
Tepat saat jam makan siang, Ray dan Zahra langsung bergegas ke Restoran X. Irwan sengaja tidak ikut karena ia akan mengurus urusan perusahaan.
Zahra duduk bersama dengan Ray di belakang, sedangkan yang melajukan mobil nya adalah sopir pribadi Ray.
"Zah, semua desain mu sangat memukau dan 1 bulan lagi akan ada event bagi arsitek pemula seperti mu, aku akan mendaftarkan mu saja selebih nya kau berusaha lah" ucap Raymond.
"Event yang akan menjajikan semua kerja keras laku di pasaran dan akan membawa nama kita menDunia?" tanya Zahra dengan antusias.
"Iya, seperti arsitek X yang sudah di akui Dunia akan kehebatannya dalam bidang desain bangunan, tetapi saat ini masih belum ada penggantinya" jawab Ray.
"Aku mau, tolong daftarkan aku. Aku akan berusaha keras untuk itu dan ini akan menjadi hadiah untuk kedua orangtua ku" ucap Zahra dengan berbinar.
Raymond mengangguk, tanpa di suruh pun ia sudah mendaftarkan Zahra.
Ia akan membiarkan Zahra berusaha sendiri tanpa bantuan siapapun , dia hanya akan mengandalkan ke ahliannya sendiri.
"Itu juga akan merupakan kebanggaan bagi ku karena bisa bersanding dengan mu" ucap Raymond yang mana membuat wajah Zahra seketika merona.
Zahra memalingkan wajah nya, ia sangat malu dan jantung nya berdegup dengan kencang.
Sedangkan Ray, ia tersenyum kecil melihat Zahra yang nampak seperti itu.
Tak berselang lama, mereka sampai juga di Restoran X. Ray langsung saja menuju ke ruangan dimana ia akan melakukan pertemuan dengan Doni.
"Kenapa jantungku berdetak kencang begini, ya" batin Zahra sambil memegang dada nya.
Ceklek.
Pintu terbuka dan masuklah mereka berdua ke dalam.
Deg.
Deg.
Zahra tau siapa yang ada di hadapannya meski pria itu membalakangi nya.
Dan wanita yang bersama dengan pria tersebut langsung saja bangun serta membulatkan mata nya.
"Za zahra" ucap Ana dengan lirih.
Doni langsung mengerutkan kening nya, ia lalu membalikan tubuh nya ke belakang.
"Zahra" panggil nya dengan tercekat.
"Abang, Dokter Ana" gumam Zahra.
Zahra lalu menatap Raymond, dan Raymond membalas nya dengan anggukan kepala serta tersenyum pada nya.
__ADS_1
"Abang" panggil Zahra dengan berlari kecil ke arah Doni.
Grep.
Zahra langsung memeluk Doni dengan erat, ia menangis di pelukan sang Abang dengan terisak.
Begitupun dengan Doni, ia juga menumpahkan air mata nya di pelukan itu, antara senang, terharu dan juga ah rasanya sangat sulit untuk di jabarkan.
"Bagaimana kabarmu, Dek? Kenapa kau lama sekali pergi nya" ucap Doni dengan melerai pelukannya.
"Aku baik-baik saja, Bang. Maafkan aku" balas Zahra dengan lirih.
"Kamu tidak salah, sayang. Asalkan kamu baik-baik saja kami tidak akan khawatir, tetapi ini kau pergi tanpa jejak apapun" ucap Doni lembut.
Zahra memeluk kembali Abang nya, rasanya ia lega sekali setelah melihat keluarga nya.
"Khemm bisa kita bahas pekerjaan dulu?" tanya Raymond yang sudah duduk sejak tadi.
"Ish kau mengganggu saja, Tuan" cebik Zahra dengan melepaskan pelukan Doni.
"Dek, gak boleh gitu" tegur Doni dengan tegas.
Zahra hanya diam, lalu ia duduk di sebelah Ana dan memeluk nya sebentar.
"Tidak apa, memang dia selalu begitu" ucap Ray datar.
"Ya ampun Anak ini" batin Doni dengan menggelengkan kepala.
