
Ceklek.
Pintu ruangan pun terbuka, terlihat seorang Dokter keluar dengan membuka masker nya.
"Bagaimana keadaan Putra saya, Dok?" tanya Ayah Beni.
Huhh.
Dokter menghela nafas panjang, ia lalu menatap satu persatu keluarga yang ada di hadapannya.
"Begitu Tuan, kecelakaan ini cukup parah dan membuat korban harus mengalami koma serta kaki nya yang lumpuh" jelas Dokter dengan helaan nafas.
"Karena posisi kaki korban yang terjepit badan mobil sehingga mengakibatkan kelumpuhan di kedua kaki nya" jelas nya lagi
Mereka diam dengan sejuta ke kagetan, bahkan Ibu Jeni langsung terduduk lemas di atas kursi dengan air mata yang menetes.
Begitupun dengan Amelia dan orangtua nya, mereka sangat syok setelah mendengarkan penuturan Dokter.
"Lu lumpuh Dok?" tanya Amelia memastikan.
Dokter mengangguk dengan pasti, ia menatap iba pada keluarga tersebut.
Setelah mengatakan hal tersebut, Dokter undur diri dari sana dan pergi ke ruangannya sendiri.
Hening.
Hanya keheningan yang ada disana, bahkan mereka terdiam dengan pikiran masing-masing dan isak tangis yang bersahutan.
Tidak ada yang beranjak dari sana sama sekali, mereka hanya bisa diam dan terus menangis.
"Bagaimana kita bicara pada Wendi nanti? Kenapa jadi begitu, Mom, Bu" ucap Amelia dengan lirih.
__ADS_1
"Kita bicarakan nanti sama-sama, kamu harus kuat sayang jangan lemah begini" balas Mommy dengan lembut.
Amelia hanya mampu mengangguk saja, ia lalu memeluk Ibu mertua nya yang terus saja diam dengan air mata yang menetes.
***
Jika di Rumah sakit sedang menangisi kondisi Wendi, maka di mansion Raymond mereka sedang tersenyum bahagia.
Keluarga Zahra pun sudah sampai disana sejak tadi, mood Zahra pun langsung baik dan ia tersenyum menyambut keluarga nya.
Mereka saling memeluk dan juga memberikan kekuatan untuk sang Putri, Zahra.
"Mbak Ana" panggil Zahra saat melihat Kakak ipar nya yang sejak tadi muntah-muntah.
Ana dan Doni langsung menatap ke arah Zahra, mereka tersenyum pada Zahra.
"Kenapa, Dek?" tanya Ana dengan lemas.
Ana mengangguk dengan tersenyum di wajah cantik nya, ia tidak ingin menyembunyikannya berlarut.
Ray langsung saja menggenggam tangan Zahra dengan lembut, sedangkan Zahra hanya tersenyum saja pada Raymond.
"Wah aku bakalan punya keponakan dong" ucap Zahra dengan antusias.
"Do'akan aku ya, Mbak. Nanti aku juga akan sembuh dan hamil" ucap nya lagi dengan berbinar.
"Tentu saja, sayang. Kamu akan secepat nya sembuh, jangan putus asa dan terus semangat" balas Ana dengan lembut.
Para orangtua tersenyum melihat wajah Zahra yang tak menunjukan rasa sedih ataupun ingin menangis.
"Putri Bapak itu kuat, kamu akan selalu menjadi wanita terkuat. Jadi, tetaplah hadapi dengan ikhlas dan sabar, sayang." timpal Bapak dengan mengusap lembut kepala Zahra
__ADS_1
"Tentu saja , Pak. Aku mempunyai Suami yang sangat menyayangi ku, punya Adik dan Kakak yang terus mensuport ku dan aku juga punya Bunda, Ibu dan Bapak yang akan mendukung ku" ucap Zahra dengan yakin.
"Aku tidak akan kekurangan semangat sama sekali, Pak. Bahkan aku akan terus semangat untuk sembuh dan meraih cita-cita ku" lanjut Zahra kembali.
Ray dan yang lainnya langsung tersenyum, mereka merasa tenang dan senang saat melihat keyakinan dan semangat di diri Zahra.
"Oh iya, dimana Kak Citra dan Kak Irwan, Kak?" tanya Aeni dengan celingukan.
"Sama seperti Mbak Ana, Citra pun sedang mual muntah karena kehamilannya" jawab Zahra tersenyum.
Ray mengusap lembut lengan sang Istri, ia merasa bangga pada sang Istri.
"Wah jadi kita akan mempunyai 2 keponakan dong, Kak" pekik Aeni dengan tertawa renyah.
"Iya, makannya kamu harus cepat kuliah dan kerja biar punya uang banyak untuk para keponakan mu nanti" ucap Doni dengan penuh godaan.
Aeni langsung diam dan mencebik ke arah sang Abang.
"Lihat saja aku nanti akan kaya raya dan anak Abang, Kak Citra dan Kak Zahra akan terus menempel padaku karena aku banyak uang" balas Aeni dengan gaya sombong nya.
"Heleh , kuliah saja belum masuk anak kecil" olok Doni dengan tertawa
"Ibuuuuu" rengek Aeni pada sang Ibu dengan kesal.
Mereka sontak saja langsung tertawa karena tingkah Doni dan Aeni yang selalu membuat suasana terhibur.
"Terimakasih Ya Allah, kau telah memberiku keluarga yang sangat menyayangi ku" batin Zahra dengan penuh haru sambil menatap wajah keluarga nya.
.
.
__ADS_1
.