Izinkan Aku Pergi

Izinkan Aku Pergi
Bab 17


__ADS_3

Jantung Wendi terasa berhenti berdetak saat ini, semua ucapan yang keluar dari mulut Zahra sangat membuat nya seperti kehilangan kesadaran.


"Apa maksudmu?" tanya Wendi dengan tinggi.


"Aku ingin kita cerai" jawab Zahra dengan menekan kata cerai.


Wendi menggelengkan kepala nya dengan senyuman yang kecut di bibir nya.


"Apa alasan mu ingin berpisah dengan ku, Zah?" tanya Wendi berusaha cukup sabar.


Zahra menatap Wendi dengan sendu, ia sebenarnya masih mencintai pria di hadapan nya ini. Tetapi ia tidak ingin tersakiti kembali dengan memilih bertahan.


"Kau mau tau apa alasan ku?" tanya balik Zahra.


"Baiklah akan aku jawab, dengar kan aku baik-baik Wendi Dirham dan kalian semua yang disini" ucap Zahra dengan lantang dan juga menatap mereka dengan bergantian.


"Alasan aku memilih mengakhiri semua nya adalah, aku sudah lelah berjuang sendiri, aku kalah dengan semua rasa cinta ku hingga aku tak mampu mengutarakan apa mauku, apa keluhanku dan aku menghormati kau Suami ku dan Ibu mertuaku.


Aku hanya ingin di mengerti dimana di saat aku lelah, aku rapuh dan juga sakit? Tapi nyata nya kalian sama sekali tidak peduli padaku! Terlebih lagi kau yang sebagai Suami ku, aku sakit bukannya kau cepat pulang tapi kau malah menuruti ke inginan mu sendiri tanpa peka bahwa aku butuh kamu" jelas Zahra dengan menahan air mata nya.


"Dan kemarin aku mendekam di Rumah sakit jiwa, orangtua mu tidak berkunjung sama sekali pada ku? Apa mereka malu?


Dan kamu sendiri hanya 3 kali dalam seminggu aku disana menengok ku!, Aku berharap kau memang sibuk bekerja nyata nya apa? Kau sibuk bermain dengan hobby itu tanpa memperdulikan aku yang butuh dukungan mu sebagai Suami ku" ucap Zahra yang sudah tidak bisa membendung lagi air mata nya.


Wendi menunduk, ia mengakui semua kesalahan nya dan ia cukup terkejut karena Zahra tau semua yang ia lakukan.


"Kalian tahu? Aku awal nya akan menyerah dan memilih mengakhiri semu hidup ku disana. Karena apa? Karena aku sudah tidak sanggup lagi" jelas Zahra dengan menahan dada nya yang terasa sangat sesak.


Zahra menyeka air mata nya dan menatap Ibu mertua, Ayah mertua , Adik Ipar dan Suami nya bergantian.


"Maaf jika selama aku menjadi bagian keluarga kalian hanya menyusahkan saja, bahkan di umur pernikahan ku dan Wendi yang akan 4 tahun aku sama sekali belum memberi keturunan. Aku hanya manusia biasa yang punya kekurangan dan jauh dari kata sempurna" ucap Zahra menundukan kepala nya dengan terisak.


"Zahra" panggil Wendi nanar.


"Maafkan aku Mas, aku menyerah dan aku memilih pergi. Izinkan aku pergi" ucap Zahra terisak dengan sesak di dada nya.


Setelah mengucapkan hal itu, Zahra pergi dari sana dengan air mata yang terus menerus menetes.


Doni mengejar sang Adik, ia takut Zahra akan berbuat nekad.


Ibu Aminah menghampiri kedua besan dan menantu nya, ia menghela nafas kasar dan memeluk Wendi yang menatap kepergian Zahra nanar.


Setelah itu, Ibu Aminah menatap mereka dengan sendu.


"Nak Wendi, Ibu mohon padamu lepaskanlah Zahra dari semua ini. Ibu ikut sakit dengan apa yang Putri Ibu rasakan" ucap nya dengan lirih.

__ADS_1


Wendi menggelengkan kepala nya, ia berlari dari sana dan mengerjar Zahra yang sudah entah kemana.


Ibu Aminah, menatap kedua besannya kembali dengan tatapan antara kecewa dan sedih.


"Maafkan Putri ku yang tidak bisa memberi kalian Cucu" ucap Ibu Aminah.


Setelah itu, Ibu Aminah , Suami nya dan Aeni pergi dari sana setelah berpamitan pada mereka semua.


