Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 60


__ADS_3

Matahari menampakan sinar nya dengan begitu cerah dan hangat. Bahkan sinar tersebut mampu membuat kedua manusia yang sedang terlelap mengerjapkan mata nya kembali.


"Hemm jam berapa sekarang" gumam Zahra yang memang setelah subuh kembali tidur karena cukup lelah.


Zahra melangkah ke kamar mandi, ia akan membersihkan tubuh nya terlebih dulu.


Sedangkan Ray sudah bangun dan pergi ke ruang keluarga yang dimana disana sudah ada sepupu nya Irwan yang seorang Dokter kandungan.


Di ruang keluarga, Ray menyuruh Citra untuk memanggil sang Istri di atas.


"Bagaimana jika memang Istri mu bersalah, Bang?" tanya Rena dengan segala kemungkinannya.


"Aku akan tetap bersama nya dan tak akan meninggalkannya" jawab Raymond dengan tegas.


"Kak Rayyyyyu" teriak Citra dari lantai atas.


Ray, Irwan, Rena dan Bunda langsung berdiri karena kaget dengan teriakan Citra.


Lalu mereka langsung menghampiri Citra yang terus saja berteriak di lantai atas.


"Ada apa, Cit?" tanya Ray setelah mereka masuk ke dalam kamar nya.


"Mbak Zahra pingsan di kamar mandi" ucap Citra dengan membawa Ray ke kamar mandi.


Deg.


Raymond langsung saja berlari ke kamar mandi, ia terkejut saat melihat istri nya yang masih memakai piyama tidur nya sedang tergeletak di lantai.


"Sayang" panggil Ray dengan panik.


"Ray bawa keluar dan rebahkan di atas ranjang" ucap Bunda yang sama panik nya seperti yang lainnya.


Raymond menggendong Zahra, ia lalu membawa nya ke ranjang dan merebahkannya disana.


Rena langsung saja memeriksa nya, ia memeriksa denyut nadi dan yang lainnya.


"Bagaimana Ren?" tanya Raymond dengan khawatir.


"Seperti nya harus di bawa ke Rumah sakit untuk pemeriksaan yang menyeluruh" jawab Rena dengan cepat.

__ADS_1


"Kita ke Rumah sakit jalan belakang saja dan langsung ke ruangan khusus keluarga saja" usul Irwan saat melihat wajah Ray yang bingung.


Ray dan yang lainnya langsung saja mengangguk, Rena langsung menghubungi Suami nya yang memang kepala Rumah sakit di HospitalLangit.


Mereka langsung saja membawa Zahra ke Rumah sakit dengan cepat.


Irwan melajukan mobil nya dengan kencang karena memang hari sudah siang dan pengguna jalan terlihat tidak padat.


"Bertahanlah" bisik Ray dengan lembut dan terus memeluk Zahra.


"Kenapa ini semua tiba-tiba padahal semalam Mbak Zahra baik-baik saja" ucap Citra dengan menatap wajah pucat sang Kakak ipar.


Bunda juga terus saja mengusap lembut wajah menantu nya yang terlihat pucat, ia tidak tega melihatnya.


Hingga tak berselang lama mereka sampai di jalan pintas Rumah Sakit.


Ray langsung saja menuju ke jalan yang menghubungkan mereka ke ruangan khusus yang mana disana sudah menunggu beberapa perawat dan juga Dokter.


Ting.


Ceklek.


Irwan membuka pintu rahasia yang menghubungkan ruangan tersebut.


"Tuan" sapa Suami Rena dengan sopan.


Ray hanya mengangguk dan menyuruh mereka segera memeriksa Zahra.


Semua perawat yang ada disana hanya perawat yang handal serta anak buah Ray, mereka juga merangkap menjadi mata-mata disana untuk menjaga Rumah sakit.


Rena dan Suami nya langsungs aja memeriksa Zahra yang belum juga sadarkan diri.


Sedangkan yang lainnya menunggu dengan harap cemas di luar ruangan tersebut.


***


-Indonesia.


Di Rumah Ibu Aminah, entah kenapa perasaan Bapak dan Ibu sangat tidak karuan. Mereka merasakan sesak di dada nya dan juga pikirannya yang mendadak kalut.

__ADS_1


"Ada apa ini" gumam Bapak dengan memegang dada nya yang berdetak dengan kencang.


Bapak lalu menghampiri sang Istri yang sedang duduk di teras depan Rumah bersama dengan Aeni.


"Bu" panggil Bapak lirih.


Ibu Aminah langsung menatap Bapak yang duduk di dekat nya.


Aeni pun menatap mereka dengan heran karena melihat wajah Bapak dan Ibu nya yang seperti menahan sesuatu.


"Bapak dan Ibu kenapa?" tanya Aeni dengan cemas.


"Entah kenapa perasaan Ibu tidak enak, bahkan rasanya dada Ibu sesak dan pikiran Ibu pun sangat kalut" jawab Ibu Aminah dengan lirih.


"Bapak mun merasakan hal yang sama" timpal Bapak dengan pelan.


"Mungkin kalian hanya lelah saja Bu, Pak. Ayo kita masuk hari sudah malam" ucap Aeni lembut.


Keduanya hanya menganggukan kepala saja, Aeni terus saja membuat sang Bapak dan Ibu lupa akan perasaan tak enak nya.


Mereka menonton televisi dengan sedikit candaan yang Aeni lontarkan, bahkan Aeni bercerita ini dan itu pada sang Ibu.


"Nak, coba tanyakan pada Abang dan Kakak mu apa mereka baik-baik saja" ucap Ibu.


Aeni langsung menganggukan kepala nya, ia lalu mengambil ponsel nya dan menelpon sang Abang.


Setelah mendapatkan jawaban ia mematikan panggilan nya.


Lalu ia menelpon Zahra dan tidak ada jawaban sama sekali, bahkan Aeni sampai mencoba nya beberapa kali.


"Kata Abang mereka baik-baik saja, Bu" ucap Aeni pada sang Ibu.


"Kalau Kak Zahra gak di angkat ponsel nya, mungkin ia masih kerja Bu" ucapnya lagi.


"Yasudah , nanti telepon lagi Kakak mu ya" pinta Bapak dengan cepat


Aeni mengangguk patuh, lalu Ibu dan Aeni pergi ke dapur untuk memasak makan malam buat mereka bertiga.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2