
Sedangkan di Apartemen Wendi, ia saat ini sedang melamun di balkon kamar nya.
"Aku kira kau sudah kembali ke keluarga mu, Zah. Ternyata kau sama sekali belum kembali" gumam Wendi dengan lirih.
Beberapa bulan ini, Wendi menjalin kasih dengan salah satu teman kerja nya yang ada di Jakarta.
Ya, Wendi sudah bekerja di perusahaan dan tidak bekerja lagi di perkebunan.
Suasana hati Wendi sangat gelisah, ia kembali teringat akan Zahra yang sudah menjadi mantan Istri nya.
Bahkan Wendi mengabaikan panggilan di ponsel nya yang terus berdering.
"Bagaimana kabarmu , Zah? Apa kamu sudah menikah lagi atau masih sendiri? Aku merindukan mu Zah" gumam Wendi dengan menatap langit yang sudah gelap.
Wendi terus saja mengingat bagaimana dulu ia berjuang bersama Zahra, hingga saat dimana ia mengabaikan Zahra demi hobby nya.
Dia juga membuat Zahra menjadi mandiri padahal saat mereka di kampung, Zahra sangat bergantung pada nya dan apa-apa hanya dia.
"Huhh, aku harus mengabari Ayah dan Ibu" gumam nya dengan mengambil ponsel yang ada di meja depan.
Wendi langsung saja mencari kontak sang Ibu dan mengabaikan panggilan tak terjawab dari kekasih nya.
Tut.
Tut.
"Halo, Bu" ucap Wendi.
"Iya Nak, ada apa?" tanya Ibu Jeni.
"Bu, apa Ibu tahu bahwa Zahra sampai saat ini belum di temukan juga? Bahkan dia tidak meninggalkan jejak apapun?" bukannya menjawab, Wendi justru malah bertanya balik.
"Ibu tidak tahu, Nak. Ibu kira mereka sudah menemukan Zahra. Jadi selama 7 bulan ini dia belum juga di temukan" jawab sang Ibu dengan nada sedikit cemas.
"Wendi bertemu dengan keluarga nya dan mereka membahas akan mencari keberadaan Zahra" ucap Wendi dengan helaan nafas lelah.
"Nak, bagaimana keadaan mereka? Ibu masih saja merasa bersalah pada mereka apalagi yang Ibu dengar bahwa Bu Aminah sering sakit-sakitan" balas Ibu Jeni dengan gusar.
"Aku tidak dapat bertegur sapa dengan mereka Bu, aku malu dan aku juga gugup. Apalagi tadi aku bertemu mereka saat sedang bersama Amelia dan aku melihat tatapan kecewa dari Ibu Aminah" ucap Wendi dengan lirih.
Terdengar sang Ibu yang menghembuskan nafas kasar, sedangkan Wendi ia hanya bisa menundukan kepala dengan perasaan bersalah yang kembali bangkit.
"Ayah, Ibu dan Fera akan ke Jakarta besok pagi. Kita temui mereka bersama-sama nanti" ucap Ayah Beni dengan tegas.
"Baik Ayah, kalau begitu Wendi tutup dulu teleponnya" balas Wendi dengan cepat.
Tut.
__ADS_1
Wendi masuk ke dalam kamar nya, ia akan ke Restoran tadi saat bertemu dengan Ibu Aminah dan Keluarga nya.
Siapa tahu ia akan mendapatkan petunjuk disana atau ia juga bisa menemui temannya yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Doni.
Setelah selesai bersiap, Wendi langsung berangkat dari Apartemennya.
Ia langsung saja menuju ke Restoran, tetapi pihak Restoran tidak ada yang tahu. Wendi lalu menemui temannya yang bekerja di perusahaan yang sama dengan Doni.
Dan dari sana ia mendapatkan alamat Rumah Doni, setelah itu Wendi kembali lagi ke Apartemennya untuk Istirahat.
Ponsel Wendi terus saja berdering , ia tahu pasti Amelia yang menelponnya terus menerus.
Saat ini Wendi malas berdebat dengan siapapun, jadi ia memilih membiarkan saja.
Sesampai nya kembali di Apartemen, Wendi langsung masuk dan merebahkan diri nya di atas ranjang.
Ia lalu memejamkan mata nya dan terlelap begitu saja karena lelah.
