Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 25


__ADS_3

Keluarga Wendi pun berpamitan dari sana, mereka semua pulang ke Apartemen Wendi.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Wendi menatap kedua mantan mertua nya dengan tatapan sendu.


"Maafkan saya, Bu, Pak" ucap Wendi lirih.


"Semoga Zahra cepat kembali dan dia mendapatkan bahagia lebih dari yang bersamaku" ucap nya lagi dengan menundukan kepala.


"Iya, kamu juga semoga bahagia" balas Ibu Aminah lembut dan mengusap pundak nya.


Wendi mengangguk, ia lalu menyalami mantan Ibu mertua nya dan pergi setelah nya dari sana.


Ibu Aminah , Bapak Tora dan Aeni kembali masuk ke dalam Rumah. Aeni pergi ke kamar nya karena merasa sangat emosi.


"Pasti dia emosi" ucap Bapak dengan menunjuk Aeni yang pergi begitu saja.


"Iyaa dia pasti sangat emosi, Ibu yakin dia akan mengurung diri di kamar" balas Ibu dengan duduk di sofa.


***


Tak terasa hari berganti dan pesawat yang membawa Doni serta Ana sudah sampai di Amerika.


Doni membawa Ana ke penginapan, mereka menginap di satu atap namun beda kamar.


"Nanti siang kita ke perusahaan nya, sekarang kita istirahat dulu" ucap Doni pada Ana.


"Iya Mas" balas Ana.


Mereka masuk ke kamar masing-masing, Doni menghempaskan tubuh nya di atas ranjang yang disana.


**


Sedangkan di perusahaan Langit, saat ini Irwan menuju ke ruangan sang CEO.


Ceklek.


"Maaf Tuan" ucap Irwan dengan sopan.


Raymond menatap sang Asisten, ia sudah tahu pasti ada hal penting sampai Irwan masuk ke dalam ruangannya tanpa mengetuk pintu.


"Ada apa?" tanya Raymond.


"Kakak Nona Zahra sudah sampai disini, mereka nanti akan kesini sebagai utusan dari perusahaan X" jawab Irwan dengan tenang.


"Bagus, nanti mereka akan bertemu. Aku tahu bahwa Zahra pun sudah ada niatan untuk pulang ke Indonesia tetapi ia masih banyak pekerjaan" ucap Raymond tersenyum.


Irwan lalu pergi dari sana, ia hanya memberi laporan saja pada sang atasan yang sedang kasmaran ke dua itu.


Hubungan Raymond dan Zahra memang sudah lebih baik, tetapi Zahra selalu menjaga jarak nya dengan Raymond.


Terlebih lagi Raymond itu atasannya, dia tidak ingin mematik api dari karyawan lainnya, dan untung nya Raymond pun mengerti.

__ADS_1


Raymond sudah tau semua tentang Zahra, bahkan ia juga ikut merasa iba dan emosi atas apa yang menimpa wanita pujaannya.


Raymond juga sudah terang-terangan bahwa ia menyukai Zahra, tetapi Zahra tidak memberi respon apapun karena ia ingin fokus dan juga keluarga nya belum mengetahui dirinya ada dimana.


Saat mengetahui bahwa salah satu keluarga Zahra datang, Raymond sangat bahagia karena ia sudah sangat ingin menjalin hubungan serius pada Zahra.


"Sudah 6 bulan ini aku bersabar akan cinta sebelah tangan ini dan semoga saja dengan bertemu nya kamu dengan keluargamu maka cinta ku akan terbalaskan" gumam Raymond tersenyum bahagia.


Pekerjaan Zahra memang sangat memuaskan, beberapa kali para klien sangat bangga dan juga terpuaskan oleh hasil desain Zahra.


Bahkan saat ini perusahaan tersebut sedang banjir proyek Hotel di berbagai Kota, mau di dalam dan di luar Kota nya.


Dan dengan itu juga semua keinginan Zahra terpenuhi, bahkan ia menabung agar bisa membuatkan istana megah untuk sang Ibu dan Bapak.


Raymond tidak membiarkan Zahra keluar dari perusahaannya, ia juga sampai rela membeli desain-desain Zahra dengan harga pantastic agar ia tetap berada di sana.


"Keuntungan nya menjadi du, satu para klien puas dan menambah pundi uang dan yang kedua Zahra masih bisa aku awasi" gumam Raymond.


Lalu Raymond memanggil Zahra lewat telepon dan menyuruh nya untuk ke ruangan dirinya.


"Ah aku rindu sekali dengannya" ucap Raymond tersenyum kecil.


