
Tepat jam 09 malam pesawat yang membawa keluarga Zahra pun sudah lepas landas dari Bandara Internasional Soekarni-Hatta.
Ibu terus saja berharap cemas akan keadaan Zahra yang memang ia belum mendapatkan kabar yang lainnya lagi sejak kemarin.
Aeni dan yang lainnya terus saja membujuk Ibu agar tidak terlalu cemas dan mereka takut akan kesehatan sang Ibu.
"Nyonya, anda istirahat saja di kamar karena perjalanan masih jauh" ucap salah satu anak buah Raymond.
"Terimakasih, Paman" balas Aeni dengan tersenyum.
Aeni dan Ana lalu membawa sang Ibu ke kamar untuk istirahat, begitupun dengan kedua wanita cantik itu yang akan istirahat juga.
Sedangkan Bapak dan Doni masih duduk di kursi dengan nyamannya, mereka membiarkan para wanita untuk istirahat terlebih dulu.
Perjalanan panjang itu mereka lewatkan dengan tidur, mengobrol dan bercandaan. Aeni selalu menghibur kedua orangtua nya agar tidak terlalu sedih dengan memikirkan Zahra.
***
Sedangkan di Rumah sakit Hospital Langit, Zahra baru saja mengerjapkan mata nya.
Ia merasakan samping nya kosong, setelah membuka mata nya ia melihat kesekeliling dan memang ternyata tak ada Raymond.
"Kemana Mas Ray" gumam Zahra dengan mencoba mengambil minum di atas nakas.
Ceklek.
"Sayang" panggil Raymond saat membuka pintu ruangan sang Istri.
Zahra menghentikan kegiatan nya, ia menatap Ray dengan tersenyum.
"Mau minum?" tanya Ray lembut.
Zahra menganggykan kepala nya dengan pelan. Ray tersenyum dan langsung memberikan air minum pada Zahra.
"Mas dari mana?" tanya Zahra saat selesai minum.
"Mas habis bertemu dengan Irwan di depan sayang" jawab Raymond lembut.
Dan Zahra hanya manggut-manggut saja, lalu ia meminta bantuan Ray untuk duduk.
Setelah di rasa nya nyaman, Zahra menghela nafas kasar dan menatap Ray dengan sendu.
"Percayalah, semua nya akan baik-baik saja" ucap Ray dengan mengusap lembut pipi Zahra.
__ADS_1
"Tapi aku aku takut Bunda akan berubah padaku, Mas" lirih Zahra dengan menunduk.
Ceklek.
Pintu ruangan terbuka dan masuklah Bunda serta Citra dengan membawa pakaian ganti dan makanan untuk mereka berdua.
"Bunda" panggil Zahra dengan lirih.
"Kamu kenapa sayang? Kenapa menangis hem?" tanya Bunda dengan segera menghampiri sang menantu.
Zahra langsung memeluk sang mertua dengan erat, ia menangis kembali di pelukan sang mertua sangat pilu.
"Zahra sudah tahu semua nya" ucap Ray saat melihat sorot mata sang Bunda dan Adik.
Citra menghela nafas, ia mendekat dan memeluk Kakak ipar nya dengan hangat.
"Ma maafkan aku Bunda, hiks" lirih Zahra dengan terus saja terisak.
"Tidak ada yang salah sama sekali, Nak. Kita hadapi bersama-sama, Putri Bunda kan hebat" balas Bunda dengan lembut.
"Apa yang di katakan oleh Bunda benar, Mbak. Mbak tidak sendirian kok, masih ada kami dan yang lainnya, bahkan kami akan selalu bersama Mbak" timpal Citra lembut.
Zahra diam saja, hanya terdengar tangisan yang sesegukan saja dari mulut nya.
"Nak, Bunda mohon kuat dan sabarlah untuk menghadapi ini semua nya. Apalagi kamu akan menghadapi event yang sangat kamu tunggu" ucap Bunda sambil mengusap lembut punggung Zahra.
Cup.
Ray mengecup pucuk kepala Zahra setelah mereka melapaskan pelukannya.
"Kau Istri hebat ku dan Anak-anak kita akan bangga pada mu kelak, sayang" ucap Ray dengan lembut.
Bunda dan Citra kompak menganggukan kepala nya, lalu mereka tersenyum lega saat Zahra sudah lebih tenang.
*Tok
Tok*
"Masuk" ucap Citra.
Ceklek.
"Selamat pagi" sapa Rena dengan ramah pada mereka.
__ADS_1
"Pagi Ren, mau meriksa Zahra?" tanya Bunda.
Rena menganggukan kepala nya, ia lalu berjalan menghampiri Zahra.
"Bagaimana keadaan mu, Mbak? Apa ada yang sakit?" tanya Rena lembut.
"Tidak ada , hanya saja perutku masih ngilu mungkin bekas operasi" jawab Zahra dengan tersenyum ramah.
Rena tersenyum, ia lalu mulai memeriksa Zahra dengan sangat telaten.
Bunda dan yang lainnya hanya menyingkir saja dan menatap Zahra yang sedang di periksa.
"Bagaimana?" tanya Raymond.
"Semua nya baik, hanya tinggal masa pemulihan saja dan menunggu bekas operasi nya kering. Nanti aku akan kirimkan obat untuk mempercepat pemulihannya" jawab Rena dengan meletakan alat periksa nya dalam tas.
"Syukurlah" ucap mereka.
"Meski lama tapi aku yakin penyakitnya tidak akan datang lagi kok, dan Mbak Zahra harus menjaga kesehatan serta istirahat yang cukup ya semasa pemulihan" jelas Rena kembali.
"Baik Dokter" balas Zahra patuh.
"Jangan patah semangat, Mbak yakinlah bahwa yang memberi penyakit adalah sang pencipta dan ia juga yang akan memberi kesehatannya, aku hanya pelantara saja" ucap Rena tersenyum.
Zahra mengangguk, ia akan semangat karena di sisi nya banyak yang memberikan suport dan semagat untuk nya.
Dia tidak akan membuat mereka kecewa karena dia yang tak semangat dan putus asa.
Setelah selesai memeriksa Zahra, Rena kembali pamit pada mereka.
Dan Ray pun ikut serta pamit karena akan ke perusahaan sebentar untuk meeting dan ketika selesai ia akan langsung pulang ke Rumah sakit.
Zahra memberikan izin pada Ray karena disana ada Bunda dan Citra yang menemani nya.
"Hati-hati di jalan Mas" ucap Zahra dengan lembut.
Cup.
Ray mengecup kening Zahra, setelah nya ia menganggukan kepala dan pergi dari sana.
Tak lupa Ray juga berpamitan pada Bunda dan sang Adik.
.
__ADS_1
.
.