
5 bulan pun berlalu, semua nya nampak biasa saja dan baik-baik saja. Bahkan Zahra pun sudah di nyatakan sembuh dari sakit nya.
Ibu dan Bapak pulang kembali ke tanah air, mereka mengkhawatirkan keadan Aeni dan juga Ana yang sedang hamil besar.
Untuk Zahra sendiri, ia sudah pindah kembali ke mansion pribadi Suami nya 1 minggu yang lalu.
Dan selama ini Zahra bekerja dari mansion, tidak ada yang tahu keberadaannya sama sekali, kecuali orang-orang tertentu.
Seperti saat ini, Zahra sedang menggambar mansion pesanan klien dari sang Suami, Raymond.
"Selesai" gumam Zahra meletakan hasil nya di atas nakas ruang kerja Raymond.
Setelah di rasa cukup, Zahra pun pergi ke ruang keluarga untuk bersantai karena jam makan siang pun masih lama.
Namun langkah nya terhenti saat melihat keluar jendela disana seperti ada orang mencurigakan.
"Siapa dia" ucap nya dengan mendekati kaca
Terlihat seorang pria yang sedang mengendap-ngendap melihat sekitar dan juga waspada. Dia terus saja melihat ke dalam mansion.
Zahra mengambil ponsel nya, ia menelpon kaki tangan Raymond yang sedang berada di bawah.
"Masuk ke ruangan kerja, Mas Raymond" ucap Zahra saat panggilan terhubung.
Lalu Zahra meletakannya kembali, ia duduk di kursi kerja Ray. Kemudian ia membuka CCTV yang terhubung pada laptop tersebut.
Tok Tok
"Masuk" ucap Zahra.
__ADS_1
Ceklek.
"Kemarilah, dan lihat ini" ucap Zahra sambil memberikan laptop pada pria tersebut.
"Berano sekali dia" gumam pria tersebut.
"Cepat urus dia Baim, karena kalau sampai Tuan mu tahu kau dalam bahaya" ucap Zahra pada kaki tangan Suami nya.
"Anda jangan cemas Nona, saya akan mengurus penyusup itu dengan sendiri. Dan saya mohon anda jangan keluar dari sini, saya takut ada pengkhianat di mansion ini" ucap Baim dengan tegas.
Zahra mengangguk, ia pun mengunci pintu setelah Baim keluar dari sana.
Zahra hanya memantau nya dari laptop saja, ia takut untuk sekedar keluar dari sana.
"Aku telpon Mas Ray saja" ucap Zahra dengan mengambil ponsel nya.
Tut.
Tut.
Zahra terus saja menelpon Ray, ia cukup takut saat tak ada sang Suami di sisi nya.
Drrtt
Drtt
Ponsel nya bergetar dan tanda panggilan dari Ray bersuara.
"Mas" panggil Zahra dengan sedikit takut.
__ADS_1
"Ada apa sayang, kenapa kamu ketakutan seperti ini?" tanya Ray dengan panik.
"Mas cepat pulang" pinta Zahra dengan cepat.
"Kamu jangan kemana-mana dan tetap disana, oke" ucap Raymond saat mengerti bahwa tidak ada yang beres di mansionnya.
Zahra hanya mengangguk seolah Ray akan tahu, setelah mematikan panggilan dari Raymond ia pun melihat kembali ke laptop.
"Apa dia anak buah dari Niko?" gumam nya dengan menerka-nerka.
"Ish, andai saja bukti nya sudah terkumpul pasti Niko dan antek-antek nya sudah lenyap" gerutu Zahra.
Ya, selama ini Zahra dan Raymond selalu mencaritahu semua permasalahan Niko. Dan semua bukti kejahatan itu belum terkumpul semua, sehingga Raymond masih mengawasi nya saja.
Karena selama ini juga Niko tidak pernah menyentuh nya secara langsung, jadi Ray tidak akan memulai nya duluan.
*
Hingga pada akhir nya Ray dan Irwan pun tiba disana, mereka melihat Baim menyeret seorang pria yang sudah babak belur.
"Tuan" sapa Baim saat melihat Raymond.
"Bawa dia ke ruang bawah tanah dan cari tahu siapa yang menyuruh nya" ucap Raymond dengan dingin.
Baim menganggukan kepala dengan patuh, ia lalu membawa nya ke arah jalan rahasia.
Raymond menyuruh Irwan untuk mengecek CCTV, ia sendiri akan menghampiri Zahra yang ada di ruang kerja nya.
.
__ADS_1
.
.