Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 52


__ADS_3

Sore hari nya, Zahra , Bunda dan Citra baru saja tiba di Desa tempat tinggal Bunda dahulu.


Di desa tersebut benar-benar Desa dan pedalaman , bahkan di huni oleh beberapa penduduk saja dan mereka adalah mayoritas anak buah Raymond.


"Ahhhhh segar sekali" ucap Zahra yang baru saja keluar dari dalam mobil.


"Benar sekali Mbak, ini sangat segar dan juga sejuk sekali" timpal Citra tersenyum.


Bunda membiarkan kedua nya berada di halaman depan , ia masuk bersama dengan anak buah Ray membawa barang-barang.


"Bunda, aku sama Mbak Zahra mau ke danau di belakang ya" pamit Citra.


"Gak mau istirahat dulu?" tanya Bunda.


"Disana saja istirahat nya, karena disana juga ada pondok kan" jawab Citra sambil membawa minuman.


Bunda menganggukan kepala, ia lalu mengizinkan anak dan menantu nya untuk pergi.


Zahra dan Citra langsung saja ke danau buatan yang ada pondok serta kursi disana.


"Apa kamu sudah lama tahu tempat ini?" tanya Zahra pada Citra.


"Enggak Mbak, aku kesini hanya kalau di perusahaan dan ada masalah yang mengancam keselamatan kami. Seperti saat dulu dimana Mbak Intan mengkhianati Kak Ray" jawab Citra sambil duduk di kursi yang ada di sana.


Zahra pun ikut serta duduk disana, ia menatap lurus ke arah danau yang indah itu.


"Mbak, seandainya kalau Kak Ray jatuh miskin apa Mbak akan tetap bersama dia?" tanya Citra pelan.


"Citra, kau tahu kehidupan Mbak dulu bersama dengan mantan Suami Mbak itu jauh dari kata layak, kami benar-benar membangun semua nya dari Nol dan sampai saat dia diberi jabatan tinggi kami merasa bersyukur" jawab Zahra dengan menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Mbak tidak masalah jika Ray jatuh miskin ataupun tidak punya apa-apa, asalkan kita bersama dan kita bisa membangun nya kembali bersama. Justru Mbak yang takut dengan kondisi Mbak sendiri" ucap Zahra menunduk.


Citra tanggap, ia tahu bagaimana cerita sang Kakak ipar jauh sebelum Ray dan Zahra menikah.


"Mbak, masalah keturunan memang itu yang menjadi goyangan di setiap rumah tangga. Tapi aku yakin, Mbak akan punya Anak kok dan meskipun tidak punya mungkin Allah punya rencana lain untuk kalian" ucap Citra lembut.


"Kami tidak masalah Mbak, yang terpenting kalian bahagia , rukun dan damai pun itu sudah kebahagian bagi Bunda dan Citra" ucap nya lagi dengan tersenyum.


Zahra ikut tersenyum, ia memegang tangan Citra dengan lembut.


"Mbak akan selalu bersama dengan Kakak mu, karena dia selalu membuat Mbak merasa nyaman, aman dan di perhatikan. Dan entah berapa lama kita harus berjauhan seperti ini yang mana membuat Mbak sangat resah" balas Zahra dengan tertawa kecil.


"Bukan hanya Mbak, aku pun sama dong" ucap Citra dengan ikut tertawa kecil.


Mereka lalu tertawa renyah bersama, Citra begitu senang akhir nya bisa mendapatkan Kakak ipar yang sangat hangat.


Begitu pun dengan Zahra, ia juga senang karena ia juga bisa mendapatkan Adik ipar serasa Adik sendiri.


Citra tidak menyinggung soal Anak ataupun kehamilan, ia tidak ingin membuat sang Kakak sakit hati mendengar nya.


Hingga langit mengeluarkan warna jingga nya mereka baru menyelesaikan pembicaraan nya.


Zahra mengajak Citra untuk masuk karena hari sudah mau malam.


Kegiatan mereka ternyata di saksikan oleh sang Bunda, yang mana membuat senyum Bunda tersenyum lebar karena melihat ke dua nya akur.


*


Zahra dan Citra memutuskan untuk memasak untuk makan malam, mereka akan memasak menu sederhana khas Indonesia.

__ADS_1


Citra yang akan menyiapkan camilan, dan Zahra yang akan memasak.


"Bunda bantu apa nih?" tanya Bunda yang datang ke dapur.


"Bunda duduk saja, tunggu makanan matang setelah itu kita makan dan selesai makan kita bersantai di teras belakang" jawab Zahra dengan lembut dan tersenyum.


Bunda menganggukan kepala nya, ia lalu duduk di kursi makan yang ada disana.


Ia melihat bagaimana lihai nya Zahra dalam memasak dan cekatannya Citra dalam membuat camilan.


Mereka tidak hanya bertiga disana, mereka berlima bersama dengan anak buah Ray yang berjaga.


Bahkan Ray pun mengirimkan beberapa anak buah lainnya agar mereka mengawasi dan menjaga ketiga wanita nya.


Setelah 1 jam berkutat dengan alat tempur di dapur, Zahra dan Citra pun selesai dengan aksi nya.


Zahra menata masakannya dan Citra memberikan pada penjaga di depan.


"Hemm wangi sekali, Nak" ucap Bunda dengan tergiur.


"Ayo kita makan" ajak Citra dengan terkekeh.


Mereka lalu mengangguk, Zahra mengambilkan makanan untuk sang Bunda setelah itu untuknya sendiri.


Lalu mereka makan malam dengan lahap dan juga hening, mereka menikmata masakan Zahra yang lezat.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2