, ia sangat kaget saat melihat ponsel nya yang banyak panggilan dan juga chat dari Doni dan juga Bapak mertua nya.


"Ayo masuk dulu" ajak Ayah Beni.


"Tidak usah, Ayah" tolak Zahra.


"Apa maksud mu, Zah?" tanya Wendi dengan kaget.


Zahra menghembuskan nafas kasar, ia menatap Wendi dengan tatapan yang sangat sulit di artikan.


"Aku lelah Mas, aku menyerah dengan semua ini. Aku ternyata salah, aku kira kamu benar-benar mencintaiku tetapi nyata nya kamu tidak" ucap Zahra dengan menatap Wendi dalam.


"Aku selalu menunggu mu setiap saat di Rumah sakit, aku ingin kau ada di sampingku tanpa aku minta. Apa kamu malu mempunyai Istri gila? Ah apalagi aku yang tidak bisa memberi kamu anak?" tanya Zahra dengan tatapan nanar.


"Aku ingin pisah dengan mu, aku lelah dan aku menyerah" ucap Zahra dengan tegas dan menatap Wendi lantang.


Deg.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2