
Ray menidurkan Zahra dengan lembut, selepas menangis dengan puas, Zahra langsung terlelap di pelukan Raymond.
"Kau wanita tangguh , kuat dan ceria sayang. Jadi, kau akan kuat menghadapi semua ini dan kamu juga tidak sendirian, ada kami yang akan mendukung dan disisi mu selalu" bisik Raymond dengan lembut di telinga Zahra.
***
-Indonesia.
Siang ini, Keluarga Zahra sudah siap dengan semua keperluan dan juga koper yang ada di depan Rumah. Bahkan Aeni juga sudah bersiap dengan membawa koper kecil nya.
Mereka akan langsung ke Rumah Doni dan setelah nya akan ke Bandara bersama.
"Ayo Bu, Pak" ucap Aeni dengan membawa kunci mobil nya.
"Iya Nak" balas Bapak.
Lalu ketiga nya langsung masuk ke dalam mobil, lalu setelah nya Aeni melajukan mobil dengan kecepatan sedang.
"Bagaimana keadaan Zahra sekarang, aku sangat mengkhawatirkannya, Pak" ucap Ibu dengan lirih.
"Ibu tenang ya, kita akan segera bertemu dengan Kak Zahra" bujuk Aeni dengan lembut.
Sejak tahu kondisi Zahra sejak pagi tadi, Ibu terus saja tak tenang bahkan ia juga menangis dengan tersedu-sedu karena memikirkan Putri nya.
"Bu, kita ingat pesan Raymond tadi pagi agar kita tidak boleh membeberkan masalah ini pada siapapun" ucap Bapak dengan lembut.
Ibu menganggukan kepala nya, ia juga takut masalah ini akan sampai di telinga keluarga Wendi dan mereka akan memberikan beban pada pikiran Zahra.
"Kita akan memberikan suport pada Kakak disana, Bu. Aku yakin dia akan kuat dan tegar, Ibu sendiri tau bukan bahwa Kak Zahra itu wanita kuat" ucap Aeni dengan tersenyum.
"Iya Nak, Ibu akan tinggal disana selama Kakak mu masa pemulihan" putus Ibu dengan yakin.
"Iya Bapak juga, aku akan bersama Abang dan Mbak Ana saja disini" balas Aeni terkekeh.
__ADS_1
Ibu dan Bapak tersenyum, mereka sedikit lega saat satu sama lainnya saling menguatkan dan memberi semangat.
Hingga tak berselang lama mereka sampai di kediaman Doni dan Ana.
Mereka akan berangkat nanti malam karena pesawat pribadi Raymond belum siap jadi mereka akan menunggu di Rumah Doni.
"Ibu, Bapak" sapa Ana dengan langsung menyalami nya dan memeluk nya.
"Ayo masuk dulu" ajak Doni dengan cepat.
Seketika mereka langsung mengangguk dan berjalan ke dalam Rumah.
Ana memeluk sang mertua dengan lembut, ia tahu pasti bahwa Ibu mertua nya ini sedang hancur dan sedih.
"Bagaimana keadaan kamu, Nak?" tanya Ibu yang memang mendengar bahwa Ana sakit.
Ana menatap Doni dengan meminta persetujuannya, dan Doni pun langsung menganggukan kepala nya.
"Woah selamat ya, Mbak" pekik Aeni dengan bahagia.
Ibu dan Bapak pun tersenyum bahagia meski tersirah rasa sakit di wajah nya.
"Ibu dan yang lainnya, Ana mohon jangan beritahu dulu Zahra tentang kabar ini. Ana ingin dia fokus pada event nya" mohon Ana dengan memelas.
"Tapi dia akan kecewa jika kita menyembunyikannya, Nak" ucap Bapak lembut.
"Hanya sementara saja, Pak. Sampai event itu selesai" bujuk Ana memohon.
"Baiklah Nak, kita akan tutup mulut dan setelah acara itu selesai, Ibu mohon agar kita tidak menutupi apapun pada Zahra" ucap Ibu dengan pasrah dan tegas.
Ana menganggukan kepala nya dengan tersenyum, ia lalu memeluk sang Ibu dengan lembut.
"Ana janji Bu, setelah selesai event kita akan memberitahu nya langsung" balas Ana lembut.
__ADS_1
Doni mengusap lembut kepala Ana, ia juga tak ingin membuat sang Adik terpikirkan dan mengganggu konsentrasi nya saat event.
"Ibu dan Bapak istirahat saja dulu, masih ada waktu 1 jam sebelum kita ke Bandara" ucap Doni dengan lembut.
Bapak mengangguk, ia lalu membawa Istri nya masuk ke kamar yang memang sudah disediakan oelh Ana dan Doni setiap kali ia berkunjung kemari.
"Bang, Mbak" panggil Aeni pelan.
"Kepana, Dek?" tanya Ana lembut.
"Ibu dan Bapak memutuskan untuk menetap bersama Kak Zahra selama Kak Zahra masa pemulihan, jadi bolehkah aku tinggal disini?" ucap Aeni menundukan kepala nya.
Dia bukan tidak berani tinggal sendirian di Rumah, tetapi ia tidak ingin Ibu dan Bapak khawatir karena ia tak ada teman.
"Boleh Dek, itu malah bagus dong" balas Doni tersenyum.
"Iya Dek, karena UI kan dekat dari sini" timpal Ana dengan mengelus lembut kepala Aeni.
Aeni langsung menatap ke dua nya dan tersenyum lega.
"Terimakasih, Abang, Mbak" ucap Aeni dengaj bahagia.
"Iya sayang, kamu fokus saja belajar ya jangan ikut mikirin apa-apa" balas Ana lembut.
"Siap Mbak" ucap Aeni dengan terkekeh geli.
Ana dan Doni langsung saja tertawa karena tingkah Aeni yang selalu membuat mereka tertawa lucu.
.
.
.
__ADS_1