Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 73


__ADS_3

Tepat jam makan siang, Daddy dan Mommy Amelia pun datang untuk menjenguk Wendi.


Mereka menghela nafas kasar saat melihat Wendi yang tak ada perubahan sama sekali.


"Apa selanjutnya yang akan kamu lakukan, Amel?" tanya sang Daddy.


Amel menatap Daddy nya dengan mengerutkan kening nya, ia tidak mengerti apapun tentang pertanyaan sang Daddy.


"Aku tidak akan melakukan apapun Dadd, memang nya kenapa?" tanya balik Amelia.


"Mending kamu tinggalkan Wendi saja, dia akan merepotkan mu kelak" ucap Mommy nya tanpa perasaan.


Deg.


"Tidak akan Mom, apapun keadaan Wendi aku akan tetap bersama nya dan tak akan meninggalkannya" balas Amelia dengan tegas dan menggelengkan kepala nya kuat.


"Tapi, jika kamu bersama dengan dia masa depan mu akan berantakan, Amel. Pertama kau tidak mendapatkan keturunan dan kedua kau akan di repotkan oleh Wendi karena ia lumpuh" jelas sang Daddy.


Amel menggelengkan kepala nya dengan mundur dari hadapan orangtua nya.


"Maaf Mom, Dadd, aku akan tetap memilih bersama dengan Mas Wendi apapun keadaan dan resiko nya" tegas Amelia.


Daddy dan Mommy nya langsung saja pergi dari sana, mereka merasa kecewa karena Putri nya memilih bertahan meski mereka menyuruh meninggalkannya.


Sementara disana, Amelia menundukan kepala nya dan terisak dalam diam. Dia tidak menyangka bahwa kedua orangtua nya akan menyuruh dia untuk melepaskan pria yang sangat dia cintai.

__ADS_1


"Apapun alasannya, aku akan tetap bersama mu, Mas" ucap Amelia dengan memegang erat lengan Wendi.


"Aku mohon, bangunlah Mas" ucap nya lagi dengan terisak sambil memeluk tubuh Wendi.


Amelia terisak di pelukan sang Suami, ia menangis disana dengan memikirkan nasib nya tetapi ia tidak pernah menyesal sama sekali.


Hingga pintu terbuka dan munculah kedua mertua nya dengan membawa makanan serta ganti untuk Amelia.


"Amel, kamu kenapa Nak?" tanya Ibu dengan cepat menghampiri sang menantu.


Amel melepaskan pelukannya dari Wendi dan memeluk Ibu mertua nya erat.


"Hiks hiks, Ibu" tangis Amelia pecah kembali di pelukan sang mertua.


Ayah dan Ibu yang tak tau apapun hanya bisa diam dan menunggu Amel tenang lebih dulu.


Setelah merasa tenang, Amel menceritakan semua nya pada kedua mertua nya. Dia bercerita hingga mengeluarkan air mata yang membuat hati Ibu Wendi meringis.


"Apa dulu Zahra juga begini? Tetapi beda nya Zahra wanita kuat. Maafkan aku Zahra, aku sudah sangat berdosa padamu, Nak" batin Ibu Jeni dengan menyesal.


**


-Paris


Saat ini di gedung tempat berlangsung nya event sudah banyak sekali orang. Setiap perusahaan memang mengirimkan salah satu karyawan terbaik nya.

__ADS_1


Tetapi hanya ada 5 orang saja yang terpilih dan termasuk dengan Zahra, dia terpilih dan akan mengikuti tahap terakhir hari ini dan esok.


Hampir 3 malam terakhir, Zahra bergadang demi membuat desain yanga kan dia tunjukan hari ini, bahkan Raymond pun ikut serta bergadang walau hanya menemani saja.


Zahra masuk dengan di dampingi oleh Ray dan Irwan selaku atasan di perusahaanya.


Sedangkan yang lainnya hanya menunggu di tempat yang sudah di sediakan.


"Tenang dan fokuslah, keberhasilan ada di depan mata mu, semangat" ucap Raymond dengan lembut.


Zahra menganggukan kepala nya, ia akan semangat demi cita-cita nya membuat semua orang bangga pada dirinya.


"Semangat, saya yakin anda pasti akan menang, Nona" ucap Irwan dengan tersenyum.


"Terimakasih" balas Zahra.


"Aku pergi dulu" pamit nya pada mereka berdua.


Zahra langsung pergi ke depan untuk bergabung dengan yang lainnya.


Zahra terus saja melangkah dengan pasti, bahkan ia tidak memperdulikan setiap lirikan yang dia dapatkan.


Sesampai nya di meja dan kursi yang sudah di sediakan, Zahra langsung duduk saja dan menunggu intruksi dari panitia.


.

__ADS_1


.


__ADS_2