
Dan ternyata benar saja, Ray di buat kesal, pusing dan dongkol oleh Bunda nya.
Bagaimana tidak? Weekend ini dia ingin menghabiskan waktu bersama Zahra eh sekarang sang Bunda malah mengganggu nya.
Bunda membawa Zahra duduk di halaman belakang , mereka bercerita bersama dengan Citra juga.
Ketiga wanita itu terus saja berbincang tanpa memperdulikan Ray sedang uring-uringan.
"Tuan, duduk tenang saja" ucap Irwan dengan santai.
Ray menatap Irwan tajam, ia kesal akan Asisten sekaligus adik ipar nya ini.
"Kenapa kau tidak memberitahu bahwa akan kesini" gerutu Raymond.
"Heh emang lu saja yang di buat rusuh oleh Bunda, gue juga dari subuh noh Bunda udah ngajakin kemari. Ya lu juga harus ngerasain dong" balas Irwan dengan cepat dan santai.
Ray mendengus dengan kesal, ia menatap Irwan dengan malas.
"Ray" panggil Irwan.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Ray saat melihat raut wajah gelisah dari Irwan.
"Bagaimana kalau Citra dan Bunda tinggal disini, aku selalu khawatir kalau meninggalkan mereka meski di tinggal mansion utama juga" jawab Irwan memejamkan mata nya.
"Aku juga berpikiran begitu, apalagi pelayan setia nya sudah Bunda kirim kesini" ucap Ray dengan menghela nafas kasar.
Ray lalu membisikan rencana nya pada Irwan dan Irwan menggangguk dengan setuju.
Irwan dan Ray tahu bagaimana berambisi nya Niko akan membuat Ray hancur, mereka bukan takut akan kehilangan semua nya tetapi mereka takut akan keselamatan ketiga wanita itu dan orang-orang di sekitar nya.
Hampir sore hari, Irwan, Bunda dan Citra berpamitan pada mereka berdua.
Zahra melambaikan tangan saat sang Bunda dan Adik ipar nya masuk ke dalam mobil.
"Senang hemm?" tanya Raymond lembut.
__ADS_1
"Heemm, ayo masuk kembali" jawab Zahra dengan tersenyum.
Zahra izin pergi ke dapur untuk membuat camilan dan Ray pergi ke ruang kerja nya.
Ia akan menghubungi Doni untuk hati-hati dan memperketat keamanan di Rumah serta orangtua, Istri dan Aeni.
Awalnya Doni bingung, tetapi Ray dengan cepat menjelaskannya.
Dan saat itu juga Doni langsung mengerti dan langsung menyuruh anak buah nya menjaga keluarga dan Istri nya.
Ray juga mengirim beberapa anak buah nya yang handal untuk menjaga mertua nya di tanah air beserta keluarga lainnya.
"Mas" panggil Zahra dengan ketukan pintu yang membuyarkan Raymond.
"Masuk saja sayang" ucap Ray dengan sedikit berteriak.
Ceklek.
Zahra masuk dengan membawa makanan ringan dan minumannya, ia menyimpannya di atas meja yang ada di hadapan Ray.
Ray menganggukan kepala nya, ia mengikuti Zahra dan duduk di kursi yang berhadapan dengan sang Istri.
"Jangan terlalu banyak pikiran, kita akan hadapi bersama-sama, Mas" ucap Zahra lembut.
"Iya sayang, Mas juga tidak akan bertindak gegabah karena dengan begitu Niko akan curiga kalau Mas terlihat ikut campur masalah mu. Makannya Mas menyarankan untuk memakai sopir juga" balas Ray tersenyum.
Zahra menganggukan kepala, ia lalu memberikan segelas Teh hangat yang ada di tangannya.
"Setelah proyek ini berhasil di dapatkan oleh kita, maka orang yang membenci kita akan semakin berambisi untuk menghamcurkan kita, bahkan mereka juga bisa saja menjadi sekutu" jelas Zahra.
"Walaupun itu sahabat atau kerabat, kamu harus hati-hati karena kita tidak tahu yang mana teman dan lawan" jelas nya lagi dengan mengusap lengan Ray.
Ray mengecup punggung tangan Zahra, ia tersenyum akan kewaspadaan sang Istri.
"Ya aku tahu itu sayang , makannya aku selalu waspada meskipun itu bersama pengawalku sendiri" ucap Raymond.
__ADS_1
"Itu bagus" balas Zahra.
"Kamu akan aku berikan cuti selama 1 bulan untuk fokus pada event, karena 2 minggu lagi kamu sudah harus bisa menyelesaikan misi dari juri" ucap Ray dengan serius.
Zahra mengangguk, ia memang sudah menerima surat cuti dari HRD. Para karyawan pun mendukung Zahra agar memenangkan event tersebut apalagi mereka tahu kemampuan Zahra.
Event ini memang di adakan secara online dan nanti setelah 3 besar maka ke tiga peserta itu akan di panggil ke Paris untuk babak penentuan.
Zahra benar-benar harus fokus dan ia memutuskan untuk tidak kemana-mana terlebih dulu.
Ray menepuk paha nya, ia menyuruh Zahra untuk duduk disana.
Dengan malu, Zahra pun duduk disana dan langsung memeluk Ray dengan hangat.
"Kamu, Citra dan Bunda akan berlibur di Desa tempat dulu aku dan Bunda tinggal. Sementara waktu kalian akan disana dan kamu juga bisa fokus karena disana pegunungan nan sejuk" ucap Ray dengan lembut.
"Bolehkah aku menolak? Aku ingin disini saja bersama mu Mas" tanya Zahra dengan menatap Ray dari bawah.
Ray mengusap lembut wajah sang Istri, ia juga menatap Zahra dengan lembut.
"Menurut untuk kali ini saja, sayang. Aku ingin kau fokus juga dan banyak ide disana karena udara sejuk nan asri nya" jawab Raymond dengan tersenyum.
"Tapi aku tidak ingin berjauhan dengamu" lirih Zahra sambil memeluk Ray.
"Hanya 2 minggu saja sayang" ucap Ray membalas pelukan Zahra.
Zahra diam, ia menghembuskan nafas nya dengan kasar dan kedua tangan Zahra pun memeluk Ray dengan erat.
"Baiklah Mas, aku akan ikut apa mau mu" balas Zahra dengan patuh.
Ray mengecup pucuk kepala Zahra dengan lembut, ia lega karena Zahra setuju juga.
.
.
__ADS_1
.