**
Ke esokan pagi nya, Doni dan Ana berpamitan pada keluarga nya. Mereka memang mengambil jam penerbangan pagi agar besok pagi sampai di penginapan yang sudah di siapkan Doni.
Setelah kepergian Doni dan Ana, yang lainnya masuk ke dalam Rumah kembali dan kebetulan Aeni tidak masuk kerja hari ini.
Mereka duduk di ruang tamu, belum lama mereka duduk pintu depan sudah di ketuk oleh seseorang.
"Lah siapa yang datang jam 06 pagi begini? Mau ikut sarapan pun sudah selesai" celetuk Aeni dengan bangkit dari duduk nya.
Aeni menganggukan kepala, ia lalu melangkah ke pintu depan.
Ceklek.
"Sia a pa?" ucap Aeni dengan terbata.
Lalu ia menatap semua orang yang ada di depannya dengan biasa saja, ia menahan emosi nya dengan cepat.
"Ada apa, Pak, Bu?" tanya Aeni sopan.
"Boleh kami bertemu dengan Ibu Aminah?" tanya balik Ibu Jeni.
Ya yang bertamu adalah Ibu Jeni dan keluarga nya, termasuk ada Wendi dan kekasih nya, Amelia.
"Silahkan masuk" ucap Aeni.
Lalu Aeni membawa sang tamu ke ruang keluarga yang mana disana ada Ibu dan Bapak, Zahra.
"Bu, Pak, ini tamu nya. Saya buat minuman dulu" ucap Aeni dengan tersenyum.
__ADS_1
Ibu mengangguk, lalu ia mempersilahkan mantan besannya untuk duduk terlebih dulu.
"Bagaimana kabar kalian?" tanya Ayah Beni dengan langsung.
"Kabar kami baik-baik saja, Tuan" jawab Bapak Tora sopan.
"Maaf, apa ada hal yang penting sampai kalian jauh-jauh datang kemari?" tanya Ibu Aminah sopan.
Bapak Tora melirik Wendi yang menggenggam tangan Amelia dengan erat, ia hanya menghembuskan nafas nya dengan kasar.
"Begini, Pak. Kami kesini ingin menanyakan kabar Zahra? Apa dia sudah ketemu?" tanya Ayah Beni dengan sedikit hati-hati.
Ibu dan Bapak kompak menggelengkan kepala mereka, mereka tersenyum pada mantan besannya.
"Belum, kami belum menemukan dimana keberadaan Zahra" jawab Bapak Tora.
"Siapa Zahra, apa mantan Istri Mas Wendi?" batin Amelia dengan bertanya-tanya.
"Maafkan kami, kami tidak tahu bahwa Zahra belum ketemu selama ini" ucap Ibu Jeni penuh sesal.
"Tidak apa, ini bukan kesalahan kalian juga kok" balas Ibu Aminah lembut.
Lalu Aeni datang dengan membawa nampan yang berisi makanan ringan dan minuman. Ia menyajikannya di meja yang ada disana.
"Dan kami kesini juga ingin mengatakan sesuatu" ucap Ayah Beni.
Bapak Tora mengangguk sebagai jawabannya.
"2 bulan lagi Wendi akan menikah dengan Amelia, wanita yang ada di samping nya" ucap nya kembali dengan menunjuk wanita di samping Wendi.
Amelia hanya tersenyum kecil saja pada kedua pasangan paruh baya di depannya.
"Kami ikut bahagia mendengar nya, tapi pesan kami hanya satu. Jangan ulangi lagi kesalahan yang sama pada dia" balas Bapak Tora tegas.
"Semoga kalian bahagia dan segera di beri momongan setelah menikah nanti, Nak Wendi, Amelia" ucap Ibu Aminah dengan lembut.
"Terimakasih , Bu" balas Amelia sopan.
Sedangkan Wendi, ia hanya diam saja dengan menundukan kepala nya.
Ia merasa sakit saat melihat tatapan kedua mantan mertua nya.
"*Aku jahat sekali, disaat mereka masih berduka karena Zahra belum kembali dan aku malah akan menikah lagi" batin Wendi dengan sendu.
"Kau sangat keterlaluan Pak, disaat kami masih terluka dengan semua yang menimpa Kak Zahra dan lagi dia belum di temukan sampai saat ini, kau malah akan menikah lagi" batin Aeni dengan menggeram emosi bahkan tangannya sampai terkepal*.
.
__ADS_1
.
.