
Para tetangga Wendi pun semakin ramai untuk bergosip dan berdalih melihat kondisi Wendi yang katanya kecelakaan.
Tetapi Ayah dan Ibu Wendi melarangnya karena Wendi sedang istirahat bersama dengan Amelia.
Bahkan Ibu Wendi pun terlihat menahan amarah karena ia tahu bahwa tetangga nya hanya ingin mengolok nya bukan menjenguk Putra nya.
"Ck, kalian sombong sekali sih" gerutu salah satu dari Ibu-ibu disana.
"Bukannya sombong Bu, tapi maaf sekali karena Putra saya sedang istirahat" ucap Ayah Beni berusaha sabar dan lembut.
"Yasudah ayo ibu-ibu kita pulang saja, mungkin mereka tidak mau kita do'akan untuk kesembuhan Wendi yang lumpuh itu" balas salah satu dari mereka dengan menatap sinis pada Ayah dan Ibu Wendi.
"Iya ayo, udah sombong , terus terlihat baik lagi padahal dulu nya sangat menginginkan Zahra pergi dari keluarga mereka" timpal yang lainnya.
Ibu Jeni mengepalkan tangan, ia berusaha sabar apalagi terlihat di wajah nya yang sudah memerah karena menahan emosi.
Sebelum masuk, Ibu dan Ayah Wendi di kejutkan dengan ucapan dari salah satu tetangga nya.
__ADS_1
"Mungkin itu karma untuk kalian karena sudah menyakiti Zahra, apa mungkin juga Wendi yang bermasalah dalam keturunan" celetuk tetangga nya dengan lantang.
"Bisa jadi tuh, Bu. Makannya jadi orang itu harus pandai bersyukur jangan menuntut sempurna saja" timpal yang lainnya.
Deg.
Deg.
Jantung Ibu Jeni berpacu dengan cepat, ia merasa sesak di dada nya setelah mendengar ucapan tetangga nya. Bahkan mata nya sampai berkaca-kaca.
"Jangan dengarkan mereka, Bu" ucap Ayah Beni dengan mengusap lembut pundak Ibu Jeni.
"Apa benar ya Yah, ini adalah karma untuk kita setelah kita menyakiti Zahra?" tanya Ibu Jeni dengan suara lirih.
Ayah menghela nafas panjang, ia menyuruh Istri nya untuk duduk terlebih dulu.
"Ya mungkin ini teguran untuk kita, karena kita terus saja menuntut Zahra mempunyai keturunan, padahal kita sendiri juga tahu bahwa kita hanyalah manusia biasa" jawab Ayah Beni menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"Kita tidak tahu bahwa kita sendirilah yang mempunyai masalah, bahkan kita menolak menjenguk Zahra saat dia di Rsj" ucap nya lagi dengan menundukan kepala nya.
"Dan tanpa kalian sadari, kalian sudah membuang Mbak Zahra sejak pertama kali dia belum juga hamil. Aku salut padanya, dia bertahan hanya demi rasa cinta dan sayang, sampai akhir nya dia pura-pura gila" timpal Amelia dengan melangkah mendekati mertua nya.
Amelia duduk di hadapan keduanya, ia bisa melihat wajah yang sedang di liputi rasa bersalah yang mendalam.
"Andai saja yang di posisi itu adalah aku, aku akan meninggalkan Putra kalian sejak awal pindah ke Rumah kalian. Apa kalian tidak berpikir tentang perasaan Mbak Zahra?" ucap nya lagi dengan menatap kedua mata mertua wanita nya.
"Lalu kenapa kamu masih setia disisi Wendi setelah tahu semua kekurangannya?" tanya Ibu Jeni dengan ketus.
"Karena aku dan Mas Wendi tidak akan tinggal disini dan aku juga akan merawatnya sendirian tanpa bergantung pada kalian. Karena aku tak mau kalau Mas Wendi sampai meninggalkan aku sama seperti pada Mbak Zahra" jawab Amelia tersenyum.
"Ternyata Ibu masih saja belum sadar akan kesalahan Ibu, pantas saja kalian tidak pernah tenang" sindir Amelia.
Saat Ibu akan bicara ia di hentikan langsung oleh sang Suami, dan Ibu hanya bisa pasrah saja.
.
__ADS_1
.
.