Teman-teman Wendi pun ikut berpamitan dari sana pada kedua orangtua Wendi.


Dan disana hanyalah tinggal Kedua orangtua Wendi dan sang Adik, Fera.


**


Sedangkan di jalan, Doni terus mencari Zahra yang entah pergi kemana karena ia kehilangan jejak nya.


"Zahra" teriak Doni dengan menatap kesana kemari.


"Dek, Abang mohon jangan begini. Kembalilah Dek" teriak nya lagi dengan kencang.


Doni kembali menelusuri jalanan yang ada disana, tetapi semua nya nihil karena Zahra tidak ada disana.


Lalu ia menanyakan nya pada warga sekitar dan mereka juga mengatakan tidak tahu.


"Hiks hiks, kamu dimana Dek" ucap nya dengan terisak.


Di belakang sana, Wendi sama mencari Zahra dengan terus berteriak dan menanyakan kepada warga serta tetangga nya.


"Kemari kau laki-laki bajingan" teriak Doni dengan menghampiri Wendi.


Bugh


Bugh


"Kau harus bertanggung jawab hah, setelah kau membuat Adikku sakit dan sekarang kau membuat Adikku pergi entah kemana hahhhh" teriak Doni dengan mengcengkram kedah baju Wendi.


"Apalagi sekarang yang akan kau lakukan hah? Adiku sudah hilang, dia pergi entah kemana karena mu, Wendii" bentak nya lagi dengan mendorong Wendi sekuat tenaga.


Wendi diam saja, ia menerima semua perlakuan Abang ipar nya karena memang ia pantas.


Ia juga menangis saat tahu bahwa Doni pun tidak menemukan Zahra.


"Maafkan aku" ucap Wendi lirih.


"Maaf kau bilang? Setelah apa yang kau lakukan pada Adikku, aku tidak akan memaafkan mu sebelum Zahra di temukan" balas Doni dengan dingin.

__ADS_1


Doni menatap kedua orangtua nya dengan nanar, ia merasa gagal menjaga Zahra.


Ia menyeka air mata nya dan menghampiri Bapak dan Ibu nya, Doni memeluk Ibu nya dengan terisak.


Bu Rt dan tetangga lainnya yang memang sejak tadi melihat itu semua hanya bisa diam, mereka tahu bahwa semua yang di lakukan Wendi dan keluarga nya sangat salah.


Lalu Bu Rt menyuruh salah satu warga untuk memberitahu Ayah Beni, ia takut bahwa Abang nya Zahra akan kalap dan menyiksa Wendi.


Doni masih terisak di pelukan Ibu nya, ia merasa begitu hancur saat tidak menemukan sang Adik.


"Zahra hilang Bu, aku kehilangan jejak nya dan tak tau pergi kemana dia" ucap Doni setelah melepaskan pelukannya.


Deg.


Ibu Aminah menggeleng, ia merasa Dunia nya runtuh dan tak lama kemudian Ibu Aminah jatuh pingsan di pelukan sang Putra.


"Ibuuuu" teriak Doni, Bapak dan Wendi.


Mereka kaget saat Ibu pingsan , Doni langsung saja memberikan Ibu nya pada sang Bapak dan ia mengambil mobil nya.


"Ibuu, maafkan Wendi Bu" ucap Wendi dengan terisak.


"Jangan sentuh Istri saya, Wendi" ucap Bapak Tora dengan tegas saat melihat Wendi yang akan menyuntuh Ibu Aminah.


"Pak, maafkan Wendi Pak. Wendi janji akan membawa Zahra kembali pulang" balas Wendi dengan terisak.


"Tidak perlu, saya akan mengurus perceraian kalian berdua. Biarlah Zahra pergi jauh asalkan dia bahagia" tegas Bapak Tora dan pergi dari sana menuju ke arah mobil Doni.


Setelah kedua nya masuk, Doni langsung saja melajukan mobil nya dengan kecepatan tinggi, ia sangat khawatir dengan keadaan sang Ibu.


"Ibuu, Bapakk maafkan Wendi" teriak Wendi dengan mencoba mengejar mobil tersebut.


"Ahhhh" teriak Wendi dengan geram, sedih dan juga kalut.


Kedua orangtua nya hanya mampu melihat nya dengan sendu, mereka ikut merasakan sakit yang di rasakan oleh Wendi.


Para tetangga di bubarkan oleh Bu Rt dan mereka pergi dari sana dengan mencibir keluarga tersebut.


Bahkan Bu Rt pun ikut pergi dari sana tanpa menyapa ataupun basa-basi pada Wendi dan keluarga nya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2