Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 62


__ADS_3

Drtt Drrtt


Ponsel Zahra terus bergetar , Ray melihat siapa yang memanggilnya. Dan ternyata Aeni yang memanggil nya , bahkan sudah ada panggilan tak terjawab di ponsel Zahra.


"Hallo, Dek" ucap Raymond saat mengangkat panggilan tersebut.


"Kak, dimana Kak Zahra? Ini Ibu dari tadi ingin berbicara pada Kakak" ucap Aeni dengan sopan.


"Tolong berikan ponsel nya pada Ibu, biar Kakak yang berbicara" balas Raymond dengan helaan nafas.


Ray menunggu beberapa saat, lalu setelah ia mendengar suara sang mertua di seberang sana ia menceritakan semua nya.


Tanpa ada yang di tutupi ataupun di kurangi oleh Raymond.


Setelah hampir setengah jam bertelponan dengan sang mertua, Ray mematikan panggilan tersebut karena ingin melihat Zahra.


"Mas" panggil Zahra yang memang sudah sadar.


Ray langsung tersenyum dan cepat-cepat menghampiri ranjang sang Istri.


"Bagaimana keadaan mu? Mana yang sakit?" tanya Ray dengan terus mengecupi pucuk kepala Zahra.


Zahra tersenyum, ia mengusap lembut lengan Raymond yang ada di perut nya.


"Aku tak apa Mas, hanya saja perutku rasanya ngilu" jawab Zahra dengan tersenyum kecil.


Ray mengusap lembut perut Zahra, ia mengecup kening sang Istri dengan dalam nan lembut.


"Mas, ada yang ingin kau ceritakan padaku?" tanya Zahra sambil mengusap lembut pipi sang Suami.


Raymond memejamkan mata dengan helaan nafas kasar. Ia mengerjapkan mata nya dan menatap dalam mata sang Istri.


"Setelah kamu sembuh aku akan ceritakan semua nya, jadi sekarang kau harus sembuh dulu" ucap Raymond dengan lembut.


Zahra mengangguk, meski ia penasaran tetapi dia tetap akan menunggu nya.


Bunda dan Citra mendekat, mereka menatap Zahra dengan lembut dan tersenyum.

__ADS_1


"Cepet sembuh, kan mau ke paris" ucap Bunda dengan terkekeh.


Zahra mengalihkan tatapannya, ia menatap sang Bunda dengan tersenyum manis.


"Iya Bun, untung keberangkatannya di undur jadi aku bisa hadiri deh" balas Zahra dengan antusias.


"Sayang, bagaimana cerita kamu bisa pingsan di kamar mandi, hmm?" tanya Raymond.


"Saat aku ingin mandi, aku merasakan pusing dan perut bawah ku sakit banget rasanya, entah apa yang terjadi lagi karena aku tak mengingat nya" jawab Zahra dengan helaan nafas kasar.


Ray memeluk Zahra kembali, lalu ia duduk di samping sang Istri.


"Nanti saat ke paris, aku juga akan menemani mu sayang" ucap Raymond lembut.


Zahra langsung berbinar, jujur saja ia sangat bahagia saat mendengar Ray akan ikut.


"Benarkah Mas?" tanya Zahra antusias.


"Iya Sayang, nanti kita sekalian akan liburan disana di Villa pribadi Bunda" jawab Bunda dengan tersenyum.


"Wahh terimakasih Bunda, Mas" pekik Zahra dengan bahagia.


"Kenapa sayang?" tanya Raymond panik.


Zahra menggelengkan kepala nya dengan tersenyum lembut pada Ray dan yang lainnya.


"Tidak apa, aku hanya terlalu bahagia tetapi perutku jadi ngilu" jawab Zahra bingung.


Citra menatap sang Kakak ipar dengan sendu, ia lalu berpamitan untuk pulang dulu bersama dengan Irwan dan Bunda.


"Hati-hati Bun, Citra, Irwan" ucap Zahra dengan lembut.


"Cepat sembuh, kita jalan-jalan di paris dengan menghabiskan uang Kak Raymond" balas Citra dengan tertawa kecil.


"Aku akan langsung sembuh mendengar belanja gratis" kekeh Zahra sambil melambaikan tangan pada sang Bunda.


Setelah kepergian Bunda dan Adik nya, Ray ikut merebahkan diri nya di samping Zahra.

__ADS_1


"Tidurlah ini sudah malam sayang" ucap Raymond lembut.


"Mas, apa aku sakit parah?" tanya Zahra dengan merengek.


Ray menghela nafas kasar, ia lalu merebahkan kepala Zahra di atas lengannya sebagai bantalan.


Lalu ia menatap Zahra dengan lembut dan sendu.


"Aku tidak apa jika seandainya aku memang sakit Mas, tapi aku sangat penasaran jika tidak di beritahu" rengek nya lagi dengan memukul dada Raymond pelan.


Ray mengelus kepala Zahra lembut, ia menghembuskan nafas kasar.


Ray menceritakan kepada Zahra dengan lembut, dari kejadian tadi siang hingga kenapa perut nya mengalami sakit dan nyeri.


Deg.


Deg.


Jantung Zahra berpacu dengan cepat, bahkan ia melepaskan pelukannya dari Ray saat tahu ia akan sulit mendapatkan keturunan.


"Hei dengarkan aku sayang, kamu bukan tidak akan mendapatkan keturunan, hanya saja kamu harus mengalami pengobatan yang berturut agar lekas membaik rahimmu" ucap Raymond dengan lembut.


"Hiks maafkan aku Mas, aku aku malah memberimu beban bukan kebahagian" isak tangis Zahra langsung terdengar di ruangan itu.


Ray langsung memeluk nya dan mengecup pucuk kepala Zahra dengan lembut.


"Kita akan melewati nya bersama-sama, aku akan temani kamu untuk melewati dimasa ini sayang, jadi jangan beranggapan kamu ini beban, hmm" ucap Ray dengan tulus.


"Terimakasih Mas, aku aku akan berusaha agar sembuh bersama-mu" balas Zahra dengan memeluk Ray erat.


Zagra terus saja menangis di dalam pelukan Raymond, bahkan ia terisak dengan sangat pilu di telingan sang Suami.


Ray tak kuasa mendengarnya, tetapi ia membiarkan agar Zahra tenang dulu.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2