Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 22


__ADS_3

Hari berganti bulan , kini sudah genap kepergian Zahra selama 7 bulan.


Tidak ada yang tahu dimana keberadaan Zahra sebenarnya, hanya Dokter Key dan Suami nya saja.


Semua nya telah berubah, Ibu yang sering sakit karena memikirkan Zahra dan Aeni yang sudah mulai bekerja di salah satu Restoran dekat dengan Rumah mereka.


Kehidupan mereka memang terbilang sudah layak karena Doni yang menjabat sebagai ketua Divisi pemasaran pun gajih nya lumayan besar.


Hingga weekend ini mereka akan berencana berkumpul dan makan siang bersama di Restoran yang lumayan mewah, karena hari ini Doni mendapatkan bonus yang besar dari sang Bos.


Ibu dan Bapak pun sudah bersiap, hanya tinggal menunggu Aeni saja yang memang baru pulang bekerja tadi pagi karena bagian sift malam.


"Ayo Bu, Pak. Maaf lama ya" ucap Aeni dengan tak enak.


"Tidak apa, Nak. Ayo" balas Bapak dengan lembut


Mereka lalu keluar Rumah, tak lupa juga Aeni mengunci dengan benar.


Doni sudah menunggu mereka di Restoran tersebut dengan seseorang yang kata nya spesial.


Aeni menjalankan mobil milik mereka yang memang sengaja di beli buat bepergian, ia langsung menuju ke Restoran yang terletak nya di dekat perusahaan Abang nya, Doni.


"Nak, apa tidak ada kabar dari Kakak mu?" tanya Ibu dengan lirih.


"Kita sabar ya, Buk. Semoga Kakak cepat kembali dan berkumpul bersama kita lagi. Ibu berdo'a saja agar hati Kakak luluh dan pulang" jawab Aeni dengan tersenyum pada sang Ibu.


Ibu hanya mengangguk, sedangkan Bapak yang duduk di belakang hanya bisa menghela nafas kasar saja.


Sudah 7 bulan berlalu tetapi Putri nya tidak kunjung menampakan diri ataupun memberitahu dimana ia berada.


Hening.


Selama perjalanan , keadaan sangat hening dan mereka berada dalam pikirannya masing-masing.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di Restoran tersebut.


"Ayo Bu, Pak" ucap Aeni dengan tersenyum.


Kedua nya hanya menganggukan kepala saja, setelah keluar dari mobil mereka langsung menuju ke ruangan yang sudah di pesang sang Abang.


Aeni menanyakannya pada pelayan dan setelah nya mereka di antarkan ke belakang Restoran. Disana ada Taman dan kolam ikan yang sangat indah.


"Ah itu Abang mu" ucao Ibu sambil menunjuk Doni yang melambai.


Mereka langsung menghampiri Doni, mereka tidak tahu siapa wanita yang ada bersama dengan Doni.


"Dokter Ana" panggil Aeni dan Ibu.


"Iya Bu, Dek" balas Dokter Ana dengan sopan dan malu-malu.


"Ekhemm, apa ini calon mantu Ibu?" tanya Aeni dengan menggoda sang Abang.


"Iyaa, ayo duduk dulu" jawab Doni dengan santai.


Sebelum menceritakan semua nya, Doni memesan makanan untuk mereka dan mereka akan makan siang terlebih dulu.

__ADS_1


"Kenapa Ibu semakin terlihat kurus?" tanya Dokter Ana bingung.


Semua nya hanya saling pandang dan diam, mereka sama-sama menghela nafas kasar.


"Ibu sering sakit-sakitan akhir ini karena memikirkan Zahra yang sampai saat ini belum juga ada kabar nya dan kita juga sering mencari nya tetapi nihil" jawab Aeni dengan mengusap lembut tangan sang Ibu.


Deg.


Dokter Ana memang tidak tahu bahwa Zahra hilang, ia baru saja kembali dari Desa terpencil untuk menjadi relawan disana.


"Kenapa Mas tidak memberitahu aku bahwa Zahra hilang?" tanya Dokter Ana pada Doni.


"Mas tidak ingin kau terganggu disana, Mas ingin kau fokus menjadi relawan tanpa kendala apapun" jawab Doni lembut.


