
Ibu Jeni lalu mengambil tisue dan memberikannya pada Zahra.
Ia meringis saat melihat dada Zahra agak merah karena bubur itu.
"Bu, tolong air minum sama obat nya dong" ucap Zahra sopan.
"Ini, sayang" balas Ibu Jeni dengan memberikan nampan tersebut pada Zahra.
Zahra lalu meminum obat nya dengan segera, setelah itu Zahra memberikannya lagi pada sang Ibu mertua.
"Sudahlah Mas, aku tidak apa. Aku ingin istirahat dulu" ucap Zahra pada Wendi.
"Zah, bukannya kamu tadi sudah istirahat?" tanya Wendi dengan sedikit tak suka karena Zahra seolah menghindari nya.
"Baiklah aku tidak akan istirahat, sekarang kamu mau aku apa, Mas?" tanya Zahra yang kembali bersandar di ranjang.
Ibu Jeni dan sang Suami undur diri terlebih dulu , mereka akan pergi keluar karena mereka tau bahwa Zahra dan Wendi perlu bicara berdua.
Sedangkan Fera, ia sudah lebih dulu keluar sejak tadi karena akan mengerjakan tugas kelompok.
"Zah, kenapa kamu seolah menghidari Mas?" tanya Wendi menatap Zahra tajam.
"Aku tidak menghindar, aku hanya takut terlalu bergantung padamu karena itu aku selalu melakukan nya sendiri, karena apa? Karena kamu juga sudah mulai membuatku mandiri" jawab Zahra santai.
"Kamu bukan Zahra yang aku kenal" ucap Wendi menggelengkan kepala.
"Dan kamu juga bukan Wendi yang aku kenal, Wendi yang aku kenal itu bukan ini, dia itu selalu menjagaku, mengantar jika aku ingin sesuatu dan ia juga tidak meninggalkan aku dalam keadaan malam hari" balas Zahra dengan tenang.
"Mas, apa kamu tidak merasakan kehidupan rumah tangga kita hambar?" tanya Zahra.
"Ya memang hambar, apalagi kamu belum juga kunjung hamil" jawab Wendi tanpa rasa bersalah dan ketus.
"Aku harus apa agar aku hamil? Apa aku harus operasi? Apa aku harus meminta Dokter menyuntikan apapun jenis obat agar aku hamil sekarang?" tanya Zahra dengan dada naik turun.
"Kamu tau kan Mas, aku sudah periksa ke Dokter mana-mana dan hasil nya sama bahwa aku sehat dan subur. Aku di suruh kesana kesini aku turuti karena aku juga ingin segera punya anak, tapi apa Mas? Aku masih belum juga di percaya" ucap Zahra kembali dengan sesak.
Zahra menatap Wendi dengan perasaan yang campur aduk, ia merasa sangat tersudutkan dengan ucapannya.
"Sekarang kita di Rumah sakit, sana kamu panggil Dokter kandungan untuk membuat aku hamil, atau perlu kah aku menyewa pria lain agar aku cepat hamil" ucap nya lagi dengan penuh emosi dan sesak dada nya.
"Zahraaaaa, jaga ucapan mu" bentak Wendi dengan lantang.
Air mata Zahra langsung luruh saat mendengar bentakan sang Suami, ia tidak percaya bahwa Wendi akan membentak nya dengan kasar.
"Hiks, lalu aku harus apa Mas? Aku juga ingin hamil dan punya anak. Bukan hanya kamu yang ingin, aku juga ingin" teriak Zahra dengan frustasi.
"Maafkan aku, sayang" ucap Wendi dengan menyesal.
"Kau tahu Mas? Aku sakit, aku rapuh dan aku juga cengeng. Aku tidak setegar yang terlihat, apalagi mereka selalu menanyakan anak anak dan anak. Aku juga ingin hamil dan punya anak, tetapi Allah belum menghendaki nya" teriak nya lagi dengan air mata yang sudah banjir di kedua pipi nya.
__ADS_1
"Hiks hiks hiks, aku sakit Mas" ucapnya lagi dengan lirih.
"Aargghh sakit" erang Zahra dengan memegang kepala nya yang sangat pusing.
"Zah, kamu kenapa sayang" ucap Wendi dengan panik.
Bugh.