Hingga tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka dan menampilkan wajah cantik yang selalu ia rindukan.


"Ada apa, Tuan?" tanya Zahra.


"Nanti siang kau ikut meeting bersama ku di Restoran X" ucap Raymond.


Raymond melambaikan tangan pada Zahra, dan Zahra langsung menatap nya dengan memicingkan matanya.


"Aku rindu" rengek Raymond


Zahra mendengus, tetapi ia tetap menghampiri Raymond karena jujur saja ia juga sudah mulai nyaman dengannya karena Raymond sangat lembut dan pengertian tanpa harus di kode.


Grep.


Ehh.


Zahra kaget saat Raymond tiba-tiba memeluk nya dengan erat, ia membiarkannya karena Raymond akan semakin memaksa jika dia berontak.


Hingga beberapa saat, Raymond melepaskan pelukannya dan menyuruh Zahra duduk di hadapannya.


"Kapan akan ke Rumah lagi? Bunda sudah merindukanmu" ucap Raymond.


"Tidak tau, bolehkah aku cuti selama 1 bulan?" tanya Zahra.


Raymond mengernyitkan alis nya, ia tidak tahu bahwa Zahra ingin cuti yang cukup lama.


"Mau kemana dan ada urusan apa?" tanya Raymond balik.


"Aku ingin kembali ke Indonesi, aku ingin menemui keluarga ku dulu karena aku sudah terlalu lama pergi dari mereka" jawab Zahra dengan lirih.

__ADS_1


"Aku akan mengizinkan, tetapi kau harus pergi bersamaku" ucap Raymond.


Ehhh.


Zahra langsung menatap Raymond bingung, kenapa ia harus pulang bersama nya.


"Karena aku akan sekalian melamar mu, Zah" ucap Raymond tegas.


"Ray" kaget Zahra, ia tidak tahu bahwa Raymond masih saja mencintai.


"Ray, aku takut akan mengecewakan mu dan keluarga mu, aku ini tidak dapat memberi keturunan, Ray" ucap Zahra menundukan kepala nya.


Ceklek.


"Keturunan itu bukan masalah, jika kalian sama-sama cinta maka menikahlah. Bunda tidak akan mempermasalahkannya, karena dulu Bunda juga hampir 7 tahun baru bisa hamil Raymond" timpal Bunda Ray yang baru saja tiba.


"Bunda" panggil Zahra dan Ray.


Bunda menganggukan kepala nya sambil tersenyum, ia mendekati Zahra dan memeluk nya dengan hangat.


"Bunda sudah tau semua nya, Ray menceritakan semua nya tentang perjalanan hidup mu. Bunda juga tau bagaimana melewatkan rumah tangga yang sudah lebih dari 2 tahun tetapi belum juga memiliki keturunan" jelas Bunda.


"Bunda yakin kamu tidak bermasalah, apalagi melihat riwayat dari Dokter bahwa kamu sehat-sehat saja" ucap nya lagi.


Zahra hanya diam dalam pelukan Bunda Ray, ia menatap sang Bunda dengan sendu.


"Pulanglah, Bunda tau kamu pasti rindu pada kedua orangtua mu. Temui mereka dan katakan pada mereka bahwa kamu sudah sukses dengan hasil kerja keras mereka dulu" ucap Bunda kembali.


Ray diam, ia membiarkan kedua nya untuk berbicara dan bercerita agar hati Zahra tenang.


"Iya Bunda, aku akan pulang" balas Zahra lembut.


Bunda menganggukan kepala dengan tersenyum bahagia, ia mengusap lembut kepala Zahra dan mengecup setiap inci wajah nya.


"Boleh Bunda ikut? Rasanya sudah lama tidak ke Jakarta" ucap Bunda dengan terkekeh.


"Ish Aku tau nih, kalian pasti akan memaksa Ibu dan Bapak agar merestui Ray dan aku" olok Zahra dengan mendelik ke arah Ray.


"Aku sudah tidak bisa lagi menahannya, Zah. Aku takut kehilangan mu" ucap Raymond bersungguh-sungguh.


"Ya Allah, apa memang aku harus menerima Ray dan hidup berumah tangga kembali?" batin Zahra dengan gelisah.


"Setelah aku pulang, aku membicarakannnya pada kedua orangtua ku. Insya Allah aku akan secepatnya memberimu kabar" balas Zahra lembut.


Ray langsung tersenyum lebar, meski hati nya merasa gelisah karena takut akan penolakan dari Zahra.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2