"Sudahlah Nak, kita hanya perlu mencari Zahra kembali saja" lerai sang Bapak.


"Apa tidak ada jejak sama sekali?" tanya Dokter Ana.


Mereka semua menggelengkan kepala dengan sempurna, Dokter Ana sudah mencurigai satu orang.


"Aku tahu siapa yang membantu Zahra, meski ini hanya tebakan saja tetapi aku sangat yakin" ucap Dokter Ana.


"Siapa Nak?" tanya Ibu dengan berbinar.


"Dokter Key dan Suami nya" jawab Dokter Ana.


"Kita makan dulu, setelah itu kita pergi ke Rumah nya Dokter Key" ucap Dokter Ana dengan cepat.


Mereka menganggukan kepala dengan bahagia, lalu mereka menyantap makan siang dengan tenang. Mereka sudah sangat ingin bertemu dengan Dokter Key dan berharap memang dia tahu akan keberadaan Zahra.


Tetapi saat di pintu keluar, Aeni tertabrak oleh seseorang hingga jatuh ke lantai.


Bruk.


"Aeni" panggil Ibu dengan kaget.


"Ish jalan yang benar dong Tuan" kesal Aeni dan bangun dari duduk nya.


Lelaki tersebut pun menghentikan langkah nya dan berbalik badan pada mereka.


Deg.


"Bapak, Ibu" gumam Wendi dengan lirih.


"Wendi" ucap mereka dengan terkejut.


Ck.


Aeni berdecak kesal, ia masih sangat membenci Wendi karena dia penyebab sang Kakak pergi.


"Sayang, kenapa kamu malah disini?" ucap seorang wanita yang ada di belakang Wendi.


Doni langsubg tersenyum kecut saat mendengar itu, ia tidak menyangka bahwa Wendi akan secepat itu melupakan sang Adik, bahkan Adiknya pun sampai saat ini belum ketemu.


"Ayo Bu" ajak Doni dengan cepat.

__ADS_1


Lalu mereka pergi dari hadapan Wendi, bahkan Ibu Aminah menatap Wendi dengan perasaan yang sangat kecewa terlihat jelas dari raut wajah dan sorot mata nya.


Wendi mematung disana, ia tidak menyangka bahwa akan bertemu kembali dengan mantan keluarga mertua nya.


"Apa Zahra sudah ketemu?" gumam nya dengan lirih.


Tetapi ia langsung tersadar saat wanita di belakang nya menepuk pundak nya, lalu mereka berdua pergi dari restoran tersebut.


Sebelum Wendi naik ke dalam mobil, ia sempat mendengar pembicaraan keluarga Zahra, yang mana itu membuat nya sangat gelisah.


"Jadi Zahra belum di temukan juga" batin Wendi dengan lirih.


Wendi terus saja melamun di sepanjang jalan, ia tidak menanggapi ucapan wanita di samping nya dan hanya terus melamunkan kenyataan bahwa Zahra belum di temukan sama sekali.


Wendi mengira Zahra sudah di temukan dan sudah hidup bahagia, tetapi semuanya salah.


Zahra belum juga di temukan setelah beberapa bulan lama nya.


Sedangkan keluarga Zahra sudah sampai di kediaman Dokter Key, mereka langsung saja keluar dari dalam mobil.


"Semoga saja mereka ada di dalam" ucap Dokter Ana.


Doni menganggukan kepala, ia mengetuk pintu Rumah tersebut.


Dan tak lama kemudian keluarlah pelayan yang ada disana.


"Bi, ada Key?" tanya Ana dengan ramah.


"Ohh ada Nona, ayo masuk" ajak pelayan tersebut.


Ana dan yang lainnya langsung masuk dan duduk di ruang tamu, mereka menunggu Key dan Suami nya.


"Ana" panggil Key dengan terkejut.


"Hai Key" balas Ana dengan memeluk Key sebentar.


Key menatap yang lainnya, ia cukup terkejut dengan semua ini.


"Ada apa ini" batinnya dengan gelisah.


"Dokter Key, apa kami boleh bertanya?" tanya Bapak Tora.


"Boleh Pak" jawab Key.


"Dimana Zahra?" tanya Ibu Aminah dengan sendu.


Deg.


Deg.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2