Zahra tidak sadarkan diri, Wendi langsung saja menekan tombol tanda untuk memanggil Dokter.
Ia terus menepuk pipi Zahra agar ia sadar, tetapi nihil karena Zahra tetap saja memejamkan mata nya.
Brak.
Pintu terbuka dan masuklah Dokter bersamaan dengan kedua orangtua Wendi.
Dokter langsung memeriksa Zahra setelah di rebahkan oleh Wendi.
"Pak, saya tadi sudah bilang bahwa Ibu Zahra harus istirahat. Kenapa dia jadi seperti tertekan dan stres begini?" tanya Dokter.
Wendi menunduk, ia diam tanpa bisa menjawab pertanyaan dari Dokter.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Wendi lirih.
"Dia stres dan tertekan" jawab Dokter sedikit kesal.
"Kalian tunggu saja di luar dan jangan ada yang masuk dulu , biarkan pasien istirahat" ucap Dokter kembali dengan mempersilahkan Wendi dan kedua orangtua nya keluar.
"Sebenarnya apa yang terjadi pada Zahra, Wen?" tanya Ayah Beni.
Wendi menceritakan semua nya yang ia bicarakam dengan Zahra tanpa ada yang di tutupi sama sekali.
Ia sedikit terisak sambil bercerita pada kedua orangtua nya.
"Aku menyesal Ayah" ucap Wendi dengan menunduk.
"Sudahlah, semua nya juga sudah terjadi" timpal Ibu Jeni cuek.
"Biarkan saja dia istirahat, kita juga pulang saja dan istirahat" ucap Ibu Jeni dengan bangun dari duduk nya.
"Ya kalian istirahat saja, biar aku yang menjaga Adikku sendiri" balas Doni dengan datar.
Deg.
"A abang" ucap Wendi.
Bugh.
"Aku baru meninggalkan mu baru saja bersama Adikku, tetapi kamu sudah membuat nya hampir gila" bentak Doni dengan meninju keras wajah Wendi.
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini" bentak nya lagi dengan murka.
Ayah Beni langsung saja membawa Wendi dari sana bersama dengan Istri nya.
Mereka sedikit takut kalau Doni akan mengamuk kembali disana dan menyiksa Wendi.
"Ayah, aku akan menjaga Istriku" ronta Wendi dengan melepaskan tangannya dari sang Ayah.
"Zahra tidak butuh kamu, pergilah dengan ke egoisan kalian semua" bentak Doni kembali.
Wendi menggelengkan kepala nya, ia menangis saat sang Ayah membawa nya dengan paksa.
Menyesal, itulah yang di rasakan oleh Wendi sekarang.
Setelah kepergian Wendi, Doni meninju dinding Rumah sakit dengan keras.
Ia terisak saat tahu sang Adik yang mengalami stres ringan akibat ulah Suami nya.
"Aku tidak akan memaafkan kalian, kalian yang membuat Adikku begini" gumamnya dengan emosi.
Doni sangat takut kalau-kalau kejiwaan sang Adik terganggu, ia tidak ingin Adik nya tersiksa dengan semua ini tetapi ia juga tidak tahu harus bagaimana, karena Doni tahu bahwa Zahra sangat mencintai Wendi.
"Arrgghhhh tidak tidak" teriak Zahra dari dalam ruangan.
Doni sangat kaget dan langsung masuk, ia melihat Zahra yang menangis dengan terus membuat kegaduhan bahkan infus nya pun sudah ia copot.
"Zahra" teriak Doni dengan kaget
Doni langsung memeluk Zahra agar tenang, ia lalu menyuruh perawat agar memanggil Dokter.
"Aku juga ingin anak, anak anak" teriak Zahra histeris.
"Aku bukan tidak ingin anak"
"Anak dimana anak aku"
"Ahahaha aku hamil Mas aku hamil"
Zahra terus saja meracau tidak jelas, ia bahkan mengacak tambut nya dan teriak histeris.
Doni terus saja memeluk nya agar Zahra tidak melukai dirinya sendiri.
"Kenapa kamu jadi begini, Dek" ucap Doni dengan terisak.
Hingga tak lama kemudian Dokter datang dan langsung menyuntik Zahra dengan obat penenang.
.
.
__ADS_1
.