Hingga pembicaraan mereka berakhir juga, Ray mengajak mereka makan siang terlebih dulu sebelum membahas yang lainnya.
"Hmmm, Ray" panggil Zahra dengan lembut.
"Iya iya silahkan, tapi aku akan tetap disini dan tidak akan meninggalkan mu" ucap Raymond seolah tahu bahwa Zahra akan izin untuk tidak ke kantor lagi.
"Bagaimana kalau bicara nya di tempat yang nyaman?" usul Ana.
"Di Rumah kamu saja, Dek" ucap Doni.
Zahra menatap Ray, dan Ray tentu saja akan menganggukan kepala nya.
Interaksi ke dua nya sedari tadi tak lepas dari tatapan Ana dan Doni.
Sejuta pertanyaan yang ada di benak Doni, tetapi ia akan pendam dulu sebelum mereka sampai di Rumah Zahra.
Doni melajukan mobil nya mengikuti mobil mewah milik Raymond.
"Mas, apa mereka ada hubungan?" tanya Ana penasaran.
__ADS_1
"Mas juga tidak tahu, tetapi kedua nya terlihat sangat akrab dan manis" jawab Doni terkekeh.
Ana menepuk lengan Doni dengan gemas, kemudian mereka tertawa kecil.
Mobil mereka memasuki kawasan rumah elit, Doni dan Ana hanya bisa menelan ludah kasar saat lagi dan lagi mereka masuk ke dalam gerbang yang menjulang tinggi.
"Benarkah ini Rumah Zahra, Na?" tanya Doni bingung.
"Aku pun tidak tahu, Mas. Ayo keluar" ajak Ana karena Zahra dan Raymond pun sudah keluar dari dalam mobil nya.
Zahra lalu mengajak mereka masuk, lagi dan lagi Ana dan Doni dibuat terkagum-kagum akan desain Rumah tersebut.
"Ini Rumah hasil kerja keras Zahra" ucap Ray pada keduanya.
"Duduklah dulu, aku dan Zahra ingin membicarakan sesuatu" ucap Ray kembali.
Doni dan Ana pun duduk, mereka menatap Ray dengan bingung dan penasaran.
"Besok, akan ada orang yang menjemput kedua orangtua kalian dan Adik angkat Zahra. Mereka akan di bawa kemari, karena Zahra ingin menunjukan ini semua nya pada kedua orangtua nya" ucap Ray.
"Siapa yang akan menjemput nya?" tanya Doni.
"Anak buah, Ray. Aku akan menetap disini sampai urusan ku selesai, dan setelah nya aku akan kembali lagi ke Indonesia, Bang" jawab Zahra.
"Tapi, jika kalian menikah aku pun akan pulang dulu" goda Zahra pada Abang nya dan Ana.
Zahra menceritakan semua nya, bagaimana dia bisa di titik seperti ini dan juga bagaimana ia bisa sampai kesini.
Zahra juga menceritakan status nya bersama dengan Ray, mereka tidak menjalin kasih tetapi Ray akan menikahi nya dengan secepat mungkin.
Dan Ray, sangat bahagia saat mendengar bahwa Zahra sudah bersedia menikah dengannya.
"Urusan apa sampai kamu akan menunda kepulangan mu?" tanya Doni penasaran.
"Nanti juga kalian akan tahu, cukup do'akan saja agar semua uruasan ku bisa lancar" jawab Zahra dengan lembut.
"Baiklah, pulanglah dulu ke Indonesia karena Abang akan menikah dengan Ana 2 minggu lagi" ucap Doni.
"Dia akan pulang, kalian tenang saja" balas Ray dengan santai.
Doni mengangguk, sedangkan Ana ia sudah merona karena malu saat Zahra mengolok nya lewat tatapan mata.
Lalu mereka kembali berbincang dan Zahra menyuruh Abang serta Dokter Ana untuk menginap disana.
Ray juga merengek ingin menginap, tetapi Doni melarangnya dengan keras karena dia juga akan menginap di Hotel.
.
__ADS_1
.
.